Hari ini, sudah lebih dari satu bulan BatzNae mengobarkan bara cinta hanya di atas ranjang. Selebihnya, mereka bersikap pasangan romantis pada umumnya, tentu saja dengan menggunakan topeng.
Tidak ada kata terlontar kala mereka menghabiskan malam panjang nan panas. Hanya ada desahan, lenguhan dan teriakan nama di puncak.
Setelahnya, mereka akan kembali membungkam mulut, mengelukan lidah bahkan membuang muka.
Sangat harmonis..
.. Menurut Batz..
.. Secara sarkasme.
Malam inipun berjalan seperti malam yang sudah-sudah. Mereka melakukannya berkali-kali.
Bedanya, Nae belum bangun kala Batz sudah terbangun.
Mereka masih berpelukan dengan kepala Batz yang berada di pundak kanan Nae dan tangannya melingkar di pinggang Nae.
Saat Batz membuka mata, ia tersenyum. Hal yang sudah sangat lama baginya melihat wajah Nae kala ia bangun tidur.
Tidak lama kemudian, Nae mengerjabkan matanya dan melihat ke arah Batz yang sedang menatapnya.
Nae mengecup kening Batz lalu mengambil posisi duduk bersandar di kepala ranjang.
Setelah meminum air mineral yang selalu tersedia di atas nakas samping ranjang, Nae melilitkan selimut putih tipis ke badannya dan beranjak ke kamar mandi.
Sedangkan selimut tebalnya masih menyelimuti tubuh polos Batz di atas tempat tidur.
Usai mandi, Nae beranjak ke pinggir ranjang dan memainkan hpnya dengan masih menggunakan kimono mandinya.
Sementara Batz beranjak ke kamar mandi, Nae menggunakan pakaian kantornya.
Setelah rapih, Nae sudah duduk di meja makan dan meminum susu sembari memainkan hpnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Batz memperhatikan penampilan Nae yang sudah sangat rapih.
"Aku akan pergi ke Hawai. Mau ada pembangunan hotel. Cukup lama. Jaga diri dan abang adek" ucap Nae kala Batz sedang mengambilkan Nae sarapan.
"Cukup lama?" Tanya Batz ketika ia sudah duduk dan siap menyuap makannya.
"Iya. Ga bisa dipastiin kapannya" ucap Nae santai sambil mengunyah makanannya.
"Masalah itu gimana?" Tanya Batz ragu. Sungguh ia berharap Nae mengatakan kita batalkan atau anggap tidak pernah ada.
Namun, yang terjadi..
"Kita urus setelah aku pulang" jawab Nae menyudahi makannya.
Jleb!
"M..maksud kamu?" Tanya Batz tidak percaya apa yang diucapkan oleh Nae.
"Bukankah sudah jelas?" Ucap Nae santai. Sesungguhnya ia tengah mengatur emosinya. Bukan itu yang sejujurnya ingin ia ucapkan. Ia ingin Batz mencegahnya. Ia ingin.. Ia ingin.... Arrrggghhh..
"Apa maksud permainan kita setiap malam selama ini?" Tanya Batz mengatur emosinya. Sungguh hatinya sangat sakit mendengar penuturan Nae.
"Kamu menanyakan asal usul dari keusilanku terhadap istriku sendiri?" Tanya Nae menggelengkan kepalanya meremehkan.
"Keusilan??" Sentak Batz tidak percaya. Matanya membulat dengan tangan yang menggenggam sendok garpu secara erat.
"Kamu istriku. Wajarkan kalau kita melakukannya? Masalahnya?" Tanya Nae menatap Batz seolah tidak terjadi apapun.
Batz menggelengkan kepalanya tidak percaya. Air matanya telah membasahi pipi putihnya. Sendok garpu yang tergenggam erat sudah menyakiti tangannya.
Nae memalingkan wajahnya. Ia tidak sanggup melihat wajah Batz. Ia sangat lemah bila mendapati Batz yang tengah menangis.
Keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka demi bahagia Batz akan goyah jika ia menatap sang istri.
Ia hanya ingin Batz bahagia.
"Bukan itu masalahnya. Kamu memperlakukanku seperti boneka seks. Hanya sebagai pemuas nafsumu. KENAPA? APA SALAHKU?!" teriak Batz membanting sendok garpu yang sedang berada di dalam genggamannya.
Nae menghela napasnya kasar. Saat ia hendak menjawab, terdengar suara isakan dari abang adek.
"Jangan berpikiran seperti tadi. Kamu sangat berharga. Aku pergi dulu. Jaga kesehatan kalian" ucap Nae mengecup pucuk kepala Batz dan berjalan menuju pintu utama.
Batz menangis terisak usai kepergian Nae. Ia mengacak rambutnya frustasi. Ia bingung bagaimana menghadapi hatinya setelah ini.
Sangat menyakitkan..
..membingungkan..
..ia tidak tahu.
Setelah mereda tangisnya, Batz beranjak ke arah kamar dan menemui abang adek yang masih menangis.
Seolah mengetahui kekalutan orang tuanya, abang adek tak henti menangis.
Kepala pegawai hanya bisa menghela napas melihat BatzNae yang tadi bersitegang.
Ia berharap ada keajaiban yang membawa kehangatan bagi keduanya dan rumah ini seperti dahulu.
Abang adek tidak berhenti menangis. Batz yang sedang kalut ditambah bingung dengan rengekan kedua anaknya.
Batz menjerit seraya terduduk di lantai. Ia frustasi atas apa yang tengah terjadi.
Di dalam kamar, ia menangis, abang adek juga menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Bukan ini maunya..
.. Sungguh..
.. Jika saja Nae mau memperbaiki semuanya..
.. Ia akan mengikutinya..
.. Sekalipun hatinya sudah sangat sakit..
.. Ia akan tetap mempertahankan semuanya.
Sementara Nae juga tengah menangis di dalam helinya. Sang pilot hanya bisa diam, ia tahu Nae sedang dalam keadaan tidak baik.
Nae beberapa kali menghela napas kasar.
Sejujurnya..
.. Jika saja Batz menjelaskan..
.. Ia akan segera merobek kertas tersebut..
.. Mengapa Batz langsung menyetujui?
.. Jika saja Batz bertanya mengapa, ia akan mempertahankan semuanya..
.. Namun, sepertinya..
.. Batz memang menginginkan hal ini..
.. Nae akan melakukan apapun demi kebahagian Batz..
.. Sekalipun ia harus merelakan hatinya tersakiti..
.. Biarlah sakit ini jadi urusannya sendiri..
.. Asalkan Batz bahagia..
.. Ia rela.
-----
Masih mau baper lagi ga?
Kok gw kesel ya buatnya. Hahaha
Tapi belum mau buat seneng-seneng. Hehehe
Besok lagi ya lanjutnya :D
