Chapter 25 ~ Harapan Yang Terkabul

77 8 0
                                    

Up Date : 1st November 2017

********

Cerita Sebelumnya........

Penyesalan memang selalu datang terlambat ketika ia menyadari kesalahannya karena menjadi penghalang bagi Leon untuk melihat kembali. Don menyadari apa yang dilakukannya, tapi laki-laki itu memaafkannya. Ditengah kegelisahan, usahanya untuk membuktikan pada Leon bahwa penglihatan bukanlah sesuatu yang penting selama mereka bersama, malah membuatnya merasa semakin bermasalah hingga memutuskan untuk mendapatkan kornea agar Leon bisa kembali melihat......dengan cara apapun.

*********

Saat ini hatinya terasa seringan salju, ketika ia memutuskan untuk berdamai dengan rasa frustasi yang kerap kali melandanya. Harapan itu memang tidak sejelas sebelumnya, tapi sejak hari kencan pertamanya dengan Lydia, seakan setiap harinya harapan itu sudah berada dalam genggamannya. Tidak masalah 'kan jika ia menyebutnya dengan 'kencan'? Sebelumnya ia selalu berpikir berada di apartemen ini adalah hal yang terbaik. Keluar dari sarangnya ini hanya akan memperkecil hatinya. Mengingatkannya akan ketidakmampuan yang terus mengikuti langkahnya bagaikan bayangan. Tapi berbeda dari dugaannya, keluar dari apartemen ini justru memperluas dunianya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membiarkan rasa frustasi dan pesimis mengambil alih akal sehatnya.

Kemarin hari berlalu seperti biasa baginya, ketika jam terus berdetik ia hanya akan duduk memeluk dirinya sendiri di atas sofa. Membiarkan pikirannya tenggelam dalam kegelapan, menunggu waktu berlalu hingga seseorang datang dan membuka pintu itu. Selalu seperti itu. Tapi sekarang, ia akan membuatnya berbeda. Ia menarik tubuhnya dari kehangatan sofa dan berjalan ke arah meja makan.

Furnitur dan benda dengan posisi yang tidak pernah berubah membuatnya terbiasa berjalan di dalam apartemen ini. Ia tidak perlu melihat untuk tahu dimana letak semuanya. Di atas meja jemarinya menyentuh sebuah piring yang tadi ia gunakan. Semua yang ada di apartemen ini, adalah bukti cinta Lydia padanya. Ketika Lydia membuka pintu, gadis itu akan langsung membersihkan apartemen, memasak untuknya, dengan senyuman di wajah. Ia tidak perlu melihat semua itu untuk tahu. Lydia tidak sesering dulu mengutarakan perasaan padanya, tapi ia tidak perlu mendengar untuk tahu. Karena semua yang ada di apartemen ini, adalah bukti perasaan Lydia padanya.

Ia mendesah panjang. Dan apa yang dilakukannya? Ia hanya bisa mengucapkan tiga kata itu berulang-ulang tanpa melakukan apapun. Meskipun Lydia selalu tersenyum dan bahagia setiap kali ia mengatakannya, tidak bisa dipungkiri bahwa ia merasa tidak berguna. Rasa percaya dirinya sudah jatuh dalam sekali ke sebuah lubang yang dalam. Kejadian kemarin yang memperlihatkan sisi 'lain' dirinya, tidak membantu sama sekali. Hanya memperdalam lubang tempat kepercayaan dirinya terjerembab. Demi Tuhan ia membentak Lydia yang tidak bersalah samasekali dan merasa menyesal karenanya.

Kata-kata bisa diucapkan dengan mudah oleh siapapun, dan permintaan maaf hanyalah bagian dari kata-kata. Setelah bangkit dari keterpurukannya, diputuskannya untuk menunjukkan permintaan maaf, sekaligus perasaan cintanya dengan cara melakukan sesuatu yang berguna di apartemen ini. Sesuatu yang berguna? Satu hal terlintas dalam pikirannya paling tidak ia harus mencuci perabotan dari sarapan tadi. Ia sudah meletakkan semuanya di atas washtafel.

Ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal samasekali. Sekarang bagaimana caraku melakukannya? Batinnya. Dirinya tidak pernah sekalipun menyentuh peralatan kebersihan apapun sejak keluar dari rahim ibunya. Semuanya sudah ada yang melakukan untuknya. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh Lydia ketika tinggal bersamanya. Hatinya terasa berat membayangkan kali pertama Lydia harus mencuci piring-piring kotor, membersihkan apartemen, meskipun Lydia berusaha agar selalu terlihat bahagia untuknya.

Unseen Love (SUDAH TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang