Ini mulmednya Askar Raditya Abraham ya
Happy reading
"Kenapa?" tanya Arnessa.
Al diam. Arnessa mengikuti arah pandangan Al dan membuat Arnessa membuka matanya lebar. Di depan mereka saat ini adalah jurang dan kelima orang suruhan itu telah berada di dekat mereka.
Al menggenggam erat tangan Arnessa. Kelima orang suruhan itu kini berada di hadapan mereka.
"Menyerahlah, tuan muda," pinta mereka.
Al menarik Arnessa untuk bersembunyi di balik punggungnya.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tantang Al. "Bagaimana jika aku memilih mati?"
Al menggenggam kuat tangan Arnessa. Arnessa menunduk takut.
"Sampaikan pada daddy, aku tidak akan pulang," sambung Al sambil memundurkan langkahnya.
"Tuan muda!" Orang suruhan itu tercekat melihat aksi Al.
"Al..." lirih Arnessa. Al menatap Arnessa dan seolah-olah meyakinkan pada Arnessa akan tindakan yang akan di lakukannya. Arnessa mengerti. Ia akhirnya mengangguk.
Arnessa dan Al berbalik kemudian memilih loncat ke jurang.
"Tuan muda! Nona!"
Al memeluk Arnessa kuat saat tubuh mereka terpental kemudian terguling ke dataran jurang. Arnessa memejamkan matanya rapat saat merasakan kekayuan menghantam tubuhnya, namun ia juga mampu merasakan hangatnya tubuh Al memeluknya untuk melindunginya.
*
Arnessa kini terbaring lemah di ruang ICU dengan selang oksigen di hidungnya. Beberapa bagian tubuhnya tampak memar dan ada lecet di sekitar tangannya.
Sudah seminggu Arnessa di rawat namun belum juga siuman. Monika terus saja menangis melihat kondisi putrinya itu.
Pada hari ke-8 akhirnya Arnessa membiarkan cahaya kembali menembus matanya. Arnessa perlahan-lahan membuka matanya. Ia menatap sekitarnya yang berwarna putih yang ia yakini adalah sebuah rumah sakit.
"Mama..." lirih Arnessa.
Monika langsung mendekati Arnessa.
"Syukurlah, sayang. Akhirnya kamu siuman juga. Mama panggilkan dokter ya." Monika kemudian berlari keluar untuk memanggil dokter.
Dokter datang untuk memeriksa kondisi Arnessa setelah siuman. Dokter juga memberikan beberapa injeksi melalui selang infusnya.
"Arnessa, kamu jangan banyak gerak dulu. Sekitar 2 minggu kamu tidak boleh jalan dulu ya karena kaki kananmu fraktur. Tapi itu hanya fraktur ringan jadi penyembuhannya tidak lama," jelas Dokter.
"Makasih, dok." kata Monika.
Dokter kemudian pergi meninggalkan ruangan. Monika mendekati Arnessa.
"Ma, Al gimana?" tanya Arnessa tiba-tiba.
"Sayang, kamu harus fokus sama kondisi kamu dulu ya?" bujuk Monika. Arnessa hanya diam.
Askar masuk ke ruangan Arnessa. Tangannya menggenggam sebuah surat.
"Ma, aku mau bicara berdua sama Arnessa. Boleh?" pinta Askar pada Monika.
"Iya, sayang." jawab Monika kemudian keluar dari ruangan Arnessa.
"Apa ini?" tanya Arnessa ketika menerima surat dari Askar.
"Itu dari papamu," jawab Askar.
Dear Arnessa, my little princess
Hello, princess!
How are you?
Dad miss you so much, princess.
Dad miss your smile and everything about you.
Arnessa
Sorry
Dad bought Al back to Paris
Sorry
Dad make you sad
Love you, princess.
we'll met later.
your daddy
Arnessa terisak membaca surat tersebut. Satu sisi ia merindukan sosok ayah angkatnya itu. Namun disisi lain ia begitu sedih karena harus berpisah dengan Al lagi.
Askar menghapus air mata Arnessa dengan jarinya. Arnessa menatap Askar dengan mata yang berlinang.
"Al baik-baik aja, dia akan kembali," kata Askar sambil mengusap puncak kepala adiknya itu.
Tetesan hujan membasahi jendela ruang rawat Arnessa. Arnessa menatap kosong jendelanya. Kini Arnessa sudah mampu duduk.
"Jangan terlalu lama merhatiin hujan, entar sakit." kata seseorang. Arnessa menoleh.
"Hujan itu dingin yang menusuk yang kemudian menuntun kembali ke masa lalu. Hujan jahat dan gue gak suka." lanjutnya.
Arnessa menatap sinis kearah orang tersebut.
"Ngapain kesini?" tanya Arnessa dengan nada tak suka.
Orang itu adalah Rico. Di tangannya membawa sebuket bunga yang kemudian ia sodorkan kepada Arnessa. Arnessa hanya menatap datar bunga pemberian Rico.
"Gak usah di tatapin segitunya. Bunga itu gak bakal memperbaiki apa yang telah lalu." tutur Rico.
"Maksudnya?" tanya Arnessa yang bingung kemana arah pembicaraan Rico.
"Gue datang menjenguk yang sakit. Jadi sudah sewajarnya kan ngasih bunga? Lagian juga gue gak ada maksud buat ngubah persepsi lu tentang gue." jelas Rico.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Arnessa. Rico tertawa.
"Gue tau lu gak suka sama gue. Itu terlihat jelas dari tatapan benci lu itu ke gue. Gue gak tau apa alasannya, tapi otak gue bilang kalau gue emang pantes buat dibenci." kata Rico.
"Baguslah kalau sadar." sahut Arnessa.
"Tapi satu hal yang gue minta, jangan menghakimi cerita yang sama sekali tidak ada lu didalamnya." lanjut Rico. Arnessa menatap tajam kearah Rico.
"Udah selesai? Silahkan keluar." Arnessa mengusir Rico.
"Ok. Cepat sembuh ya." jawab Rico santai. Ia kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Arnessa.
Bersambung.
Sorry kalo kependekan untuk part ini hehe.
Vommentnya ditunggu ya guys
KAMU SEDANG MEMBACA
DOULEUR [COMPLETE]
Romansa"Aku, kamu, penuh luka." Arnessa,si gadis cantik dengan rambut ombre sejak lahir. Rambutnya itulah yang membuatnya terlihat istimewa. Arnessa itu ramah,ceria,mudah bergaul. Setidaknya itu menurut orang di sekitarnya. Tetapi siapa yang tau bagaimana...
![DOULEUR [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/122349720-64-k367505.jpg)