2 "Malaikat Penolong"

1K 42 6
                                        

"Ok, ibu tutup pelajaran hari ini ya." ucap Bu Dian setelah bell istirahat kedua berbunyi. "Rania tolong bantu ibu bawa buku-buku ini ya." Bu Dian menunjuk pada tumpukan buku yang tersusun diatas meja guru, Rania termasuk salah satu siswi yang aktif di kelas selain Virna, karena kebetulan Rania terpilih menjadi wakil ketua kelas 10 IPA 3 mendampingi Ari sang ketua kelas, hingga beberapa guru langsung dengan mudah mengingat sosok Rania. Namun, mungkin bu Dian lebih suka pada Rania ketimbang Virna yang aktif nya kelewatan.

"Baik bu."

Bu Dian segera meninggalkan kelas diikuti Rania yang membawa sekumpulan buku milik teman-temannya.

Setelah 15 menit Rania telah kembali dari ruang guru dengan ekspresi yang bahagia. Beberapa temannya memandang heran pada Rania.

Rania segera menuju tempat duduknya "Hei guys, ternyata tu cowok ganteng banget dan...." sesaat Rania menghela napasnya "Dia gentle banget. so, dia cowok yang baik." ujar Rania sesaat ketika sampai dikelasnya menemui kedua temannya setelah ia pergi membawa buku tugas teman-teman kelasnya ke meja bu Dian guru Matematika di ruang guru.

"Maksud kamu tuh apa sih?." Virna mengerutkan dahinya menunjukan ekspresi bingung pada teman baru dihadapannya yang terlihat sangat bahagia atau justru terlihat aneh.

"Tauk tuh cewek dateng-dateng langsung heboh." ucap seorang pria bernama Ari yang merupakan ketua kelas 10 IPA 3. Sebagai ketua kelas Ari memang terlihat jutek pada teman-temannya, entah kenapa teman-teman kelasnya memilih dia sebagai ketua kelas.

Saat pemilihan ketua kelas, hanya dua orang yang berani mengajukan diri sebagai ketua kelas yaitu Ari dan Rania, keduanya sama-sama bisa diandalkan, tapi apa daya ungkapan "selama ada laki-laki kenapa harus perempuan." membuat teman-temannya memilih Ari karena dia seorang laki-laki dan membuat Rania akhirnya mengalah menjadi wakil ketua kelas serta membiarkan Ari menjadi pemimpin dikelasnya.

"Suka-suka aku dong jangan ikut campur deh, lagian aku heran sama kelas ini sepertinya kelas ini gak ada laki-laki deh, tega banget ngebiarin cewek bawa buku banyak banget sendirian dikira enggak berat apa, cowok macam apa coba?." Omel Rania pada Ari, ya sebenarnya bukan hanya pada Ari tapi semua cowok yang terhimpun di kels 10 IPA 3 itu.

Beberapa siswa yang mendengar ucapan Rania merasa tersinggung karena merasa derajatnya sebagi laki-laki dijatuhkan oleh Rania.

"Maksudnya apa?." ketus Ari tersinggung.

Sebagai seorang wanita Rania cenderung ceplas-ceplos dan ngomong sesuka hati, itulah karakter Rania hingga teman-temannya sangat cepat mengenalnya meskipun ia juga merupakan murid baru.

"Udah deh ah, ribut-ribut, jadi kamu tuh seneng kenapa?." Virna mulai kepo.

Rania mengalihkan pandangan dari Ari dan memilih melanjutkan ceritanya. "Jadi tadi tuh, pas aku mau ke ruang guru......."

*****

Rania melangkah mengikuti guru matematikanya yang berjalan di depannya, langkah Rania sedikit lebih lambat karena dia tengah membawa setumpuk buku tugas milik teman-teman kelasnya yang baru selesai mengerjakan tugas matematika yang di berikan gurunya itu. "Tidak ada laki-lakikah di kelasku." omel Rania pelan menyadari bahwa hanya dirinyalah yang harus bersusah payah membawa tumpukan buku yang hampir menutupi sebagian wajahnya.

Sesaat langkah gurunya itu berhenti membuat Rania kaget dan tak sempat mengerem langkahnya hingga sebagian buku yang di bawahnya jatuh ke lantai.

"Oh, awas." ucap bu Dian dan seorang siswa yang berdiri di hadapan gurunya bersamaan. Rania mulai menyadari siswa itulah yang menyebabkan gurunya berhenti melangkah. "aku bantu ya." tambahnya sembari membungkuk mengambil satu persatu buku yang berjatuhan dari tangan Rania. Siswa itu kembali berdiri setelah buku yang tergeletak di lantai telah tersusun rapi di tangan kirinya.

Stay Friends [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang