Sebuah Pertemuan (3)

254 29 5
                                        

'Rindu sedang tertidur dihatiku, ia melanturkan namamu.'
------

"Maafin gue din.." ucap Dean sangat pelan, ntah kenapa ia benar benar merasa khawatir dengan Nadien, efek yang sama seperti yang dulu pernah hadir di hidup Dean, tapi tidak ada waktu untuk memikirkan hal tidak penting itu, yang sekarang paling penting adalah Nadien yang terbaring didepan Dean, wajah nya sangat—manis? tidak bisa dipungkiri, wajah tidur Nadien benar-benar polos dan tenang, Dean tidak bisa memalingkan wajah nya dari wajah Nadien, sampai akhirnya Fanya dan Rena kembali dengan teh manis dan minyak kayu putih nya,

"Ini deee!" ucap Fanya memberikan teh manis ke Dean, dengan santai Dean mengambil teh manis itu,

"Iniii juga ni de, minyak nya!" ujar Rena sambil memberikan minyak kayu putih nya,

"Ya lo inisiatif lah kasih minyak nya ke Nadien, masa harus gue juga, disini yang temen nya gue apa lo pada?" kesal Dean, sebenarnya itu hanya hal sepele, tapi mengetahui Nadien sedang terbaring lemas mempunyai efek kuat untuk emosi Dean, dan Dean tidak tau kenapa.

"ohh gituuya, yaudah ya Dean maafin Rena" jawab Rena dengan sangat polos, karena memang itulah Rena, cewe lugu, sangat polos, dan pelupa, mungkin untuk menculiknya hanya perlu dipanggil saja dia sudah masuk kedalam mobil dengan sendirinya, mungkin— Nah, asal kalian tauu, ia juga mempunyai kembaran laki-laki, apa kembaran nya juga mirip seperti Rena? Hanya Rena dan tuhan lah yang tau,

Rena sudah memberikan minyak kayu putih ke ujung hidung Nadien, Fanya dengan pelan mencoba membangunkan Nadien, akhirnya mata itu terbuka, mata Nadien yang awalnya tertutup rapat, sekarang sudah terbuka lebar, bahkan mulut nya ikut terbuka sangat lebar,

"Aaaawww, ko gua bisa disinii siii, itu lagi, lo ngapain disini juga?" cerocos Nadien,
"Arsenio Deano, iya elooo, kenapa lo disini? Malah ngeliatin gue kaya gue pengen mati ajadeh" ucap Nadien sambil memutar matanya,

"Nih minum, lain kali kalo emang gasanggup, ya gausah, gausah jadi maksain, bikin khawatir." ucap Dean singkat sambil memberikan teh manis, dan langsung meninggalkan UKS.

"Sumpah Din!! Mimpi apa lo semalem, Dean khawatir sama lo!" ucap Fanya dengan mulut yang sudah hampir membentuk huruf O itu,

"Lagian juga Din, Dean itu udah baik tauga, dia bela-belain gendong lu dari kelas kesini! gue sampe ga tega ngeliatnya, kaya di film-film gitu loh!" ucap Rena panjang lebar.

Nadien yang mendengar hal itu hanya menaikan kedua bahu nya, tanda tak perduli, karena menurut Nadien sangat tidak mungkin Dean mempunyai perasaan padanya,

'gamungkin banget lah yaaa gue suka sama dia, cowo ngeselin kaya gitu, mana mukanya datar banget, kaya gapunya urat senyum' batin Nadien sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.

Saat ini, keadaan dikelas sangat ramai, karena pelajaran biologi sudah selesai sebelum waktu nya berakhir, maka dari itu Pak Sulis menyuruh para murid untuk belajar mengenai bab ketiga, tapi keadaan nya berbanding terbalik dengan yang disuruh, sebagian mendengarkan earphone, sebagian sedang membicarakan drama korea kesukaan nya, dan sebagian lagi sedang streaming film, sisanya hanya tidur dimeja paling belakang. Disini, Nadien duduk ditempat nya, asal kalian tau tempat duduk Nadien adalah didepan tempat duduk Dean dan Raza, dan sekarang mereka sedang terjebak didalam lingkaran zona akward, Nadien dengan pikiran nya, dan Dean dengan segala penyesalan nya karena dengan mudah nya mengeluarkan kata 'bikin khawatir'. Ahhh, Dean sangat menyesal sekarang, untungnya sorakan para murid tanda bel pulang berbunyi sudah dibunyikan, dengan secepat kilat Dean segera membereskan meja nya dan bergegas pulang sebelum jantung nya ini keluar dari tempatnya.

Belatedly LovingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang