'Segerombolan hujan menyumbang gigil pada rindu ini untukku,
rindu yang menunggu restu langit, dan menunggu sebuah
kepastian.'
-----
"Lohh? Kalian disini?" ucap Allysa tidak tau,
Semua oksigen si restoran itu terasa hampa untuk Nadien, ia tidak tau harus berbuat apa, dan bodohnya yang ia lakukan sekarang hanya tersenyum bodoh.
"Iyaa.." ucap Nadien singkat, Fanya dan Raza sedikit tidak peduli, apalagi Dean, jangan tanyakan tentang dia.
"Gue boleh gabung ngga, kayanya tempat nya udah penuh semua deh" ucap Allysa sambil mengitari seluruh ruangan restoran dengan mata indah nya, ya Nadien berkata jujur bahwa mata Allysa memang sangat indah, dan mungkin juga Dean berfikiran yang sama karena sekarang mata Dean tertuju pada Allysa.
"Oh yaudah duduk aja.." ucap Nadien ramah,
Dengan cepat ia duduk disamping Dean, benar-benar dekat karena yang Nadien tangkap dari matanya, Allysa menggeser bangku itu tepat di samping Dean, Raza dan Fanya benar-benar tidak memperhatikan mereka, mereka mempunyai dunia nya sendiri, dan Nadien, sekarang ia rasa dunianya ingin direbut, tapi mengapa Nadien berfikiran seperti itu? percayalah, bahkan sekarang Nadien belum menyadari bahwa ia nencintai Dean,
"Aku mau ngomong sama kamu" ucap Allysa benar-benar pelan agar Nadien tidak mendengar nya,
"Gaperlu"
"Aku mau ngomong sama kamu di tempat lain, jangan di sini, ohhh atau kamu mau aku bilang disini?" ucap Allysa,
Dengan cepat Dean menarik tangan Allysa keluar dari restoran itu, dan dalam sekejap mereka hilang dibalik pintu itu, Nadien tidak tau, di hati nya benar-benar mengganjal, benar-benar seperti ada ribuan jarum yang mendiami hatinya, dan ia tidak tau apa itu,
"Loh..loh mau kemana itu? Maen kabur aja" ucap Raza bingung,
"Itu mau kemana Din?" ucap Fanya bingung juga oleh kelakuan Dean kali ini,
"Gatau tanya aja sama orang nya" ucap Nadien lalu meninggalkan Raza dan Fanya berdua,
Di taman didekat mall. Disitulah Allysa dan Dean berada sekarang, Dean yang terduduk diam, dan Allysa yang bingung ingin berkata apa, sampai akhirnya ia memulai pembicaraan,
"Waktu itu kamu salah paham, waktu itu aku cuma bercanda nerima dia, itu kita cuma lagi main-main aja, ga beneran, tapi kamu langsung pergi ninggalin aku, dan aku gapernah ketemu kamu lagi, sampe akhirnya kemarin di promnight, aku ketemu kamu lagi" ucap Allysa panjang lebar, yang 90 persen bohong.
"Gue ga segampang itu percaya sama lo, sorry gue ga goblok" ucap Dean sambil ingin meninggalkan Allysa, sampai tangan itu menahan nya, tangan itu memegang Dean lagi,
"Lo bisa kasih gue waktu satu bulan, gua bakal tunjukin kalo yang gua bilang ke lo itu bener"
"Satu bulan Deal?"
"Deal." ucap Dean singkat lansung meninggalkan Allysa,
Nadien menunggu kabar Dean, dan itu benar-benar tidak enak, percayalah, menunggu itu hal yang paling menyakitkan dalam hidup Nadien, Nadien benar-benar kesal, apa saja ingin dia makan kali ini, sampai akhirnya suara dering handphone Nadien bunyi,
KAMU SEDANG MEMBACA
Belatedly Loving
Teen Fiction'Jika saja menyadari cinta tidak sesulit menghapus warna jingga di senja itu, mungkin mereka tak akan jatuh terlalu dalam pada kisah ini.' Arsenio Deano Ali, bisa kalian panggil Dean. Mungkin kalian akan belajar tentang kesetiaan dari masa lal...
