Happy reading ♡
.
Kalindra memasuki ruangan Diego dengan malas setelah mendapat izin dari sang empunya. Padahal ini jam makan siang. Perut Kalindra sudah keroncongan sejak tadi. Si Bos sialan itu malah ingin melimpahkan pekerjaan lagi untuknya.
"Sial banget sih!" Gerutu Kalindra dengan volume kecil.
"Kita makan siang di sini aja. Tunangan saya mau datang." Seketika, raut wajah Kalindra tampak sungkan. Agaknya dia sudah terlalu sering berburuk sangka pada bosnya itu. Tapi jika dipikir-pikir lagi, agaknya itu bukan salah Kalindra yang terlalu sering berburuk sangka pada Diego. Karena memang gelagat Diego sendiri yang patut untuk dicurigai.
Diego menyodorkan makanan dalam paperbag dengan logo restoran terkenal pada Kalindra. "Kamu gak perlu ngerasa gak enak. Kita nggak akan ngerasa terganggu kok." Ujar Diego yang menangkap isi pikiran Kalindra. Ini juga termasuk ke dalam memo yang diberi Diego - menemani Diego makan siang yang barangkali dilupakan perempuan itu.
Dalam hening mereka menyantap makanan masing-masing. Tidak seperti biasanya. Biasanya akan ada percakapan atau mungkin perdebatan panjang di antara keduanya. Diego hanya diam mengamati Kalindra yang menyantap makanannya seraya memainkan ponsel. Pasti sedang berbalas pesan dengan tunangannya.
"Kalau lagi makan jangan main hp. Makanan kamu bisa dimakan setan ntar." Sindir Diego.
"Iya, kamu setannya." Ketus Kalindra.
"E'hm!" Diego berdeham tegas.
"Eh, maaf, Pak. Saya nggak maksud gitu." Kalindra menyeringai bodoh, kemudian menepuk sisi kepalanya sendiri. Sikapnya seperti itu efek dari rasa jenuhnya menunggu balasan pesan dari Reggy yang terlalu lama. Tidak seperti biasanya.
"Sayang..." Afsha datang dan langsung mengecup pipi Diego. Lalu memeluknya erat.
Kayak enam tahun nggak ketemu aja.
"Sayang, kenapa cewek tengik ini ada di ruang kamu?" Dengan tatapan skeptis Afsha menatap Kalindra yang tidak menggubris kehadirannya.
"Kalin cuma nemanin aku makan siang, Sayang."
"Kamu nggak ngelakuin apa-apa 'kan sama dia?" Diego tersenyum senang mendengar selidikan Afsha, terselip nada cemburu di sana. Jarang-jarang tunangannya itu bersikap posesif padanya.
"Nggak, Sayang. Cuma makan siang biasa." Diego mencium puncak kepala tunangannya itu. Afsha mendelik tajam pada Kalindra yang masih sibuk dengan gawainya.
Diego telah selesai dengan makanannya. Perlahan Afsha naik ke atas pangkuan Diego. Kalindra sebenarnya tidak diam. Sembari memainkan ponselnya, dia menajamkan pendengaran dan mencuri-curi pandang pada dua sejoli menggelikan di hadapan. Hanya saja dia pura-pura acuh. Dengan satu alis yang terangkat, Kalindra menatap Diego yang balas menatapnya kikuk di balik punggung Afsha.
"Sayang, kamu ngapain? Kamu duduk di sini aja." Diego berusaha mendorong tubuh Afsha dari pangkuannya. Tapi Afsha malah mempererat tautan tangannya di leher Diego. Kemudian menyandarkan kepala di bahu Diego.
"Sayang... kapan kamu beliin mobil baru untuk aku?" Pinta Afsha dengan nada manja dan menggoda.
"Secepatnya. Tapi kamu awas dulu. Aku gak enak sama Kalin."
"Anggap aja dia gak ada." Ucap Afsha sinis. Kalindra bangkit dari duduknya, membuat Diego menatapnya takut. Entah mengapa Diego merasa takut Kalindra akan meninggalkannya bersama Afsha. Takut hal yang tidak ia inginkan terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
That CEO
Romance- 𝐓𝐡𝐚𝐭 𝐂𝐄𝐎 - Entah dari mana asal mulanya, Diego bisa menaruh hati pada sekretarisnya yang super galak. Bahkan rasanya Diego bisa memberi wanita itu cap singa betina. Beribu cara Diego kerahkan hanya untuk mendapatkan secuil perhatian seorang...
