Mengapa Diam?

2.8K 129 10
                                        

Keesokan harinya, BatzNae memulai liburan mereka dengan berjalan-jalan keliling kota Zurich.

Mereka juga menghabiskan waktu untuk berbelanja. Nae yang sangat posesif, selalu menggandeng tangan Batz ataupun merangkul pinggang Batz.

Hingga sore hari tiba dan mereka sedang berjalan menuju hotel, Batz mendapat telpon dari Fon, kakaknya.

"Halo.."

"..."

"Ada apa?"

"..."

"DIMANA LO SEKARANG?" Teriak Batz tidak peduli dimana mereka berada.

"..."

Bruk.

"Batz.. B.. Sayang.." Ucap Nae memegang tubuh Batz yang tetiba saja pingsan.

Nae membopong tubuh Batz ke hotelnya dengan dibantu beberapa orang yang ada di sana.

Nae langsung menelpon dokter pribadinya setelah mereka sampai di kamarnya.

"Bagaimana, dok?" Ucap Nae panik melihat orang yang sangat dicintainya pingsan begitu saja.

"Gpp. Dia cuma sedikit shock. Bentar lagi juga siuman" ucap dokter tersebut dan berpamitan pulang.

"Baik, dok. Terima kasih" Nae mengantarkan dokter tersebut menuju pintundan segera kembali ke kamar.

Nae mencium kening Batz lalu mengambil ponsel Batz dan melihat siapa yang tadi menelpon Batz.

"Fon?" Gumam Nae. Tanpa berpikir lama, Nae langsung menelpon Fon saat itu juga.

"Halo, kak"

"Halo, Nae. Batz mana?"

"Dia pingsan, kak, pas kakak telpon. Ada apa ya, kak?"

"Mamah.. Nae. Mamah harus operasi lagi"

"Lagi? Operasi? Apaan?" Ucap Nae dengan nada sedikit meninggi. Saat ini Nae berada di balkon kamar sehingga tidak mengganggu Batz.

"Mamah mengidap tumor otak. Sebelumnya, hanya sebelah kanan. Kami juga sudah mengoperasinya. Saat ini, kembali tumbuh dan di sebelah kiri. Beliau harus operasi lagi" ucap Fon yang sudah menangis.

Nae diam seribu bahasa. Tubuhnya lemah hingga terjatuh merosot ke lantai. Ia menangis dalam diam. Matanya sudah berkaca-kaca tak tahu harus berucap apa. Saat ini ia tahu apa penyebab istrinya sampai pingsan. Ini sangat mengejutkan. Bahkan mereka tidak tahu kebenarannya.

"Nae.." Ucap Fon memanggil Nae sudah kesekian kali.

"Iya, kak. Sejak kapan?" Ucap Nae lemas.

"Satu bulan sebelum kalian menikah, Mamah baru mengetahuinya. Dan kami baru mengetahui saat kalian menikah" ucap Fon masih menangis.

"Mengapa kalian diam?" Ucap Nae yang saat ini sudah terdengar isakan tangisnya.

"Mamah yang meminta. Ia tidak ingin membuat kalian khawatir apalagi di hari bahagia kalian"

"Tapi ini sudah sangat lama, kak. Kenapa ga bilang juga?" Ucap Nae kembali dengan nada meninggi.

"Maafkan kami. Datanglah secepat kalian bisa. Kami ada di rumah sakit *** Amerika"

"..."

"Nae.."

"Aku berpamitan padamu kalau akan ke Swiss. Dan kamu tidak mengabariku tentang ini?" Ucap Nae datar sangat kecewa.

"Maafkan aku. Aku harus segera ke ruangan Mamah. Ia sedang diperiksa. Operasinya besok. Datanglah. Kami menunggumu. Maafkan kami. Maafkan aku"

Sambungan dimatikan oleh Fon dan menyisakan Nae yang masih terduduk di lantai dan menangis dengan posisi memeluk lututnya yang ia tekuk.

"Mengapa kami bisa kecolongan sejauh ini? Mengapa aku tidak sadar bahwa Mamah memanglah pucat?" Gumam Nae di sela tangisannya.

Flashback on.

Di rumah Batz saat BatzNae sedang berkunjung untuk menemui keluarga Batz.

Saat itu Batz dan Fon sedang ke pasar membeli bahan makanan, Papah sedang bertemu teman lama dan keluar sebentar, hanya ada Nae dan Mamah di dalam rumah.

"Bagaimana, nak, kamu dan Batz?" Tanya Mamah duduk di samping Nae. "Baik, Mah. Ya meski ada pertengkaran juga hal kecil yang masih bisa kami tangani. Mamah gimana keadaannya?" Tanya Nae yang sedikit khawatir dengan keadaan mertuanya.

"Mamah sehat kok. Kamu kayaknya sibuk banget ya. Batz katanya mau kerja. Udah ijin sama kamu?" Tanya Mamah dan meminum air yang ada di depan mereka.

"Mamah yakin baik-baik aja?" Tanya Nae memastikan. "Iya, Nae. Mamah baik-baik aja. Mamah sehat. Memang kenapa?" Tanya Mamah enggan menatap Nae.

"Mamah pucat. Mamah ga nyembunyiin sesuatu kan dari kami?" Tanya Nae penuh selidik.

"Hahahaha kamu ini. Gak kok. Ini Mamah lagi nyoba pemutih wajah. Berhasil ya" ucap Mamah menatap Nae sebentar dan kembali menonton TV.

Nae masih memperhatikan wajah Mamah dari samping.

"Kalau ada apa-apa, bilang ya, Mah" ucap Nae menggenggam tangan Mamah.

"Iya, sayang. Jangan khawatir" ucap Mamah membalas gengggaman Nae.

Lalu mereka kembali berbincang sambil menonton TV, menunggu BatzFon untuk memasak makan malam.

Namun Nae masih penuh tanda tanya dengan keadaan Mamah.

Flashback off.

"Terjawab sudah keraguanku. Mengapa aku bisa sebodoh ini? Benar-benar payah. Maafkan aku, sayang. Maafkan aku" gumam Nae menaruh wajahnya diantara lututnya.

"Nae.." Suara serak Batz menyadarkan Nae. Nae berdiri dan menghampiri Batz yang sedang mencoba duduk bersandar di kepala kasur mereka.

"Sayang.. Kamu gpp? Gimana keadaan kamu? Apa yang sakit?" Tanya Nae khawatir memegang kedua pipi Batz.

"Nae.. Mamah.." Ucap Batz memeluk Nae dengan tangisannya yang langsung pecah di pundak Nae.

"Iya, sayang. Kita berangkat sekarang ya" ucap Nae dan dijawab anggukan oleh Batz.

Nae segera menelpon pilotnya. Namun mereka tidak bisa berangkat sekarang dikarenakan di luar sedang hujan.

"Sayang.. Di luar sedang hujan. Kita tidak bisa berangkat sekarang. Kita tunggu hujan reda ya" ucap Nae masih mengelus rambut Batz.

"Nae.. Mengapa mereka diam?" Ucap Batz di sela tangisannya. "Mengapa, Nae?" Batz memukul-mukul punggung Nae kecewa.

"Mereka tidak mau kita khawatir, sayang" ucap Nae menenangkan Batz.
"Justru saat ini mereka sangat membuatku khawatir. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau sampai hal buruk terjadi" teriak Batz memeluk erat Nae.

"Sayang.. Tenang ya. Kita tidak boleh berkata yang buruk. Kita seharusnya berdoa untuk kesembuhan Mamah. Sudah ya sayang" ucap Nae mengecup kepala Batz untuk menenangkan.

"Tapi mengapa mereka diam, Nae? Mengapa diam? Mengapa?" Teriak Batz memukul-mukul kepalanya di dada Nae.

"Sayang.. Tenang ya. Sekarang, kita tunggu hujan reda, kita langsung berangkat. Sebelumnya, kita berdoa dulu untuk kesembuhan Mamah. Gimana?" Tanya Nae mencoba melihat wajah Batz.

"Sejak kapan, Nae?" Tanya Batz tanpa menghiraukan ucapan Nae. "Sebulan sebelum kita menikah dan mereka tau saat pernikahan kita" ucap Nae mengelus rambut Batz.

"Mereka jahat, Nae! Mereka diam! Mereka... Arrrgghhh"

Nae yang merasakan tubuh Batz memberat, segera kembali menidurkan Batz. Batz kembali pingsan dan Nae hanya dapat menunggu Batz siuman dan terus berdoa yang terbaik untuk semuanya.

Ms. CEO (II)Where stories live. Discover now