Chapter 11

2K 60 2
                                        

◇◇◇

Dengan langkah pelan dan penuh kehati-hatian Kalindra hampiri Reggy di sebuah kafe tempat janji temu mereka biasa. Kendati hubungannya dengan Reggy mulai membaik, tetap saja rasa takut itu ada dan nyata. Namun Kalindra sudah terbiasa mengatasi ketakutan semacam ini. Itu sebabnya dia tetap terlihat tenang.

"Gy..." sapa Kalindra seraya mendudukkan diri di seberang Reggy. Reggy tersenyum lebar dan langsung saja meraih tangan Kalindra yang terletak di atas meja, menggenggamnya erat. Lalu ia cium punggung tangannya berkali-kali. Memberi sedikit kehangatan untuk Kalindra.

"Aku kangen banget sama kamu." Lirih lelaki itu dengan suara lembutnya. Kalindra tersenyum lebar, hatinya terasa hangat melihat ekspresi cemberut yang terukir di wajah sempurna calon suaminya.

"Aku juga kangen banget sama kamu, Gy." Balas Kalindra. Suaranya terdengar begitu hangat, kentara sekali sebuah ketulusan di sana. Ponsel Reggy berdering. Terpaksa ia lepas genggamannya di jemari Kalindra dan meninggalkan perempuan itu begitu saja.

"Ya, Baby?" Jawab Reggy pada seseorang di seberang. Entah dia sadar atau tidak dengan kalimatnya, dia mengucapkan panggilan itu ketika melewati Kalindra. Yang pasti hal itu membuat Kalindra merasa tertampar. Kalindra mendesah pelan dengan kepala menunduk dalam. Meremas pahanya guna menyalurkan rasa sesak.

Tak lama Reggy kembali ke meja mereka dan langsung membereskan jas beserta tas kantornya yang ia letak di kursi kafe.

"Kemana?" Kalindra mendongak, bertanya pada Reggy dengan nada bergetar dan mata berkaca-kaca.

"Aku ada rapat dadakan, Sayang. Maaf, ya." Vokal Reggy terdengar datar, kentara sekali tak ada penyesalan dalam perkataan maafnya.

"Siapa orang yang kau panggil Baby tadi?" Reggy mendekati Kalindra dan mencium puncak kepalanya sebentar.

"Kamu salah dengar. Aku gak bilang itu kok tadi. Aku pergi dulu, ya. Ntar kita atur waktu lagi." Alibi Reggy, lantas berlalu begitu saja.

"Telingaku masih sehat, Gy." Reggy tak merespon. Lelaki itu telah hilang ditelan keramaian kafe.

"Kamu di mana sih? Kenapa lama banget?" Tanya Diego dengan sedikit menggerutu. 

"....."

"Perlu aku jemput kamu? Udah tiga jam aku nunggu kamu di sini. Aku capek, tahu!"

"......"

"Apa?! Pulang kamu bilang?! Aku udah mati nahan bosan nunggu kamu di sini dan kamu dengan seenaknya nyuruh aku pulang?! Kamu punya hati gak sih?" Cecar Diego yang tak dapat lagi menahan kesal.

"......."

"Oke, sebelum aku pulang, aku cuma mau bilang kalau kita selesai. Hubungan kita sampai di sini aja." Sambungan terputus. Diego berjalan meninggalkan kafe yang ia datangi tiga jam lalu dengan kekesalan yang membuncah. Ia benar-benar kesal pada Afsha. Tadi perempuan itu yang menyuruhnya menunggu. Dan saat Diego sudah menuruti apa yang Afsha mau, perempuan itu malah membatalkan janjinya begitu saja. Terpaksa Diego utarakan tujuannya membuat janji tanpa basa-basi.

Langkah penuh emosi Diego terhenti. Dengan dahi berkerut dihampirinya seorang perempuan di pojok kafe dengan wajah sembab.

"Ngapain di sini?" Diego mendudukkan dirinya di seberang Kalindra. Kalindra mendongak. Detik berikutnya menggeleng. "Oh iya, aku lupa. Kamu 'kan ada janji sama calon suami kamu. Kalian udah baikan?" Kalindra menggeleng lagi dengan raut sendu yang terukir terlalu kentara.

That CEOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang