Chapter 1 - I will

11.9K 1K 67
                                    

"Eomma, kita mau kemana sekarang? pulang?"

"hmm... memang jessy mau kemana setelah ini?"

"Es Krim !" jawabnya girang.

"ada-ada saja. kan jessy baru saja makan. memang tidak kenyang?" Tanya sang wanita itu sambil mengelus rambut anaknya sayang dengan sebelah tangannya untuk mengemudi.

Anak perempuan itu mengerucutkan bibirnya "tidak. Itu semua gara-gara orang asing yang tiba-tiba menghampiri eomma tadi"

"maafkan eomma sayang. Yasudah jessy bisa makan es krim.."

"sungguh? Ah.. gomawo eomma. Saranghae" anak itu girang lalu memeluk ibunya

"astaga jessy. Eomma sedang mengemudi !"

"hehe.. maaf eomma" anak itu hanya menyengir tampa dosa. Sang ibu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya.

Anak itu mengamati luar jendela mobil dengan sesekali ikut bersenandung mengikuti lagu yang berputar seisi mobil. Entah perasanya atau memang jalan malam ini agak lenggang dari biasanya.

"ada apa ini?"

"ada apa eomma?" Tanya anak itu bingung melihat wajah ibunya yang mendadak panic.

"tidak tahu. Kenapa—"

"EOMMA AWAS !"

***

Boston, delapan tahun kemudian.

Tidak ada yang mengerti kondisi diriku dengan baik selain diriku sendiri. Tidak ada yang perduli dengan apa yang aku lakuan selain diriku sendiri.

Karena aku disembunyikan keluargaku atau mungkin dibuang, entahlah. Ku manfaatkan waktu ku untuk bersenang-senang seperti yang mereka suruh. Walau aku tidak pernah benar-benar bersenang-senang akan hal itu.

Delapan tahun lebih, bukan waktu yang singkat untuk melupakan segalanya. Ingatan itu masih membekas tanpa terkikis waktu sekalipun. Aku menjalani hariku sendiri dengan kesendirian tiada akhir.

Hari ini adalah hari kelulusanku. Aku menamatkan jenjang kuliahku di Boston jurusan manajemen bisnis. Kelihatan keren? Tapi aku tidak bangga dengan itu. Semua tersa hambar. Waktu yang aku jalani terasa begitu datar.

Aku menatap sekeliling. Melihat teman-teman yang di damping oleh keluarga mereka asik sedang berfoto bersama. Sedangkan aku? Hanya aku satu-satunya yang sendiri disini tanpa di damping siapa pun. Kecuali kiara eonni. Sekretaris yang di percaya ayahku untuk menjaga ku selama ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya mereka tidak pernah datang walau aku memohon sekalipun. Apa yang aku harapkan? aku bahkan diasingkan di Negara orang selama bertahun-tahun.

Aku melangkah kedepan podium saat nama ku baru saja disebutkan mendapat nilai terbaik. Tapi sekali lagi. Aku tidak bahagia.

Aku memasang senyum palsu pada semua orang seakan aku sangat bahagia atas apa yang aku dapatkan. Beberapa kesan aku berikan selama aku berkuliah disini sebagai bentuk formalitas, walaupun aku muak berada diatas ini dan berpura-pura seakan aku bahagia.

Andai eomma disini...

Setelah acara aku keluar aula dan berbaur kepada beberapa teman semasa kuliahku. aku lemparkan senyum kepada mereka sebagai bentuk terimakasih atas ucapan yang aku dapatkan dari mereka.

CamouflageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang