'Lorong ini dipenuhi rindu, membuat mata ini terpaksa menatap sendu, ingin mengadu tetapi hati terlanjur teradu, lalu pilihan hanya satu,
yaitu tetap merindu walau hati
dipenuhi ragu.'
-----
Seorang perempuan paruh baya sedang berjalan disepanjang lorong sebuah rumah sakit ternama, ia ingin segera menjenguk anaknya sepagi mungkin, semalaman ia tidak bisa tidur tenang hanya karena anaknya yang sedang tergeletak lemas di ruangan rumah sakit ini, ia tidak bisa tenang, dari cara berjalannya pun semua orang dapat melihat bahwa ia sedang terburu-buru, ibu Dean langsung berjalan sedikit lari ke ruangan Dean, sampai akhirnya mata mami Dean menemukan sebuah perempuan yang keluar dari ruangan Dean sambil ditemani seorang suster,
"Permisi mba.." ucap mami Dean tepat disamping Nadien,
"Loh.. tante Bella kan? Mama Dean?"
"Iya, sebentar ini siap—Nadien? anaknya Sonia?"
"He..he.. iya tante, tante mau ngejenguk Dean ya? Tapi kok buru-buru banget aku liat dari ujung tadi"
"Siapa sih sayang yang ngga panik kalau anaknya lagi terbaring lemas di rumah sakit" ucap mami Dean dengan senyum lemas nya,
"Permisi mba, boleh saya tinggal? Maaf sebelumnya, tapi sepertinya saya dipanggil oleh dokter Tommy"
"Oh ngga kenapa-napa sus, udah ada orang tua nya kok"
"Baik saya permisi.." ucap suster dan langsung meninggalkan Nadien dan mami Dean,
"Iyasih, dulu kalo Nadien kecapean sampe masuk rumah sakit mamah ga sampe segininya ah" ucap Nadien melanjutkan obrolannya, Seperti menyatakan kesedihannya tetapi sambil mencoba tersenyum perlahan,
"Ke..kecapean?"
"Iya tante, Dean cuma kecapean kan?"
"S..sebentar, kamu tau kalau Dean ditemukan didepan rumah seseorang?" ucap mami Dean sambil membuka ponselnya, ingin melihat dimana letak Dean terjatuh kemarin, karena ia belum sempat mengeceknya akibat terlalu panik dengan keadaan Dean,
"Iya tante, itu dirumah—"
"Dan itu dirumah kamu?!!" ucap mami Dean setelah melihat alamat yang ada di ponselnya sama seperti alamat Sonia ibu Nadien,
"Iya tante, saya minta maaf, mungkin itu kelalaian saya untuk minta coklat ke Dean, saya kira dia ngga beneran ngasih coklatnya, tapi—ternyata dia bener-bener langsung ke rumah tante, dan.."
"Saya minta maaf tante, saya ngga tau bakal jadi seperti ini.." ucap Nadien sambil menunduk,
"Kamu tau Dean kemarin kenapa? Kamu tau?!!" ucap mami Dean mulai menaikan suaranya, Nadien yang tak tahu apa-apa dan mulai bermain dengan pikirannya pun tidak dapat menjawab apa-apa,
"Dean itu kritis Nadien! Anak saya kritis dan itu cuma gara-gara.. keinginan sepele kamu?! Kamu tau? Paru-parunya sudah hancur Nadien! Sudah hancur! Ia harus mencari transplatasi paru-paru secepatnya. Sebelum ia menemui kamu, ia baik-baik saja, lalu? Kamu satu-satunya penyebab Dean kembali lagi ke ruangan ini kemarin sore, kamu Nadien!"
deg. Apa itu benar? Apa yang mami Dean katakan apa itu benar? Petir menyambar tepat dihati Nadien, hatinya sudah rusak, ia tidak tahu bahwa keadaan Dean akan separah itu, ia takut, ia takut kehilangan Dean, hatinya sedang beradu dengan fikirannnya, belum lagi saat ia tahu bahwa Dean benar-benar membohonginya, air matanya mulai keluar dengan perlahan, kakinya yang lemas mulai semakin melemas, alat bantu jalan yang ia gunakan terpelas begitu saja, ia menjatuhkan dirinya ke kursi tunggu disebelahnya, tangannya gemetar hebat, ia tak tahu bahwa permintaan nya membuat keadaan menjadi sekacau ini,
KAMU SEDANG MEMBACA
Belatedly Loving
Jugendliteratur'Jika saja menyadari cinta tidak sesulit menghapus warna jingga di senja itu, mungkin mereka tak akan jatuh terlalu dalam pada kisah ini.' Arsenio Deano Ali, bisa kalian panggil Dean. Mungkin kalian akan belajar tentang kesetiaan dari masa lal...
