Aku langsung terduduk dijalan menatap nanar kepergiannya yang mulai menjauh dari pandanganku. Bahkan tidak pernah sekali pun ia menatap kearahku walau hanya sekali.
Butir-butir air mata mulai berjatuhan dari kedua mataku. Aku seperti kehilangan penompang didiriku. Aku menangis dalam diam. Ku tatap nanar cincin yang melekat pada jari manisku. Kebahagiaan yang aku rasakan musnah dalam sekejab.
dengan tertatih ku mulai bangkit untuk pergi dari sana. Pikiranku kosong, aku hanya terus berjalan mengikuti arah kakiku melangkah yang membawaku pada sebuah taman.
Ku duduki diriku disana. Aku memandang kosong objek didepanku. Bahkan udara yang bisa membekukanku tidak ku hiraukan, berharap ia kembali kesini untuk menjemputku.
Entah berapa lama aku hanya duduk diam. Bahkan sisa-sisa air mata di pipiku sudah mengering. Tangan dan kaki ku rasanya mati rasa.
Dering ponsel ku disaku mantel menyadarkanku. Dengan perlahan ku angkat panggilan yang berasal dari junmyeon oppa.
"hallo-"
"yena? Kau dimana? Kenapa baru sekarang kau menjawab telponku? Cepat kerumah sakit sekarang !"
Entah mengapa mendengar suara junmyeon oppa yang terdengar panik membuat perasaanku tidak enak. ada apa lagi lagi sekarang?
"ayah serangan jantung..."
Mendadak telingaku tuli seketika, aku tidak dapat mendengar apa yang oppa ku kata kan selanjutnya. Udara seakan mencekik ku, ponsel ku meluncur dari genggaman ku. Bahakan untuk menggerakan tubuhku saja aku tidak bisa.
Ku coba bangkit berdiri untuk pergi ke rumah sakit, walaupun rasanya tenaga ku sudah tidak ada. Aku hampir saja jatuh terduduk ditanah jika tidak ada sebuah tangan menahan tubuhku. Ku dongakan kepalaku untuk melihat orang tersebut.
Menatap matanya membuat mataku mulai memanas. Ku cengkram lengan bajunya erat, menyadarkanku bahwa dirinya benar-benar nyata berada didepanku.
"se-sehun... aa-ayahku.. aa-ayahku.." aku tidak sanggup melanjutkan ucapanku lagi.
'aku merasa kehidupanku dikutuk..'
***
"ayah, bangun. Yena disini,"
"yena, putri kecilmu disini. Jadi tolong buka mata ayah dan jangan tidur telalu lama ayah."
Ku genggam tangan kanan ayah dengan kedua tanganku. walaupun selama ini aku di asingkan keluar negri oleh ayah, tapi aku tahu, itu semua demi diriku. Melihat ia terkujur kaku tidak sadarkan seperti ini membuat hatiku ter iris. Aku tidak akan sanggup kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya.
"na-ya, sebaiknya kau istirahat dan berganti pakaian. Biar bibi yang menjaga ayahmu." bibi choi yura mengelus bahu ku lembut.
"aku ingin menjaga ayah, biar bibi saja yang beristirhat." jawab ku menoleh sebentar dengan senyum tipis terpantri di bibirku.
"tapi kau bisa sakit---"
"aku tetap disini." jawab ku cepat memotong ucapan bibi choi.
Ku lihat bibi choi yura menghela nafas. Lalu beralih menatap ayahku. Ia mendekat lalu mengecup kening ayahku sambil berbisik yang membuatku mengalihkan wajahku kesamping. Ada perasaan sedih menyelinap dihati ku. sampai sekarang pun aku belum bisa memanggilnya ibu.
"cepat bangun, aku dan anak-anak menunggumu.."
Lalu bibi choi menjauh, ia mengusap kepalaku lembut, "jangan lupa kabari aku jika terjadi sesuatu, paham?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Camouflage
Fanfic[Completed] [Baekhyun Fanfiction] Hidup dalam kebohongan dan persembunyian. Perlahan namun pasti, semua mulai terkuak. Keberadaan ku mulai di sadari dan disitulah bukan diriku saja yang bisa terluka. Namun dirinya juga... - Kim Ye Na (Private some...