Diego hendak memasuki sebuah toko roti di pusat kota, mencari camilan untuk mengganjal perut yang tak begitu lapar malam ini. Kala ia akan mendorong pintu toko, kepalanya menoleh ke arah toko sepatu yang berjarak empat ruko dari toko roti.
"Afsha..." gumam Diego seraya memutar tubuhnya agar lebih jelas menatap perempuan yang ia duga tunangannya. Perempuan itu menggandeng banyak paperbag di tangan kirinya. Lalu keluar seorang lelaki dari toko sepatu yang sama lantas menggamit lengan kanannya. Dari gerak bibir perempuan itu, Diego tahu jika dia sedang mengucapkan kata terima kasih, lantas mencium pipi si lelaki. Profil perempuan itu sama persis dengan Afsha, hati Diego sangat yakin dengan opininya itu. Namun isi di kepalanya tidak yakin jika itu tunangannya. Ia hanya berpikir; mana mungkin Afsha - yang notabene calon istrinya mengkhianati dirinya. Tapi perasaan Diego benar-benar tidak enak. Untuk memastikan, Diego mencoba menghubungi Afsha sambil terus mengamati gelagat perempuan yang sejak tadi tak beranjak dari netranya.
Diego tertegun manakala perempuan itu mengeluarkan ponsel dari tasnya. Mengacuhkannya dengan cara menyimpan kembali ke dalam tas setelah melihat layarnya. Diego masih belum bisa mempercayai jika itu Afsha. Jadi diam-diam dia ikuti perempuan itu menyusuri toko-toko berkelas di pinggir jalan.
Hampir dekat, Diego hanya beberapa meter di belakang perempuan itu. Benar. Perempuan itu memang benar Afsha. Terbukti setelah Diego mendengar suara dan menghirup aroma parfumnya yang sama persis dengan milik Afsha. Dia yang tidak menyadari keberadaan Diego di belakangnya terus saja berjalan bergandengan dengan lelaki itu.
Afsha dan lelaki itu menyeberangi jalan. Tentu saja Diego juga mengikutinya.
Decitan ban sepeda motor dengan aspal yang memekakkan telinga terdengar nyaring malam itu. Seorang lelaki bertubuh jangkung sudah menjadi korban tabrak lari. Dunia serasa milik berdua, mungkin itulah yang dirasakan kedua sejoli di depan Diego. Hingga mereka tidak sadar jika di belakang mereka baru saja terjadi kecelakaan sepeda motor dengan seseorang - yang sedari tadi mengekori keduanya - yang menjadi korban. Diego begitu fokus mengikuti Afsha. Hingga di saat ia menyeberang tidak memperhatikan jalan, dan terjadilah insiden yang tidak diinginkan malam itu.
.
.
Kalindra tersenyum dengan manisnya ketika menekan bel unit apartemen Reggy. Mempertahankan senyum indah itu di bibir hingga sosok yang hendak ditemui muncul. Namun senyuman itu tampaknya tidak bisa menggantung di bibirnya setelah satu jam terukir. Ya, sudah satu jam lamanya Kalindra menanti Reggy di depan unit apartemen milik lelaki itu. Reggy selalu seperti ini, terlalu sering melupakan janji yang sudah ia buat sendiri. Tubuh Kalindra merosot terduduk di depan pintu apartemen. Menekuk kedua lututnya, kemudian meletakkan kepala di sana.
"Kalin?" Dengan cepat Kalindra mendongak setelah mendengar suara sosok yang sedari tadi ia tunggu.
"Reggy!" Serunya dengan antusias dan langsung berdiri.
"Kamu ngapain di sini?"
Kalindra mengerucutkan bibirnya kesal. "Bukannya kamu yang nyuruh aku ke sini? Kamu 'kan tadi janji kita ketemuan malam ini." Sungutnya.
Reggy tersenyum kecil. "Oh iya, aku lupa. Masuk yuk." Ajak Reggy seraya menekan sandi apartemen. Diam-diam Kalindra menghafal tiap digit angka yang Reggy tekan. Dia tak pernah tahu sandi apartemen calon suaminya itu. Reggy pun tak pernah mau memberitahu.
"Kamu dari mana?" Reggy menghempaskan tubuhnya ke atas sofa bersamaan dengan Kalindra yang duduk di sebelahnya.
"Aku baru pulang dari kantor."
"Tunggu bentar ya, aku buatin teh hangat buat kamu." Kalindra berdiri namun terduduk lagi lantaran Reggy menarik tangannya. Dan sialnya kali ini Kalindra terduduk di pangkuan Reggy. Kalindra ingin beranjak, tapi Reggy menahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
That CEO
Romance- 𝐓𝐡𝐚𝐭 𝐂𝐄𝐎 - Entah dari mana asal mulanya, Diego bisa menaruh hati pada sekretarisnya yang super galak. Bahkan rasanya Diego bisa memberi wanita itu cap singa betina. Beribu cara Diego kerahkan hanya untuk mendapatkan secuil perhatian seorang...
