Diego menekan digit demi digit sandi apartemen Kalindra. Hingga pintu terbuka, lelaki itu masuk dengan begitu santainya. Ya, tentu dengan cara yang sesantai itu karena ia sudah terbiasa masuk ke dalam apartemen Kalindra layaknya rumah sendiri. Diego membuka jas kerjanya, menyampirkannya pada lengan sofa ruang tengah. Menggulung lengan kemeja, dan segera menuju dapur. Namun sebelum memulai aksinya di dapur, Diego masuk ke dalam kamar Kalindra terlebih dahulu. Sekadar untuk menyingkap tirai gorden dan memberi kecupan selamat pagi di dahi perempuan itu.
"Go..." gumam Kalindra seraya menggosok-gosok matanya dengan punggung tangan. Diego berbalik seraya meletak roti bakar buatannya di atas meja. "Kamu gak masuk?"
"Kalau aku gak kerja aku gak bakal serapi ini."
"Terus ngapain di sini? Bukannya ke kantor." Kalindra bertanya dengan kerutan yang mulai muncul di dahi, abai pada nyawanya yang belum terkumpul seratus persen.
"Kamu ngusir calon suami kamu?" Sungut Diego dengan wajah tertekuk.
"Enggak... bukan gitu." Kalindra mendekat, memeluk Diego erat.
"Euw, bau iler. Mandi sana! Aku siapin yang lain."
"Gak usah sok sibuk." Kalindra melepas pelukannya. Penghidunya menghirup aroma roti bakar buatan Diego yang membuat lapar seketika.
"Aku cuma lagi belajar jadi suami yang baik untuk kamu." Diego mengacak sayang rambut Kalindra yang sedikit berantakan.
"Suami yang baik?" Kalindra bertanya dengan kedua alis terangkat. "Emangnya siapa yang mau nikah sama kamu?"
"Ya kamu lah, Kalindra Novindra. Emangnya siapa lagi?"
"Bukannya calon istri kamu Afsha, ya? Si model seksi super cantik itu." Ledek Kalindra dengan bibir mencebik.
"Kamu!" Diego bersiap mengejar Kalindra dengan mata melotot sangar sebelum perempuan itu berlari lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi setelah puas meledeknya.
"Awas ntar ya!" Ancam Diego.
"Aku gak takut!" Balas Kalindra. Diego tertawa kecil. Dia datang sepagi ini ke apartemen Kalindra hanya untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Juga sebagai ungkapan rasa bersalahnya setelah memaksa Kalindra lembur semalam.
Disela-sela kegiatannya membuat teh untuk ia dan Kalindra, Diego tersenyum geli. Ia merasa bahwa dirinya sudah pantas menjadi seorang suami karena hal ini. Atau, anggap saja Diego sedang belajar menjadi suami yang baik, seperti katanya tadi. Dan yah, semenjak mereka menjalin hubungan, Diego memang lebih sering menghabiskan waktu bersama Kalindra. Dan Diego merasa sangat bahagia karena itu.
.
.
Hari ini Diego dan Kalindra pulang seperti biasa. Tak ada kata lembur. Semua berjalan normal. Mereka hanya akan mendapatkan lembur jika terjadi ketidaknormalan di kantor. Dan kali ini Diego tidak singgah. Dia hanya mengantar Kalindra dan langsung pulang ke rumah. Katanya dia ada janji dengan Shandy, ingin menepati janjinya ke toko buku yang sudah hampir satu bulan terlupakan.
Kalindra menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Memejamkan mata, mencoba beristirahat sejenak.
Beberapa menit kemudian matanya terbuka kembali dan langsung tertuju pada kamar tamu di sebelah kamarnya. Kalindra mendekat pada ruangan itu lantas membukanya. Lampu di dalamnya ia hidupkan. Matanya menelusuri isi kamar itu.
Dulu, tiap kali Reggy menginap di sini, di kamar inilah laki-laki itu tidur. Bahkan aroma parfumnya masih tertinggal di sini. Membuat sebuah senyum getir terbit di bibir Kalindra. Kalindra duduk di tepi ranjang, meraih figura yang ada pada nakas di sebelahnya. Ada fotonya bersama Reggy di kala mereka sedang melangsungkan acara pertunangan dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
That CEO
Romance- 𝐓𝐡𝐚𝐭 𝐂𝐄𝐎 - Entah dari mana asal mulanya, Diego bisa menaruh hati pada sekretarisnya yang super galak. Bahkan rasanya Diego bisa memberi wanita itu cap singa betina. Beribu cara Diego kerahkan hanya untuk mendapatkan secuil perhatian seorang...
