Happy Reading
"Lepasin dia, Nes." pinta Al dengan lembut. Kilatan amarah di mata Arnessa padam seketika. Al tersenyum kemudian menarik Arnessa kesampingnya.
"Jangan semena-mena, lu gak akan tau hal nekad apa yang bakal gue lakuin kalo lu berani ganggu Arnessa lagi," ancam Al pada Laura kemudian menarik Arnessa menjauh dari kerumunan. Askar yang menyaksikan itu menatap punggung Arnessa dan Al yang menjauh. Ada beberapa hal yang tidak ia mengerti.
*
Al membawa Arnessa ke taman belakang kampus. Al kemudian membantu Arnessa untuk dudu. Al menatap haru kepada Arnessa. Pandangan Arnessa kosong.
"Al..." Arnessa memanggil nama Al dengan gemetar. Al kemudian menarik Arnessa kedalam dekapannya, berusaha untuk menenangkan gadisnya itu.
"Aku tidak bisa mengendalikannya." Arnessa mengucapkannya sambil terisak. Al mengerti. Al mengelus kepala Arnessa berharap agar gadisnya itu menjadi lebih tenang.
Arnessa mencengkram kuat baju Al. Tubuhnya bergetar hebat.
"Al... aku hampir melukainya," lirih Arnessa dalam tangisnya.
"Tidak. Kamu tidak akan melukainya. Forgive me," sahut Al dengan tenang.
"Al, aku takut." Cengkraman Arnessa pada baju Al semakin kuat, begitu pula dengan tangisnya.
"Arnessa, tenanglah. Ada aku. Kamu tidak akan melukai siapapun." Al masih berusaha menenangkan Arnessa tetapi Arnessa terus saja menangis. Tubuhnya bergetar hebat dalam dekapan Al. Melihat kondisi Arnessa yang seperti ini, Al tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Al..." panggil Arnessa lemah. Tubuh Arnessa tidak bergetar lagi. Al membeku merasakan perubahan Arnessa. Beberapa saat kemudian Arnessa kehilangan kesadarannya. Ia pingsan.
Al segera menggendong Arnessa menuju mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setibanya di IGD, Arnessa langsung di tangani oleh dokter disana.
"Dia pernah mengalami operasi ginjal?" tanya Dokter memastikan kepada Al.
"Iya, dok." jawab Al.
"Kapan?" tanya dokter lagi.
"Sekitar 12 atau 13 tahunan yang lalu," jawab Al lagi.
"Jadi selama itu ia hidup hanya dengan satu ginjal dalam dirinya?" Dokter kembali memastikan dan Al hanya mengangguk.
Arnessa sudah di pindahkan ke ruangan. Al duduk di samping tempat tidur Arnessa. Sudah hampir 5 jam, tetapi Arnessa belum juga siuman. Al juga sengaja tidak menghubungi keluarga Arnessa. Beberapa kali ponsel Arnessa bergetar, tetapi Al mengabaikannya.
"Sorry, Nes. You get this hurt cause of me," lirih Al. Tangannya terus saja menggenggam tangan Arnessa.
Askar dan Monika sedang khawatir di rumah karena Arnessa belum juga pulang. Beberapa kali Askar mencoba menghubungi Arnessa tetapi tidak ada jawaban.
"Askar, coba cari Arnessa. Mama takut dia kenapa-napa," pinta Monika dengan cemas.
"Aku udah menelponnya tapi tidak di angkat, Ma." jawab Askar.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOULEUR [COMPLETE]
Romantik"Aku, kamu, penuh luka." Arnessa,si gadis cantik dengan rambut ombre sejak lahir. Rambutnya itulah yang membuatnya terlihat istimewa. Arnessa itu ramah,ceria,mudah bergaul. Setidaknya itu menurut orang di sekitarnya. Tetapi siapa yang tau bagaimana...
![DOULEUR [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/122349720-64-k367505.jpg)