20 "Cinta Rahasia"

499 12 0
                                        

Andien merebahkan tubuhnya diatas ranjang miliknya yang bergambar mikky mouse, dari sudut bibirnya selalu tergores senyuman bahagia, kejadian tadi membuat ia tidak sanggup menghentikan senyumnya dan rasa bahagiannya.

"Aku ingin kamu jadi pacarku" ucapan itu selalu tergiyang dari pikirannya, rasa tidak percaya masih menyelimuti pikirannya, Andien masih menganggap ini hanyalah mimpi, beberapa kali Andien mencoba mencubit pipinya dan hasilnya sama ia merasa kesakitan dan kejadian itu benar-benar nyata.

"Ya aku mau jadi pacar kamu" kalimat itu, kalimat yang Andien ucapkan pada pemuda itu telah kini telah merubah statusnya, Andien tidak jomblo lagi, sekarang ia memiliki seorang kekasih yang akan mewarnai hari-harinya.

Andien menggenggam erat boneka teddy bear miliknya, Andien hanya ingin berbagi kebahagiaan itu pada boneka kesayangannya. Senyuman itu, ya senyuman pemuda itu masih saja terbayang dipikirannya, cara ia mengajak Andien ke kafe tiba-tiba, membawakan bunga, menggenggam erat tangan Andien. semuanya, semua hal yang pemuda itu lakukan pada Andien membuat Andien terbang ke langit, jika boleh meminta Andien tidak akan kembali lagi ke bumi terbang bersama burung-burung dan bernyanyi bersama.

"Kak Revien I love you" teriak Andien girang sembari mencium gemas boneka kesayangannya.

Andien terbangun dari posisi tidurnya dan merubahnya dengan posisi duduk, ia terus membayangkan kejadian yang baru saja ia alami, kejadian yang membuat ia melayang diudara. wajah Revien selalu tergiyang dipikirkannya.

"Kak Revien?" ujar Andien sesaat menghentikan senyumnya dan bayangan kejadian saat Revien menembaknya. "Astaga Andien, apa yang kamu lakukan, kenapa kamu nerima kak Revien, Andien kamu bodoh banget sih Rania kan suka sama kak Revien" Lanjut Andien mulai cemas saat teringat akan sahabatnya Rania yang juga menyukai Revien, Andien terus mengutuk dirinya dalam hati, bagaimana bisa dia lupa jika Rania menyukai Revien.

"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, jika Rania tahu pasti dia akan terluka" ujar Andien lagi menyesal, seketika butiran air mata mulai menetes dipipinya.

Bayangan Andien berubah menjadi tidak karuan, membayangkan segala hal yang mungkin terjadi setelah ini, membayangkan jika Rania menangis dan membencinya, membayangkan jika Rania mulai tidak sudi menatapnya dan tidak mau lagi menjalin persahabatan dengannya, bayangan yang belum terjadi itu membuat dada Andien sesak seketika, "sakit, pasti Rania sakit hati" batin Andien terus menyalahkan dirinya.
Andien segera meraih ponselnya yang sedari tadi tergeletak diatas kasur nya, ia harus menelpon Revien dan mengakhiri segalanya, Rania adalah sahabatnya, Andien tidak ingin menyakitinya.

Andien mulai meletakkan ponsel ditelinganya setelah kontak Revien berhasil ia hubungi. Andien menghapus air matanya dan mulai mengontrol emosinya agar Revien tidak curiga bahwa dirinya sedang menangis.

"Hallo, ada apa?" tanya Revien dari seberang sana menyahut. Rupanya menelpon Revien tidak harus menunggu lama.

"Kak, kita akhiri semua ini ya" Ujar Andien to the point, Andien tidak yakin jika keputusan ini tepat, tapi Andien tidak mungkin melanjutkan semua ini, semua yang akan melukai sahabatnya sendiri.

"Maksud kamu apa? Apa yang harus diakhiri?" tanya Revien bingung, tentu saja Revien tidak akan mengerti maksud ucapan Andien.

"Hubungan ini, kejadian tadi saat kakak nembak aku, anggap saja itu adalah kesalahan" tutur Andien menjelaskan dengan perasaan hati yang tidak karuan, dibalik ia merasa takut Rania terluka ia juga tidak ingin mempermainkan perasaan Revien.

"Kenapa? Kita baru saja memulainya, kenapa harus diakhiri?" tanya Revien lagi bingung, mungkin Revien tengah kaget dan tidak percaya disebrang sana.

Stay Friends [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang