Chapter 22

832 38 0
                                        


Kalindra menelan air liurnya dengan kasar. Matanya dan mata Diego bertemu, saling menatap dalam. Sementara Shandy dan Reehan saling ber-high five ria di ruang informasi setelah aksi mereka berjalan lancar. Kini semua mata tertuju pada sang tokoh utama, Kalindra dan Diego. Diego memutar posisi tubuhnya menghadap pada Kalindra. Senyumnya mengembang lebar, membuat jantung Kalindra berdegup tak keruan. Kakinya juga sedikit gemetar. Dan wajahnya telah kehilangan rona.

"Jadi gitu ya?" Tanya Diego bersama senyum cerahnya. Matanya menatap Kalindra lurus, tepat di hazel bening perempuan itu.

"A-apanya?" Tanya Kalindra berpura-pura tidak tahu. Diego terkekeh geli. Ia menambah jarak lebih dekat lagi, lalu melingkarkan tangannya di bahu mungil Kalindra. Membuat Kalindra semakin gelagapan, namun tak bisa berbuat apa-apa. Pipinya sudah memerah pastinya. Jantungnya berdegup luar biasa kencang. "Jadi ... mulai sekarang, Kalindra Novindra ini pacar saya!" Mata Kalindra membesar terkejut. Diego mengumumkan hal ini di depan seluruh karyawannya yang tak lagi fokus pada kegiatan mereka, melainkan pada pasangan baru tersebut. Kalindra menunduk dalam seraya menggigit bibir, mencoba menyembunyikan rona merah di wajah.

"Dan mungkin bakal jadi istri. Do'ain aja ya, teman-teman." Suara riuh tepukan tangan bersama sorakan menggoda terdengar saling bersahutan. Kalindra meringis. Dia malu, namun senang di waktu yang bersamaan. Tak bisa diingkari, dia juga merasa bahagia. Tak menyangka Diego akan melakukan hal ini padanya, bukan malah semakin mempermalukan dirinya. Dan ini semua ulah Shandy. Diam-diam Kalindra melirik tajam pada bocah itu yang berada di kubikal informasi. Sorakan gadis itu yang paling kuat tadi, ditambah siulan tangan dari Reehan. Tahu Kalindra menghunus matanya dengan tatapan sengit, namun Shandy sama sekali tidak merasa takut. Dia malah melambaikan tangan dengan girang pada pacar baru pamannya itu.

-

"Auw!" Ringis Kalindra menahan perih. Karena terlalu senang, Kalindra jadi lupa. Tangannya tersiram hangatnya air dari tehnya tadi, yang sekarang sedang dikompres Diego.

"Sebegitu happy-nya ya, sampai lupa sama tangan sendiri." Ledek Diego.

"Siapa yang senang?" Bantah Kalindra dengan wajah bersungut-sungut. Diego mendongak, senyumnya merekah lebar.

"Kita berdua." Lalu kembali fokus mengompres tangan Kalindra. "Aku gak nyangka, ternyata kamu juga suka sama aku selama ini. Tapi sok jual mahal. Dasar." Kalindra mendongak menatap Diego tajam. Ingin sekali rasanya menjambak rambut Diego, namun ia tahan.

"Emangnya Bapak gak nanya dulu gitu ke saya, saya beneran suka atau enggak sama Bapak? Atau seenggaknya, Bapak tanya dulu, saya masih sayang sama Reggy atau enggak. Bapak 'kan gak tahu gimana perasaan saya yang sebenarnya." Diego menghentikan kegiatannya. Karena dia juga telah selesai.

"Logikanya aja, kalau kamu emang masih sayang sama Reggy, kamu gak bakal lepasin dia. Kamu pasti bakal pertahanin dia apalagi dia udah ada niatan mau berubah. Aku juga belajar psikologi kok." Senyum Diego mengembang lagi. "Sekarang kita udah pacaran. Kamu jangan panggil aku Pak lagi dong. Panggilnya kalau kita lagi kerja aja. Harus berapa kali sih aku ingatin kamu soal ini." Gerutu Diego lantas mencubit gemas hidung Kalindra. Kalindra mengulum senyum. Jujur saja, ia bahaga pada akhirnya memiliki kekasih sebaik Diego.

.

.

.

"Cie... bahagia banget yang baru jadian." Goda Shandy kala Diego bergabung dengan dirinya dan Andrea di meja makan guna sarapan bersama.

"Siapa yang baru jadian?" Tanya Andrea penuh rasa ingin tahu. Shandy melirik Diego sebagai jawaban. Diego mengulum senyum, tampak malu-malu. "Kamu, Go? Sama siapa?"

That CEOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang