Program

1.8K 108 211
                                        

Keesokan harinya, Nae mengajak Batz ke rumah sakit. Sebelumnya, Nae sudah menghubungi Jeab, teman sekaligus dokter kandungan terkemuka di negara mereka.

Sesampainya di rumah sakit, BatzNae menuju ruangan Jeab.

"Hai, Nae.. Hai Batz.." sapa Jeab dan mempersilahkan keduanya untuk duduk.

"Hai, Jeab.." sapa BatzNae bersamaan dan duduk di depan meja Jeab.

"Jadi bagaimana?" tanya Nae menatap Jeab. "Hahaha benar-benar menunjukkan sikap seorang pemimpin. Tanpa basa-basi" ucap Jeab menggoda Nae.

"Hahaha kamu tahu aku, Jeab. Jadi gimana nih programnya?" tanya Nae menggenggam tangan kanan Batz di atas pahanya.

"Aku harus melihat kondisi Batz dulu. Kalau bisa, kita lihat dua minggu ke depan setelah aku memberinya beberapa vitamin. Bagaimana?" tanya Jeab menatap BatNae bergantian.

"Kamu tahu yang terbaik, Jeab. Aku percaya padamu" ucap Nae

Jeab menganggukkan kepalanya. "Ayo Batz ikut aku" ucap Jeab menatap Batz.

"Kenapa ga kamu?" tanya Batz menatap Nae. "Kamu serius, baby??" tanya Nae tidak percaya. "Ada masalah?" tanya Batz menggoda Nae.

"Aku ikhlas, b, kamu yang program. Ikhlaaaaasss bangeeeettt" ucap Nae sedikit mendorong Batz mendekati Jeab.

Batz dan Jeab tertawa melihat kelakuan Nae.

Batz mengikuti Nae ke sebuah ruangan sedangkan Nae sibuk dengan email-email cantiknya.

Setelah beberapa waktu, Batz keluar diikuti Jeab di belakangnya dan Nae mulai menaruh hpnya lalu menatap istri dan juga sahabatnya.

"Gimana, Jeab?" tanya Nae dan langsung menggenggam tangan Batz yang tersenyum.

"Rahim Batz bagus. Aku akan memberi beberapa vitamin. Dua minggu lagi kalian bisa kesini. Kalau baik, kita bisa langsung memulainya" ucap Jeab yang membuat wajah Nae berbinar.

Nae mencium punggung tangan Batz dan juga pipi istrinya. Ia sangat bahagia.

"Terima kasih, Jeab. Terima kasih.aku tahu kamu selalu bisa diandalkan" ucap Nae menggenggam tangan Jeab di atas meja.

Jeab mengangguk dan membalas genggaman tangan Nae. "Makasih, sayang" ucap Nae memeluk Batz erat. Batz balik memeluk Nae dengan tak kalah erat.

"Oke, Jeab. Kami pulang dulu. Dua minggu lagi kami kesini. Kalau ada apa-apa, nanti gw hubungin lo ya" ucap Nae yang masih merangkul pundak Batz.

"Siap! Kabarin gw kapanpun" ucap Jeab tersenyum.

BatzNae berdiri dan bersalaman dengan Jeab lalu beranjak untuk pulang.

Selama dua minggu ini, Nae tidak mengambil pekerjaan di luar negaranya. Ia ingin berada di samping sang istri guna mengawasi segala kegiatan Batz.

Setelah dua minggu berlalu, BatzNae kembali ke rumah sakit dan menemui Jeab.

"Azzzeeekkk.. Yuk Batz lanjut" ucap Jeab begitu melihat BatzNae masuk ke dalam ruangannya.

"Jeab.. Lo kenapa ngalay gini deh?" tanya Nae heran. "Gw seneng, Nae, bakalan dapet ponakan kembar. Yuk. Semoga berhasil" ucap Jeab bersemangat.

"Kenapa jadi dia yang semangat, by?" tanya Batz dan dijawab gelengan kepala dari Nae lalu mereka bertiga tertawa.

Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, Jeab yang berjalan di belakang Batz dengan senyum sumringahnya.

Nae yang sudah berdiri langsung merangkul pinggang Batz dan tersenyum melihat ekspresi Jeab.

"Selamat! Berhasil! Bisa nih punya si kembar. Jangan kerja keras, Batz. Dan Nae, jangan 'main' terus" ucap Jeab memberi kutip ke kata main.

Nae menunduk malu dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu Jeab dan Batz tertawa melihat ekspresi Nae.

"Makasi, Jeab. Makasi banget" ucap Nae memeluk Jeab dan dibalas pelukan oleh Jeab.

"Kapan gw kesini lagi?" tanya Nae yang sudah melepas pelukan Jeab dan kembali merangkul pinggang Batz

"Hmm.. Dua minggu lagi lah ya. Batz harus jaga kesehatan. Jangan banyak pikiran. Jangan kerja keras dulu" ucap Jeab menatap Batz sambil tersenyum.

"Siap, Pak Dokter. Makasih banyak ya" ucap Batz memeluk Jeab. Jeab membalas pelukan Batz dan tersenyum.

Lalu BatzNae berpamitan pada Jeab dan kembali ke rumah mereka.

Sesampainya di rumah, BatzNae memeluk Mamah mereka dan juga Fon.

"Batz hamil" ucap Nae bahagia saat ia duduk di samping Mamahnya. "Benar itu, nak?" tanya Mamah Nae menatap Batz. "Iya, Mah. Doakan selalu sehat ya, Mah" ucap Batz mengelus perutnya.

"Pasti, sayang. Pasti. Kamu jangan kerja lagi ya" ucap Mamah dan disetujui oleh semuanya.

"Ga bisa semudah itu, Mah. Aku datang dan masuk baik-baik. Aku juga akan keluar baik-baik. Aku akan menyelesaikan tugasku dulu baru berpamitan" ucap Batz menatap Mamah lalu Nae.

Nae menghela napasnya malas. "Aku suruh orangku membantumu ya" ucap Nae menatap Batz sendu karena ia sudah sangat tahu dengan pasti bahwa Batz akan menolaknya.

"Maaf, sayang.."

"Yayaya.. Aku paham. Selesaikanlah. Tapi jangan sampai membebankan pikiranmu ya" ucap Nae menatap Batz penuh cinta.

"Pasti, sayang. Aku tahu batasanku kok. Kamu jangan khawatir ya" ucap Batz kini duduk di samping Nae. Nae merangkul pinggang Batz dan mengecup bibirnya singkat.

"Mamah mau belanja nih. Kalian mau ikut?" ajak Mamah Nae menatap BatzNae bergantian.

"Aku mah ikut Batz aja, Mah. Gimana, sayang?" tanya Nae menatap Batz. "Aku mau belanja. Kita pergi ramean ya" ucap Batz dan dijawab anggukan oleh Nae.

Setelah bersiap, mereka berangkat dengan dua mobil, satu untuk BatzNae dan satu untuk Mamah Nae, Mamah Batz dan Fon. Serta dua mobil pengawal di depan dan paling belakang dimana berisi empat orang di dalam satu mobil.

"Sayang.. Beneran harus serame ini? Maksudku rame itu bukan 12 pengawalmu gini" ucap Batz menggelengkan kepala.

Di dalam mobil BatzNae terdapat dua pengawal, begitu juga dengan di mobil Mamah.

"Aku bawa semua orang yang ku sayang, ini belum seberapa" ucap Nae mengecup bibir Batz.

"Maksudmu belum seberapa?" tanya Batz bingung dengan pernyataan Nae. "Aku juga mengajak Aom dan Darin untuk belanja bersama dalam rangka merayakan keberhasilan program kita, sayang. Jadiii... Mereka juga naik satu mobil yang ada dua pengawal dan dikawal satu mobil isi empat pengawal" ucap Nae menyeringai.

"Astagaaaaaa Nae Suthattaaaa" ucap Batz menghela napas dan membanting pelan tubuhnya ke kursi mobilnya.

"Loh? Kenapa? Kan aku juga mau membagi kebahagiaan kita pada sahabat tercinta kita" ucap Nae bingung karena ia merasa melakukan hal yang benar.

"Iya. Aku setuju kamu mengajak mereka. Tapi mereka juga pasti kesal dengan keberadaan para pengawalmu" ucap Batz menggelengkan kepalanya.

"Tuh kan.." Batz menunjukkan hpnya pertanda ada panggilan masuk dari Aom.

"Angkat aja" jawab Nae santai dan tersenyum.

"Halo.." sapa Batz begitu ia menekan tombol hijau di layar hpnya.

"Batz.. Nae mana?" tanya Darin yang segera mengambil alih hp Aom.

"Paan?" jawab Nae santai.

"Heh.. Kutu kupret! Gw udah seneng ya denger program kalian berhasil. Ge juga seneng kami diikutsertakan dengan perayaan kalian. Tapi ya ga pake enam pengawal ini berapa ya Nyonya Nae Suthattaaaaa?" kesal Darin dengan suara sedikit meninggi.

"Berisik!" ucap Nae memutuskan sambungannya lalu tertawa.

"Ih.. Jahat" ucap Batz mencubit pelan perut Nae. Nae hanya meringis dan mengecup bibir Batz sementara Darin masih menggerutu di dalam mobil dengan Aom sebagai pendengar setianya.

Ms. CEO (II)Where stories live. Discover now