Chapter 16

1.6K 60 9
                                        



◇◇◇


"Aku senang banget hari ini." Diego berjalan bersisian bersama Kalindra melewati koridor sebuah resort terbaik di New York. Senyum cerah keduanya tak pernah pudar sejak keluar dari gazebo yang mengarah pada pantai setelah menyelesaikan rapat kecil di sana.

"Betul, Pak. Saya juga gak nyangka presentasi kita hari ini hasilnya muasin banget. Sembilan puluh lima persen lebih dari ekpektasi." Langkah Diego terhenti, mau tak mau membuat Kalindra juga melakukan hal serupa. Diego memutar tubuhnya menghadap pada Kalindra. Perlahan tubuhnya mendekat pada daksa Kalindra.

Mata Kalindra mengerjap-ngerjap tak percaya kala Diego tiba-tiba memeluknya, tangan besar itu melingkar erat di pundaknya.

"Makasih banyak, Kalin ... ini semua karena kamu. Kalau kamu nggak ada, mungkin aku nggak bakal sehebat ini."

"Ng-nggak juga, Pak... Ini karena kerjasama kita, Bapak dan saya."

"Iya ... kamu dan aku, yang suatu hari nanti bakal berubah jadi kita." Diego melepas pelukannya bersamaan dengan merekahnya senyum di bibir. Dengan cepat Kalindra menunduk, menyembunyikan rona merah yang untuk pertama kalinya menguar di wajah akibat ulah Diego - si tukang gombal.

"Wah ... akhirnya aku bisa lihat wajah kamu merah, persis kayak kepiting rebus. Asal kamu tahu, udah lama banget aku nunggu momen kayak gini. Kayaknya ... kamu terlalu nikmatin pelukan aku, ya? Sini aku peluk lagi." Dengan cepat Kalindra mendongak, menatap Diego sengit kala lelaki itu mendekat padanya dengan tangan merentang lebar.

"PD banget sih kamu, cabul!" Kalindra memukul dada Diego sebelum beranjak meninggalkan lelaki itu yang cekikikan, pergi menekan malu.


●●


"Kenapa?" Sinis Kalindra manakala pintu kamarnya ia buka, dan mendapati Diego  - yang terlihat menawan dengan pakaian santainya - berdiri di hadapannya.

"Kamu lupa ya siapa saya?" Diego berjalan santai masuk ke dalam kamar Kalindra tanpa menunggu atau meminta persetujuan sang empunya, kemudian menghempaskan tubuh ke sofa.

Kalindra duduk pada sofa tunggal di sebelah Diego, menyorot lelaki manis itu dengan jengkel atas sikap semena-menanya. "Terserah. Tapi kasih tahu saya apa tujuan Bapak ke sini malam-malam gini. Saya gak mau ada kesalahpahaman di sini yang nantinya bakal jadi bahan ghibah di kantor."

"Kalau ada gosip, ya tinggal kita konfirmasi aja kalau gosipnya benar. Bilang aja kalau kita ke New York untuk rapat sekalian bulan madu. Gampang, 'kan?" Wajah Kalindra kembali memerah. Sepuluh persen merona, sembilan puluh persen karena menahan emosi mendengar jawaban sekenanya dari Diego.

"Sinting!" Diego terkekeh. Ia condongkan tubuhnya mendekat pada Kalindra, menatap mata perempuan itu lekat-lekat dan serius. "Apaan sih!" Tangan cekatan Kalindra dengan cepat memukul wajah Diego dengan bantal sofa.

Diego terkekeh dan kembali menyandarkan punggung di sandaran sofa. "Ternyata kamu cantik juga, ya ...." Desis Diego dengan sorot yang menatap Kalindra dalam.

"Baru tahu?" Balas Kalindra penuh rasa percaya diri, menatap Diego dengan satu alis terangkat.

"Tapi bohong." Kalindra menghardik Diego dengan begitu tajam. Laki-laki itu selalu seperti itu. Setelah memujinya, melambungkannya ke langit tertinggi, lalu ia tendang ke jurang terdalam.

"Intinya, Bapak mau apa ke sini? Saya nggak mau ya ada gosip yang bikin telinga saya panas begitu saya pulang ntar."

"Siapa yang berani gosipin kamu? Bilang sama aku. Biar aku pecat dia."

That CEOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang