Dio menghentikan langkahnya saat melihat banyak orang yang tengah menangis terisak di depan ruang ICU. Dio tidak tahu siapa yang ada di dalam sana, tapi hatinya bergejolak ketakutan.
Dio segera berjalan cepat menghampiri orang-orang itu.
Apa yang harus di katakanya saat ini? Dia tidak kenal satupun orang di sekitarnya yang tengah menangisi seseuatu. Bagaimana caranya dia bertanya 'Dimana Vio berada?'
"Kamu Diovano kan?"
Dio di kejutkan dengan kehadiran seorang wanita berwajah pucat, dan matanya membengkak. Wanita paruh baya ini terlihat sangat menyedihkan menurut Dio.
"I-ya. Ah iya dokter! Apa dokter tau dimana pasien yang bernama Lavionda? Soalnya saya sedang mencari dia" Sergah Dio cepat sekali.
"Ini, kamu harus baca ini dulu. Baru kamu akan mengerti semuanya sayang..."
Dio menatap secarik surat di hadapanya. Dia bingung, apasih maksud dari wanita ini? Kenapa dia harus membacanya?
Tak ada pilihan. Dio membaca surat itu secepat mungkin, dia ingin bertemu sekali dengan Vio.
Dari : Arvian Maharga Santanu
Untuk : Dio bla-bla-bla *namalukepanjangan :v
Sebenarnya males nulis surat buat musuh sendiri. Dari awal gua liat muka lo gua emang gak suka. Tapi apa boleh buat? Toh Tuhan mempertemukan Kawan dengan Lawan.
Gua tau lo yang akan menang tapi jangan kira gua mau kalah sama manusia kayak lo. Manusia bodoh yang gak bisa bedain mana ketulusan dan kebohongan.
Dan lo bisa liat akhirnya kan? You Winner and I'm Lose.
Gua suka Vio. Kita menyukai satu orang yang sama. Tanpa lo sadari, Vio menyukai lo sejak kelas 2 SMA dan dia mengungkapkanya di dalam tangisan dan tawa yang lo liat tiap harinya saat lo bersama dia.
Seandainya gua masih hidup, akan gua bunuh lo. Kenapa? Karena lo itu terlalu bodoh. Melukai seseorang yang tulus demi sesuatu yang menyakitkan.
Seandainya gua masih hidup, gua akan menikahi Vio dan akan bahagiain dia semampu gua.
Tapi itu semua cuma rencana. Dan sekarang kalian adalah inti cerita ini. Buatlah Happy Ending tanpa air mata
Mungkin lo bukan yang terbaik untuk orang sebaik Vio, tapi gua percaya lo mencintainya juga kan? Gak usah munafik Dio.
Oh iya. "Selamat atas pernikahanya ya!". Gua ucapin itu karena gua gak akan sempet bisa ucapin secara langsung sama kalian nanti.
Kalau dia bahagia, gua juga bahagia. Jaga dia yah. Dan inget satu hal, gua akan tetap mencintai Vio sampai kapanpun.
Good Luck Dio!
Arvian.
Dio mengerjapkan matanya. Tubuhnya terasa sangat lemah, dia tidak mengerti kenapa Vian menuliskan surat macam ini padanya? Memangnya dia kemana?
"Vian meninggal tadi malam. Dia ingin bicara sama kamu, tapi dia gak sempet, maafin kesalahan Vian yah nak Dio..."
Dokter Kalania tersenyum tapi air matanya terus mengalir deras.
"Hah..."
Dio mematung diam begitupun Jida yang sudah menangis histeris mendengar kabar kematian Teman barunya di kelas yang ternyata sudah pergi dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect & Bad
Novela Juvenil"Don't Judge Book By Cover" Sepertinya Vio harus setuju dengan pepatah itu saat menilai Cowo bernama Diovano Narapditha Prameswari, yang menjadi idola di sekolahnya. Karena suatu hari Vio menemukan sesuatu dari sosok Diovano yang membuatnya ter...
