Sejak Salwa dirawat, Jihan terpaksa melakukan beberapa pekerjaan Salwa di kantor. Menurut dokter, Salwa harus istirahat setidaknya dua minggu setelah dioperasi. Sekali pun nanti dia bekerja kembali, Salwa belum bisa bekerja seperti biasa. Dia harus berhati-hati agar luka bekas operasinya segera pulih.
Jihan menggantikan Salwa menyetor uang ke bank setelah selesai makan siang. Sisanya dilakukan oleh Adam. Sebenarnya tidak ada yang membuat Jihan kesal dengan pekerjaan itu. Malah dia bersyukur bisa menggantikan pekerjaan Salwa. Dia jadi bisa melupakan sedikit tentang novelnya yang dicuri Elayne.
Namun ada satu kejadian yang mengusiknya hari ini. Kejadian itu adalah saat Jihan menerima sebuah telepon di rumahnya pagi tadi. Jihan agak telat berangkat ke kantor. Karena Adam memintanya untuk mampir ke bank terlebih dahulu. Hari ini adalah gajian para karyawan. Karena Adam kekurangan uang cash di kantornya, maka dia meminta Jihan mengambil uang di bank.
Jihan berpikir Bank baru buka pukul 8.00, jarak dari bank ke rumahnya tidak begitu jauh. Makanya dia memutuskan berangkat ke bank jam delapan kurang. Saat menunggu menjelang jam delapan itulah suara telepon rumah berdering. Jihan yang mengangkat telepon itu karena Bi Imah sedang di kamar mandi.
Orang yang di seberang telepon menanyakan sebuah nama kepada Jihan. "Bisa bicara dengan Elayne, Mbak?"
Jihan langsung mengatakan bahwa orang itu salah sambung karena tidak ada yang bernama Elayne di rumahnya. Setelah menutup telepon itu, Jihan baru menyadari sesuatu.
Elayne? Rasanya dia pernah mengenal nama itu. Jihan berpikir sejenak dan berusaha mengingat.
Ya, Jihan ingat sekarang! Elayne adalah nama pena dari penulis novel yang sedang dicarinya! Ya ampun! Kenapa dia tadi lupa bertanya siapa penelepon itu! Jihan berharap penelepon itu kembali menelepon ke rumahnya. Dia akan menanyakan kepada si penelepon siapa sesungguhnya Elayne itu. Di mana rumahnya dan berbagai pertanyaan lainnya.
Karena kejadian pagi itulah pikiran Jihan tidak konsentrasi melakukan pekerjaannya. Setelah menunggu sampai pukul delapan, sang penelepon misterius itu tidak menelepon lagi. Akhirnya Jihan memutuskan berangkat ke bank. Sepanjang jalan dia masih penasaran dengan si Elayne.
Sehingga setelah kembali ke kantor, ada saja beberapa kesalahan kecil yang dilakukannya. Mulai dari lupa menghapus list pekerjaan yang sudah dilakukan di white board sampai tidak mengangkat telepon yang sudah berdering berkali-kali. Untunglah Adam sedang membagikan gaji karyawan, sehingga dia tidak perlu mendapatkan teguran dari Adam.
Jihan ingat, sebulan lalu Bi Imah pernah mengatakan kalau ada seorang laki-laki menelepon Elayne ke rumah mereka. Tapi Bi Imah sudah mengatakan salah sambung. Waktu itu, Jihan berharap lelaki itu menelepon kembali. Tapi harapannya tak terkabul. Beberapa waktu setelah itu, Jihan lupa dengan novelnya. Karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukannya. Apalagi dia juga harus mengerjakan pekerjaan Salwa.
"Jihan, ayo ikut ke rumah kakek!" tiba-tiba Adam sudah berada di samping Jihan. Jihan yang sedang bengong di depan komputernya terlonjak kaget.
"Oh, eh... ngapain ke rumah Kakek, Buya?" jawabnya gugup.
"Kakek nyuruh Buya ke sana. Beliau juga meminta Jihan ikut ke sana."
"Oh. Ok." Jihan mematikan komputernya. Jam dinding kantor sudah menunjukkan ke angka lima. Ruangan di lantai dua ini sudah sepi. Sepertinya di lantai satu juga begitu. Karena tidak terdengar lagi suara mesin dan candaan para karyawan.
Hanan sudah tak terlihat sejak menerima gajinya tadi. Biasanya hari Sabtu, saat gajian begini, hampir seluruh karyawan bergegas pulang. Mungkin mereka tak sabar memberikan gaji mereka kepada keluarga mereka. Atau mungkin mereka ingin bergegas berbelanja kebutuhan harian sebelum gaji mereka habis.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELAYNE
Novela JuvenilElayne, seseorang yang sangat ingin dicari Jihan. Karena Elayne sudah mencuri naskahnya dan menerbitkan naskah itu tanpa minta izin padanya. Jihan berencana menemukan penulis yang bernama Elayne itu di mana pun dia berada. Dimulai dengan menelepon e...
