22 "Cemburu"

499 12 0
                                        

 “Terima kasih ya kak, udah mau ngajak aku pergi” ujar Rania ketika ia dan Dafa telah sampai didepan rumah Rania.
     
“Santai aja, aku seneng kok bisa ngajak jalan kamu” Dafa tersenyum ramah, baginya malam ini akan selalu jadi malam terindah yang tidak akan ia lupakan, meskipun Dafa sadar bahwa Rania mungkin tidak akan menganggap malam ini spesial.
      
“Ya udah, aku masuk ya kak, selamat malam” Rania mengakhiri sembari melangkah masuk ke area rumahnya meninggalkan Dafa yang masih berdiri di depan mobilnya.
      
“Selamat malam” balas Dafa pelan, tentu Rania tidak bisa mendengarnya karena Rania sudah jauh dari pandangan mata Dafa.
      
Dafa segera memasuki mobilnya dan mulai melaju meninggalkan halaman rumah Rania menembus malam bersama mobilnya.
      
“Udah pulang sayang” Hana menghampiri putri kesayangannya yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.
      
“Iya mah” balas Rania pelan.
      
“Mama mau ngomong sama kamu” ujar Hana mengelus pelan rambut putrinya, Rania menatap Hana dengan penuh tanya. Meskipun Rania tidak mengerti dengan tatapan ibunya itu, namun Rania mencoba bersikap biasa saja.
      
“Apa?” sebenarnya Rania tidak ingin mendengarkan apa yang akan ibundanya katakan, saat ini Rania sangat lelah ia ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur dan menikmati mimpinya, tapi Rania terlalu menyayangkan itu, dan membiarkan ibunya bicara.
      
“Kamu sudah punya pacar?” tanya Hana seketika membuat Rania membulatkan matanya kaget, tentu saja karena Hana tidak pernah bertanya itu sebelumnya.
      
“Kenapa mama tanya gitu?”.
      
“Sayang, mama tau kamu belum punya pacar, oleh sebab itu kan kamu santai pergi kemana pun dengan siapa saja” Hana mencoba menjelaskan tetapi Rania sama sekali tidak mengerti maksud ucapannya.
      
“Maksud mama?” Rania mengerutkan keningnya meminta penjelasan ibunya.
      
“Kemarin-kemarin kamu jalan sama Ari, sekarang kamu pergi dengan Dafa, mama hanya gak mau kalau sampai mereka menganggap kamu care sama mereka, dan kemudian mereka akan berharap lebih dari kamu” tutur Hana memberi penjelasan, sebagai seorang ibu dari anak gadis semata wayangnya tentu Hana takut jika sampai putrinya terluka atau melukai orang lain.
      
“Jadi mama pikir mereka suka sama Rania?” tanya Rania meminta kepastian sekaligus berharap ucapannya ini benar.
      
“Kenapa tidak? Mama lebih berpengalaman dari pada kamu, mama tau dan Mama yakin mereka suka sama kamu” jelas Hana penuh percaya diri. “Jika tidak, untuk apa mereka mau ngajak kamu pergi, menghabiskan waktu bersama kamu, dan nurutin semua kemauan kamu” Hana menghentikan ucapannya memberikan jeda dengan Menarik nafasnya panjang. “Kamu juga sering cerita kan sama mama, kalau mereka baik sama kamu, dan selalu bisa nyenengin kamu”.
       
Rania terdiam sesaat menatap lekat wajah ibunya, dalam hati Rania membenarkan ucapan ibunya jika Ari dan Dafa sangat baik padanya tapi bukan berarti mereka menyukainya. “Gak mungkin mah, mereka tau aku tuh sukanya sama kak Revien, kak Dafa tau dan Ari juga tau itu, lalu kenapa mereka harus menyukai aku?”. Ujar Rania berpendapat.
       
“Karena mereka tau Revien tidak menyukai kamu” Rania membulatkan matanya tidak percaya jika ibunya akan berkata seperti itu yang tentu saja melukai hati Rania.
       
“Kok mama bilangnya gitu sih” ujar Rania tidak suka.
       
“Kenapa? Mama salah?, apa dia pernah ngajak kamu pergi, ngajak kamu makan, ngasih perhatian ke kamu?. Pernah Revien melakukan itu?” tutur Hana dengan nada kurang bersahabat. “Mama hanya gak mau kalau sampai kamu sakit hati, berharap cinta dari seseorang yang belum tentu mencintai kamu” lanjut Hana lirih.
       
Rania masih dengan posisinya, berdiri dihadapan ibunya dan memandang lekat wajahnya, dari matanya Rania bisa melihat jelas kekhawatiran dari ibunya. Untuk kedua kalinya Rania membenarkan ucapan Hana, selama ini Revien tidak pernah memberikan perhatian padanya apalagi sampai mengajaknya jalan, tapi Rania tidak menyalahkan hatinya, Rania terlanjur jatuh cinta pada sosok itu, pria yang pernah membantunya membawakan buku pelajaran temannya, pria yang pernah melabrak Kartika karena membelanya. Rania lupa, jika Revien melakukan hal sama seperti itu pada siapa pun, tidak hanya pada dirinya.
      
“Aku ngantuk ma, aku mau tidur” ujar Rania seketika mengakhiri sembari berjalan menaiki tangga menuju kamar tidurnya.

Stay Friends [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang