[][]
"Kamu nggak pulang?" Tanya Shandy dengan wajah memberenggut kala ia sudah keluar dari mobil Reehan.
"Pulang." Reehan menyembulkan kepala di jendela mobil.
"Terus kenapa nggak turun?" Shandy melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kak Diego mau antar aku ke apartemen dulu, aku mau jemput baju renang. Rencananya kita mau berenang sore ini." Kilah Reehan menutupi rencana yang sesungguhnya.
Shandy sedikit membungkuk menatap Diego yang duduk santai di balik kemudi. "Serius, Om?" Intimidasi Shandy, penuh rasa tidak percaya. Diego mengangguk dengan yakin diiringi senyum penuh kepastian.
"Oh." Shandy kembali berdiri tegap. Membalikkan tubuh dengan sombong, melangkah membuka gerbang rumahnya.
"Aku nggak nyangka kamu ahli banget bohong." Puji Diego.
"Asal Kakak tau, ini pertama kalinya aku bohongin Shandy. Dan ini semua karena Kakak!" Tuding Reehan.
Diego mengulum senyum lebar. "Tenang aja... Aku pasti kamu sama Shandy gak bakal putus." Reehan menoleh, sekadar memberi cengiran lebarnya pada Diego.
Dan di sinilah Diego dan Reehan sekarang, di sebuah cafe klasik yang terletak di pinggir jalan, dan sebagian mejanya terletak di luar ruangan cafe. Meja itulah yang dipilih Diego dan Reehan untuk kedua lelaki itu duduki. Guna mereka melakukan ini hanya untuk mendengar penjelasan dari Reehan yang ia janjikan tadi pada Diego. Reehan akan menjelaskan apa yang terjadi antara Aldric dan Kalindra agar kesalahpahaman ini tak berjalan berkepanjangan.
●●●
"Shan, hari ini kamu berangkat sekolahnya sama Reehan aja ya." Pesan Diego sembari memasukkan sup jagung buatan mbak Uti ke dalam kotak bekal berbentuk kepala kelinci milik Shandy.
"Selama ini emang Reehan antar jemput aku kok, nggak perlu diperintahin."
"Hehe..." Diego terkekeh kecil.
"Ya udah." Diego sedikit menoleh ke arah pintu rumah ketika suara motor Reehan terdengar mulai memasuki pekarangan rumah. "Kayaknya Reehan udah dateng." Lelaki itu menutup rapat kotak bekalnya. "Ini untuk kamu. Berangkat gih. Masa depan kamu udah nunggu." Diego mengecup sayang puncak kepala Shandy. "Buruan."
Shandy mendengus kecil. "Dia bukan masa depan aku!" Protesnya. "Aku pergi dulu, Om." Pamit Shandy kemudian.
"Hm." Diego menuju kamar Andrea untuk mengajaknya sarapan.
●●
Diego mengembuskan napas panjang sebelum melewati pintu kaca di hadapannya. Pintu dibuka oleh security penjaga kantor bagian dalam. "Selamat pagi, Pak." Sapa sang security dengan hangat.
"Pagi." Balas Diego tak kalah ramah dilengkapi senyum hangat pula. Sang security tampak bingung. Pasalnya, kemarin pemilik perusahaan tempat satpam itu bekerja tampang murung. Dan tidak menyahut saat semua orang menyapanya. Tapi kini perubahan itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Apa pun yang dilakukan Diego kentara sekali menggambarkan suasana hatinya yang tampak begitu bahagia.
Diego telah berada dalam ruangannya. Lelaki jangkung itu merapikan tampilannya sebelum sekretarisnya datang membawakan segelas susu dan dua buah apel. Setelah merasa penampilannya sempurna, Diego kembali duduk di kursinya dengan penuh sahaja.
Dua puluh menit lamanya Diego menunggu, akhirnya ketukan pintu terdengar dari luar. Tidak seperti biasanya. Biasanya hanya perlu waktu lima menit menunggu ketukan pintu dari luar dan seorang perempuan cantik akan masuk sambil membawa nampan. Tapi kini, dimana gadis cantik itu. Tadi waktu Diego melewati kubikalnya ia juga sempat melirik tempat itu dengan ekor mata. Dan sekretaris yang biasa melewati tempat itu tak terlihat ada di sana. Jangan bilang jika Kalin tak bekerja hari ini. Karena hal itu bisa membuat mood baik Diego akan berubah menjadi sebaliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
That CEO
Romance- 𝐓𝐡𝐚𝐭 𝐂𝐄𝐎 - Entah dari mana asal mulanya, Diego bisa menaruh hati pada sekretarisnya yang super galak. Bahkan rasanya Diego bisa memberi wanita itu cap singa betina. Beribu cara Diego kerahkan hanya untuk mendapatkan secuil perhatian seorang...
