◇◇◇
"Go, kamu gak sakit, 'kan?" Tanya Andrea dengan nada sedikit mengintimidasi. Ia tatap Diego dengan intens. Setelah semalam dia berteriak dan tertawa tidak jelas, sekarang putranya itu memasang wajah sedingin es di Kutub Utara. Andrea benar-benar paranoid dibuatnya. Takut jiwa Diego mulai ... terkena gangguan. Mungkin.
"Aku sehat kok." Jawab Diego datar sembari melahap sarapannya dengan tenang. Air mukanya memang terpahat dingin. Apalagi mengingat hari ini dia mulai ke kantor, memulai aktivitasnya seperti biasa di sana. Dan pastinya akan bertemu Kalindra. Rasa malu masih berkuasa atas dirinya saat ini. Dan Diego belum tahu cara untuk mengendalikannya. Itu sebabnya dia berusaha terlihat dingin pagi ini, berharap raut yang saat ini terukir di wajah bisa dibawa hingga ke kantor nanti. Karena sejatinya Diego Alvindo Suwardhana adalah sosok bos yang ramah dan hangat, bukan bos yang dingin dan kaku.
"Kamu aneh banget setelah pulang dari New York." Celetuk Andrea.
"Cuma perasaan Papa aja. Aku tetap Diego Alvindo Suwardhana anaknya Andrea Suwardhana kok. Gak ada yang berubah." Jawab Diego santai. Di luar dia memang terlihat santai. Tapi di dalam, hati dan pikirannya tengah berperang. Pusing memikirkan reaksi apa yang harus ia tunjukkan terhadap Kalindra nanti. Jujur saja ia kecewa dengan penolakan perempuan itu terhadap dirinya. Rasanya Diego ingin melompat dari balkon kamar hotel lantaran tak dapat mengendalikan kecewa. Tapi di samping itu semua, Diego sangat menginginkan perempuan itu. Dia ingin Kalindra selalu bersamanya. Dan itu hak Kalindra untuk menolak, Diego tidak bisa memaksa.
Diego memang akan berjuang, akan mendapatkan Kalindra dengan caranya sendiri. Shandy memang akan membantu, katanya. Tapi Diego tidak ingin bergantung pada bocah itu. Di matanya Shandy hanyalah bocah ingusan yang tidak mengerti dengan masalah percintaan dan perasaan. Dia akan bersikap gentle, dia akan mendapatkan Kalindra dengan hatinya sendiri. Dengan caranya sendiri. Tapi tentu tidak sekarang. Terlalu tergesa-gesa jika dia bertindak sekarang.
"I got it!" Seru Diego sambil mengepal tangannya, dan mengangkat kepalan itu ke udara. Membuat Shandy dan Andrea terperanjat di kursi mereka masing-masing. Keduanya saling pandang dengan curiga. Senyum miring tercetak di bibir ranum Diego. Lalu dengan lahap ia santap sarapannya. Ia ingin segera tiba di kantor.
Dan hasil pemikirannya selama sarapan tadi adalah; Diego harus bisa mencairkan suasana. Dia dan Kalindra tak boleh terlihat canggung kendati Kalindra telah menolaknya. Kendati Kalindra sudah menjatuhkan harga dirinya.
"Go..." desis Andrea. Nadanya terdengar aneh. Pula sorot matanya. Ia menatap Diego aneh dan penuh rasa penasaran.
"Shandy, buruan. Om mau berangkat sekarang." Diego meneguk air putih dalam sekali teguk.
"Semangat banget. Ntar ketemu Tante Kalin melempem lagi. Nunduk terus kayak orang lagi kehilangan uang." Ledek Shandy yang langsung mendapat hardikan tajam Diego.
.
.
.
"Om ke kantor dulu. Kamu baik-baik di sini. Awas kalau macam-macam, Om bakal langsung mulangin kamu ke London. Belajar yang baik. Ini sekolah baru." Pesan Diego seraya mengacak sayang rambut Shandy.
"Iya. Om juga kerjanya yang baik. Jangan baperan terus." Shandy mengedipkan sebelah matanya kala Diego menatap tajam.
"Masuk sana." Titah Diego seraya mengedikkan dagu ke arah SMA favorit di Jakarta, yang resmi menjadi sekolah baru Shandy hari ini. Shandy mengangguk. Ia melambaikan tangan pada Diego lantas berbalik masuk ke dalam sekolah barunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
That CEO
Romance- 𝐓𝐡𝐚𝐭 𝐂𝐄𝐎 - Entah dari mana asal mulanya, Diego bisa menaruh hati pada sekretarisnya yang super galak. Bahkan rasanya Diego bisa memberi wanita itu cap singa betina. Beribu cara Diego kerahkan hanya untuk mendapatkan secuil perhatian seorang...
