Bel tanda masuk belum berbunyi. Kevin cukup bersyukur, paling tidak hari ini ia tak harus merasakan teriknya matahari pagi lagi. Ia sengaja turun pagi agar bisa cepat-cepat bertemu dengan Kinar. Baru kali ini ia merasa ingin cepat bertemu dengan seorang gadis. Dulu, pada mantan-mantannya ia tak pernah bertingkah seperti ini. Ia malah bertingkah seakan tidak sedang berpacaran.
Kinar turun lebih cepat dari Kevin. Padahal saat Kevin turun, kelas masih terlihat sepi dan hanya terlihat Kinar yang sudah duduk manis di kelas sendirian. Kevin tak bisa membayangkan sepagi apa gadis itu turun.
"Pagi Kinar." Ucap Kevin mengulas senyum manisnya.
Kinar tidak menjawab, ia sibuk tenggelam bersama buku Biologi yang saat ini tengah ia baca. Kevin menaruh tasnya, kemudian duduk di samping Kinar. Kevin semakin penasaran dengan gadis ini.
"Lo kenapa sih gak pernah ngomong?" tanya Kevin penasaran.
Lagi-lagi Kinar hanya diam seribu bahasa. Merasa lelah berbicara sendiri, akhirnya Kevin ikut membungkam sambil memandangi putri salju disampingnya. Kinar terlihat cantik hari ini. Rambut yang biasanya ia urai, hari ini terikat rapi dan menyisakan anak-anak rambut di belakang leher serta sisa-sisa poni yang tak bisa terikat karena terlalu pendek.
Bibir merah gadis itu semakin indah terkena paparan sinar mentari pagi. Kevin tidak menyadari kalau teman-teman sekelasnya semakin banyak berdatangan. Alex melangkah duduk di depan tempat duduk Kevin.
"Pagi bro." Ucap Alex menyapa.
"Pagi." Ucap Kevin singkat. Ia tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Kinar.
"Hari ini ada PR gak?" Tanya Alex, membuat pandangan Kevin teralih mengarah ke Alex.
"Gak tahu gue." Ucap Kevin sambil mengangkat bahunya. Tak lama kemudian, Pak Adam masuk ke kelas, meminta anak-anak untuk cepat-cepat mengganti baju seragam dengan baju olahraga. Kevin segera mengambil baju olahraga dari dalam tas ransel hitamnya.
Kevin menengok ke arah Kinar yang tak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya, "Lo gak ikut olahraga?" Tanya Kevin bingung.
Kinar mengambil sketch book dengan sampul berwarna coklat dan terlihat lusuh. Ia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Lo ..." Belum sempat Kevin menyelesaikan ucapannya, Alex tiba-tiba menarik lengannya.
"Cepetan, lo gak mau diamuk sama Pak Adam kan?" Tanya Alex buru-buru.
Kevin keluar kelas, ia masih menoleh kebelakang, ke arah Kinar yang sibuk menggambar sesuatu di sketch book-nya. Sekilas, wajah Kinar yang tenang itu terlihat sedih.
Matanya terlihat begitu sendu.
~~~
Di ruang ganti laki-laki, Alex terlihat sibuk mengobrol dengan Rino, sementara Kevin sibuk bermain dengan pemikirannya sendiri. Kevin membuka baju seragamnya perlahan, tubuhnya yang atletis dan ideal membuat teman-temannya iri.
"Lo rajin nge-gym?" Tanya Rino.
"Gak juga, tapi gue rajin mukulin orang." Ucap Kevin terkekeh.
Mereka terkejut, kemudian ikut tertawa juga. Sebenarnya, mereka sering mendengar isu kalau Kevin ini dipindahkan dari sekolahnya yang lama karena sering berantem. Awalnya mereka takut, tapi setelah mengenal Kevin, ketakutan mereka luntur. Kevin ramah dan friendly, tidak mungkin dia sebandel itu.
"Oh iya, by the way kenapa sih si Kinar gak ikut olahraga? Dia sakit?" Tanya Kevin pada teman-temannya.
Suasana yang rebut itu seketika sunyi senyap saat mendengar nama Kinar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Without Words
Jugendliteratur[COMPLETE, TELAH TERSEDIA DI GRAMEDIA] Seperti kisah romansa remaja pada umumnya, tentang remaja badung bernama Kevin Andreas yang hobi menjahili guru, bolos, berkelahi, dan bergonta-ganti pacar, seketika berubah seratus delapan puluh derajat ketika...
