Kini hanya ada dirinya di ruangan serba putih itu. Meskipun Lydia sudah berjanji padanya, tapi itu tidak bisa menghentikannya untuk tetap merasa gundah dan kalut. Tidak terbayangkan olehnya, apabila Lydia kembali meninggalkannya, lebih tepatnya ia takut membayangkan hal tersebut. Disaat ia telah kehilangan penglihatannya, ia sudah tidak sanggup untuk kehilangan Lydia sekali lagi. Tiba-tiba dirinya merasa sangat haus, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Mulai disadarinya bahwa kondisinya bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Pikirannya pun mulai melayang ke berbagai hal, ini adalah kali pertama ia mulai memikirkan dengan serius kondisinya yang buta ini. Pekerjaan yang biasa dilakukannya, mengemudikan mobilnya, bahkan hal-hal sepele seperti mengambil gelas berisi air untuk dirinya sendiri pun sudah tidak bisa ia lakukan. Pria normal manapun pasti merasa frustasi, tapi tidak dengan dirinya. Ia percaya selama Lydia ada disisinya, semua akan baik-baik saja. Lydia-nya lah yang akan menjaga dan terus mendampinginya.
Senyuman yang tersungging di bibirnya tidak pernah hilang dari wajahnya. Meskipun kini yang dilihatnya hanya kegelapan, selama Lydia masih disisinya, ia akan terus tersenyum bahagia. Cintanya adalah satu-satunya yang ia butuhkan. Sekarang yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu cintanya itu untuk kembali menemaninya.
Menit demi menit berlalu dan semua mulai terasa cukup membosankan baginya. Tidak ada yang bisa dilakukannya dan itu membuatnya bosan. Tiba-tiba ia mendapatkan ide, ia pun meraba saku kantong celananya dan meraih handphone miliknya. Ia bersyukur handphone nya bukan tipe layar sentuh. Setiap tombol yang ditekannya menimbulkan suara-suara kecil, ternyata itu cukup membantunya membuka menu contact. Tentu saja pengalaman membawa handphone itu lebih dari sepuluh tahun juga mengambil peran yang sangat penting. Begitu menu contact terbuka, dengan lancar jarinya pun menekan beberapa tombol dan diakhiri dengan menekan tombol bergambar telepon berwarna hijau. Dengan senyum masih di wajahnya, ia menempelkan handphone tersebut pada telinga kanannya, dan menunggu orang diseberang telepon mengangkatnya.
Teleponnya pun diangkat. Suara seorang pria pun terdengar diseberang telepon.
"Halo selamat siang, disini rumah keluarga Watson, ada yang bisa dibantu?" Kata orang ditelepon tersebut.
"Hai, bisa bicara dengan Don Watson?"
"Yup, saya sendiri. Dengan siapa ini?"
"Hei, kenapa kau bicara dengan sangat formal? Kemana Don yang kukenal?"
"Tunggu dulu, hei apa ini Leon?!"
"Yaa ini aku!"
"Astaga, astaga teman! Sudah berapa lama kau tidak menghubungiku 'hah?! Kau selalu seperti ini... Pertama kau begitu dekat dengan teman-temanmu kemudian kau mengusir mereka jauh-jauh, tidak menghubungi mereka, seakan-akan mereka tidak pernah ada dan kau tidak membutuhkan mereka...."
Pria di telepon itu pun diam sejenak menarik nafas sebelum mengeluarkan kembali unek-unek yang sudah lama ditahan.
"Leon...kupikir kau akan memperlakukan diriku sama dengan yang lainnya. Tapi kurasa itu hanya aku yang berpikir berlebihan hahaha. Kau baik-baik saja 'kan kawan?!"
Ya, apa yang dikatakan orang diseberang telepon tersebut benar adanya. Ia adalah seorang pria yang tidak mementingkan apapun selain cintanya. Semuanya, teman, keluarganya, semua ditinggalkannya. Tapi kali ini berbeda. Diputuskannya untuk menjalin kembali pertemanannya, entah apa alasannya, ia sendiri tidak tahu. Ia memang cukup payah, semua yang berharga baru disadarinya setelah ia kehilangan.
"Yaa aku baik-baik saja. Kau tahu, datanglah kerumahku, ada sesuatu yang ingin kuceritakan panjang lebar denganmu."
"Oh ya? Baiklah, baiklah aku akan datang. Ini adalah undangan langka dari Leon James si 'Love before Everything Man' ! Hahaha..... Oh astaga, maafkan aku tidak bermaksud mengatakan hal itu. Kudengar kau sudah berpisah dengan Lydia? Man, kau tahu berita menyebar dengan begitu cepat. Aku mendengarnya dari salah seorang teman. Entahlah aku lupa siapa si biang gosip itu. Kau sedang kacau dan ia menyebarkan cerita begitu saja..."

KAMU SEDANG MEMBACA
Unseen Love (SUDAH TAMAT)
RomanceMy very first story on wattpad. 'Our Love' Series #1- UNSEEN LOVE - Status : TAMAT - Lydia James Ingatan adalah sesuatu yang berharga bagi setiap orang. Tanpa mempedulikan fakta itu, sesuatu yang berharga tersebut, terselip dari genggamannya. Ident...