'Kalau kamu dengar aku bilang "jangan tinggalin aku" itu artinya rindu bilang dia lagi gamau
merindu akibat kepergian
kamu.'
-----
Apa ada yang salah? Saat dua sejoli mulai mengikuti peran nya, saling menutupi masalah hanya untuk melindungi perasaan kekasihnya, apa ada yang salah? Saat seharusnya mereka saling melindungi, lalu takdir berkata itu akan saling menyakiti, apa yang mereka dapat lakukan? Berteriak tanpa akhir? Merengek penuh beban? Menangis tanpa ujung? Atau bahkan berseteru sampai habis? apa takdir salah? Tidak. Takdir hanya memainkan perannya, dengan baik. Lalu mengapa? Mereka yang seharusnya saling mencintai tapi malah berlaku sebaliknya? Itu karena hati mereka memainkan peran nya dengan lebih sangat baik, mereka mencoba mencari jalan lain menerobos masuk ke masing-masing hati, mencari jawaban dan menjawabnya dengan hati mereka masing-masing, lalu? Mereka membuat kesalahan dan mereka hanya saling menyakiti, lalu? siapa yang salah? Lagi-lagi nihil, tidak ada. Biar mereka yang merakit hati mereka sendiri, biar mereka yang memperbaiki kerusakan-kerusakan itu sendiri, dan biar mereka yang mencari jalan keluar menerobos masing-masing hati, mencari jawaban, dan menjawabnya.
Sinar matahari mengacak-ngacak halus rambut Nadien dengan ramah, tanpa disadari tiba-tiba saja sebuah bulan sabit malam bersarang di bawah matanya, masih dengan menggunakan pakaian sekolahnya ia mencoba bangun dari kasurnya, tapi nihil, sangat sulit, bahkan samgat berat, pundaknya terasa pegal, kakinya sangat lemas, Nadien mencoba menggerak-gerakan tangannya ke kanan dan kekiri di udara, ia mulai merenggangkan seluruh badannya, dan mulai duduk di kasurnya, ia langsung menguncir rambutnya dengan asal menyisakan anak rambutnya yang berkeliaran, ia ingin segera membasuh badannya, semuanya terasa panas dan lengket, dengan segala percobaan nya, ia melangkah secara perlahan,
satu langkah...
dua langkah...
tiga lang—BRUKKKKKK..
----------
Seorang perempuan dengan rambut sebahu sedang terbaring lemas di kamar rumah sakit ternama di Jakarta, dengan tangan yang diinfus dan mata yang sembab membuat siapapun yang melihatnya merasa kasihan, ia bahkan belum sadarkan diri dari setadi pagi,
"Non.."
"Non Nadien?"
"Bangun non..." ucap bi Arum sangat penuh kekhawatiran,
"B..bi Arum" ucap Nadien sedikit terenyah,
"Alhamdulillah non, non Nadien kenapa atuh tadi pagi? Udah tergeletak saja di lantai, bi Arum kaget langsung manggil pak Man, untung aja didepan ada pak Ma—"
"Mama papa dimana bi?"
"Bi Arum udah ngabarin tuan sama nyonya tapi mereka belum ngabarin lagi non"
"Nadien mah gaperlu dibawa ke rumah sakit gini bi, malah ngerepotin bibi nya kan"
"Non itu kecapean, banyak pikiran, syaraf-syaraf badannya juga sedikit bermasalah, sampe rumah bibi pijetin pagi siang sore malem ya" ucap bi Arum sambil menunjukkan senyum menggoda,
"Ih bibi mah!" ucap Nadien langsung memalingkan wajah, dan saat itu ia baru sadar bahwa ia masih menggunakan baju sekolah yang kemarin,
"Oiya bi, bibi bawa baju ganti ngga? Nadien kemaren sore tuh lu..pa ganti baju he..he.." ucap Nadien sambil menunjukkan senyum polosnya,
"Bawa kok non, ini biar bibi elap dulu ya badannya pake towel basah" bi Arum segera mengambil air dari kamar mandi, dan mengeluarkan towel dari dalam tas nya yang sudah ia sediakan semenjak sebelum berangkat kesini,
"Oiya bi, ini jam berapa? Nadien tidur lama banget?"
"Iya non, udah lama, bibi sampe takut, gemeteran nih daritadi—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Belatedly Loving
Teen Fiction'Jika saja menyadari cinta tidak sesulit menghapus warna jingga di senja itu, mungkin mereka tak akan jatuh terlalu dalam pada kisah ini.' Arsenio Deano Ali, bisa kalian panggil Dean. Mungkin kalian akan belajar tentang kesetiaan dari masa lal...
