33 (REVISI)

1.8K 106 3
                                        

Budayakan vote sebelum baca ya


Happy Reading

Al sedang bertemu dengan Dokter Alan di taman rumah sakit tempat Dokter Alan bekerja. Sepertinya ada hal serius yang ingin mereka bicarakan.

"Jadi kamu akan kembali ke Perancis, Al?" tanya Alan.

"Sebentar lagi," jawab Al pelan dengan kening mengkerut.

"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Alan cemas.

"Keluarga barunya Arnessa memintaku untuk menjauhi Arnessa, Pa," ungkap Al lemah. Alan mengerutkan keningnya.

"Maksudmu keluarga Abraham?" tebak Alan tepat sasaran. Al mengangguk lemah.

"Arjuna dan Monika itu teman akrab papa dan mama loh," ucap Alan bingung. "Lalu kenapa mereka bersikap seperti itu? Mereka tau kamu anak papa?"

"Justru karena mereka tau aku anak papa, mereka malah melarang hubunganku dengan Arnessa," tutur Al yang terdengar frustasi.

"Hubungan? Kamu dan... Arnessa?" tanya Alan tidak mengerti.

"Aku... mencintai Arnessa, Pa." ungkap Al sambil menunduk. Alan membulatkan matanya.

"Ba-bagaimana bisa?" kaget Alan bukan main.

"Aku sudah menyukai Arnessa sejak pertama kali kita ketemu, pa. Dia cantik, seperti mama." jelas Al sambil tersenyum.

"Kamu benar, Arnessa benar-benar mirip dengan Arana." sahut Alan. "Kamu kangen mama?"

"Tentu saja. Aku sangat kangen mama. Andai mama masih bersama kita." gumam Al sendu.

"Kamu ingin bersama dengan Arnessa?" tanya Alan memastikan. Al mengangguk. "Baiklah, nanti biar papa yang bicara sama Arjuna."

Rico akhirnya mulai magang di perusahaan milik papanya. Rico memulai karirnya sebagai bagian dari tim pemasaran. Rico ingin memulai semuanya dari bawah sebelum ia benar-benar menggantikan posisi papanya itu.

Seminggu kemudian

Al membereskan bajunya dan memasukkannya kedalam koper. Ya, hari ini Al akan kembali ke Perancis. Al akan meninggalkan semuanya di Indonesia, termasuk Arnessa. Tidak butuh waktu lama, Al sudah berada di bandara Soetta untuk check in.

Al melirik jam yang melingkar di tangannya. Setengah jam lagi ia harus check in. Al mengetuk-ngetukkan sepatunya ke lantai karena bosan.

"Al!"

Arnessa tiba-tiba saja muncul dengan nafas yang tersengal-sengal.

"Jangan pergi, kumohon." bujuk Arnessa sambil menggenggam tangan Al.

Al tersenyum kearah Arnessa kemudian melepaskan genggaman Arnessa dari tangannya dengan pelan.

"Bahagia ya sama Askar. Kalau Askar nyakitin kamu, langsung bilang ke aku biar nanti aku yang hajar dia." tutur Al lembut. Al begitu memaksakan dirinya untuk tersenyum kuat di depan Arnessa.

"Ngga, Al. Aku gak mau." Arnessa mulai terisak. Al tersenyum sembari mengelus puncak kepala Arnessa.

"Kamu berhak bahagia walau bukan denganku. Cepat atau lambat, kamu pasti mampu menerima Askar dihidupmu." Al berusaha mati-matian untuk menguatkan dirinya.

'Gue emang pendusta' batin Al

"Al, aku bisa bedain saat kamu bohong ataupun jujur." ungkap Arnessa. Al mendekati Arnessa kemudian memeluk Arnessa.

DOULEUR [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang