20. Dosa

37.9K 2.4K 40
                                        

Di atas ada video youtube di mana Nazmal lagi baca Ar-Rahman. Tonton ya, suaranya bikin hati bergetar 😁

==============================

"Sungguh, orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan akan berada dalam neraka (di akhirat)."
(QS. Al-Qamar 54: Ayat 47)


Faris mengetuk dua kali pintu rumahnya, lalu ia pun masuk.

Tiba-tiba, saat masuk ia dikejutkan dengan suara bariton yang menggema.

"Dari mana saja kamu??" Faris menengok ke asal suara. Dan, ia melihat Nazmal dengan tatapan yang menyulutkan kemarahan.

"Itu urusanku sehingga kau tidak perlu tau dengan urusunku, mas!!" ucap Faris membalas Nazmal.

Nazmal menyeringai. "Pergi dan membawa istri orang?" sahut Nazmal menghampiri keduanya.

"Mas, tenang!!" ucap Lisa memegang tangan Nazmal.

"Lepas!!" Lisa langsung melepaskan tangan Nazmal.

"Mas enggak nyangka dengan semua yang telah kamu lakukan, Faris. Sekarang ... ikut mas ke ruangan abi." Nazmal langsung menarik tangan Faris.

Namun, Asfa malah menahannya. "Mas, aku mencintainya!!"

Nazmal terdiam. Ia menghela nafasnya. "Lepaskan tangannya, Fa. Hal ini bukan urusanmu," sahut Nazmal pelan namun cukup menyakitkan.

Akhirnya, Asfa pun melepaskan tangan Faris. Lelaki itu membawanya. Asfa sekarang tidak tau lagi masalah apa yang akan menghampirinya. Ia takut, ia benar-benar tidak mau sesuatu menimpa dirinya dan Faris.

Sedangkan Nazmal, ia menarik tangan Faris dengan paksa. Ini benar-benar sudah diluar batas kemarahannya. Apa yang dilakukan Faris sungguh sangat biadab. Ia sangat tidak mengerti dengan pemikiran yang ada di otak adiknya itu.

Nazmal membawa Faris ke ruangan Firdaus. Sesaat setelah sampai, Nazmal menutupnya lalu melepaskan tangannya. Faris melihat abinya yang duduk di sofa sambil menundukkan kepala. Sungguh, apa yang sudah dilakukan Faris sangatlah tidak bisa diterima.

"Duduk!!!" perintah Nazmal dengan sulut kemarahan.

Faris mengikuti ucapannya sambil menatap Nazmal tak suka. "Kenapa? Mas tak suka jika Asfa bersama Faris?"

Mendengar itu Nazmal menghela nafasnya. "Astaghfirullahaladzim," ucapnya pelan.

Faris menyeringai. "Kenapa, mas? Kalah? Jangan merasa mas selalu menang dan akan terus menang. Buktinya apa? Asfa mencintaiku, mas. Dia tidak mencintaimu walapun sudah hidup denganmu empat bulan."

"Bukan itu yang mau mas bicarakan, Faris!!" ucap Nazmal dengan suara yang cukup tinggi.

"Apa, hah? Mas mau menceraikan Asfa? Oke, Faris menang kali di depan abi dan mas kalah di hadapan abi." Faris ikut mengeluarkan suaranya dengan tinggi.

"Jangan mentang-mentang Asfa mencintaimu, Faris. Cinta tidak akan pernah diridhai jika cinta itu belum halal bagimu. Apa yang kamu lakukan dengan istri mas itu haram, Faris. Apa kamu pikir Allah akan meridhai hubunganmu? Tidak." Nazmal sedikit memelankan suaranya.

"Halal atau tidak halal itu bukan urusanku, mas."

"Astaghfirullahaladzim, apa sekarang engkau sudah melupakan Allah? Istighfar, Ris!!!"

Faris menyeringai lagi. "Jangan seperti itu, mas. Mas saja yang halal belum pernah menyentuhnya. Apa mas tidak tahu? Dulu, sebelum engkau menikah dengan Asfa, aku pernah sekali menyicipi bibirnya yang---"

PLAK!!!!!

"Hentikan ucapan tak beradabmu, Faris Rasyidi," ucap Firdaus setelah menampar anak keduanya itu.

Faris memegang pipinya perih. "Kenapa, Bi? Abi mau membela mas Nazmal lagi?"

"Apa ini kelakuanmu di kota orang, Faris? Apa begini perlakuanmu terhadap wanita? Di mana akal sehatmu. Apa abi salah mendidikmu?" ucap Firdaus dengan bentakan.

"Iya, ini semua salahmu! Apa abi tak pernah merasa membedakan anak, hah? Apa jangan-jangan karena aku anak dari istri yang disembunyikan engkau malu mempunyai anak seperti aku?" seru Faris dengan suara yang tak kalah tinggi.

PLAK!!

Lagi-lagi Faris ditampar.

"Jaga ucapanmu, Faris!!!" Nazmal menunjuk Faris dengan telunjuknya.
"Mas tidak menyangka dengan apa yang kamu lakukan. Apa kamu tahu tujuan mas membawamu kesini? Mas kecewa denganmu, Faris. Untuk apa kamu menyembunyikan hal itu, Faris!!! APA YANG KAMU LAKUKAN HINGGA BISA MENGHAMILI ANAK ORANG? KAPAN KAU MENIKAHINYA, FARIS? KENAPA KAU MENYEMBUNYIKAN INI PADA MAS DAN ABI, SEDANGKAN UMI DAN LISA TAU?"

Deg!!

Faris diam membeku. Kenyataan yang di bicarakan Nazmal memang benar adanya. Apa yang sudah ia sembunyikan rapat-rapat akhirnya terbongkar juga. Ia menghamili teman kampus sebayanya, Linda. Dan, ia menikahi Linda setelah dua bulan perempuan itu mengandung anaknya. Kenyataan itu sangat membuatnya menyesal. Inilah yang membuat Faris selalu mengurungkan diri untuk menikahi Asfa dulu.

Nazmal mengusap wajahnya sambil beristighfar beberapa kali. Ia tak mengerti lagi dengan Faris. Adiknya itu benar-benar mengecewakannya.

"Jawab abi, Faris. Apa benar kamu melakukannya?" tanya Firdaus sedikit tenang.

Faris diam membisu. Ia memang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya, ia pun mengangguk.
Firdaus menghela nafasnya, lalu ia memejamkan matanya sejenak.
"Pulanglah ke Bandung, Faris. Jadilah lelaki bertanggungjawab. Anakmu sudah lahir hari ini, Linda sudah memberitahu Umi pagi tadi."

Faris mengangguk pelan.

Lalu, ia pun bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan Firdaus.

Sedangkan Asfa, sejak tadi ia melihat pintu itu dengan ketakutan. Teriakan itu, sangat terdengar jelas di telinganya. Tangan Asfa bergetar. Lisa menguatkan Asfa sejak tadi. Hingga, sosok itu pun keluar dari bilik pintu. Mata Faris menatap Asfa, namun lelaki itu langsung mengalihkan pandangannya menuju kamarnya.

Asfa tak bisa mencerna baik-baik teriakan itu. Semuanya terlalu menyakitkan untuk di ingat.

Selang beberapa menit Faris keluar dari kamarnya dengan membawa koper serta tas gendong. Faris menghampiri Umi-nya, Zulaikha. Tangan Asfa tak henti-hentinya sejak tadi bergetar hebat. Asfa menatap Faris kosong. Sedangkan Faris menyalami umi-nya.

"Faris pergi ke Bandung ya, Mi." Faris memeluk nya erat.

Sedangkan uminya menitikkan air mata. "Besok umi sama abi jenguk anakmu, Ris."

Faris mengangguk. "Faris pergi dulu mi," ucap Faris melepaskan pelukannya dan melenggang pergi di hadapan Asfa.

Asfa masih diam membisu. Nazmal menghampirinya, dan memegang pundaknya. "Ayo kita pulang, Asfa."

Nazmal menarik pergelangan Asfa pelan. Namun, saat Asfa hendak bangun, pertahanan Asfa runtuh. Asfa ambruk, dan seketika ... kegelapan yang hanya terlihat di matanya.

Bersambung.....

Bogor, 13 Dzulhijjah 1438

Izinkan Aku MemilikimuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang