11. Pengakuan yang sulit

5K 361 5
                                        

Sepulang sekolah prilly memilih merenung di tepi danau, danau yg terletak di tepian halte.

Ia memarkirkan mobil sedan merahnya di depan halte ini, 

Danau itu terlihat sangat indah meski sunyi, ya prilly memang sering datang ke sini, 

Danau yg sangat sejuk dan danau yg menjadi saksi betapa ia bahagianya tertawa bersama sang ayah & bunda

Prilly duduk di jembatan kecil, ia mencelupkan kakinya kedalam air,
angin sejuk menerpa wajah cantik prilly bahkan tangan prilly pun bisa merasakan goyangan dri rumput ilalang, 

Sejenak prilly bisa tenang di tempat ini. Perlahan prilly memejamkan matanya lalu membuang nafasnya gusar.

"Bunda? Inget ga saat pertama kali kita dateng ke danau ini? Dulu bunda pernah cerita sama prilly, kalo dulu danau ini merupakan saksi biksu antara cinta pertama bunda dan ayah. Waktu itu ayah ngajak bunda ke tempat ini dan nembak bunda disini? Uh sosweetnya"

"Kapan ya prilly nemuin cinta pertama prilly? Prilly pengen deh nemuin cinta pertama prilly yg sekaligus bakal jadi cinta terakhir prilly. Emm tapi kayaknya belum saatnya bun"

"Bunda? Apa bunda denger semua ucapan prilly? Apa bunda liat prilly dari atas sana? Prilly kangen hiks"

Prilly mencurahkan segala unek-uneknya bahkan wajahnya saja sudah sembab oleh air mata, namun prilly tetap memejamkan matanya.

Ia tau hanya tempat ini yg bisa meredam segala tangisnya. Jujur saja prilly rindu sosok bunda & ayahnya.

"Emang bunda lo kemana?"celetuk seseorang yg sedari tadi berdiri di belakang prilly,

Degh
prilly langsung menoleh ke belakang,

"Lo?"

"Hay?"pria itu duduk di samping prilly, ia ikut mencelupkan kakinya ke air danau.

"Lo siapa?"prilly menatap pria ini dgn intens. Sepertinya prilly pernah melihat wajah itu.

"Gw rasya, kapten basket dari sekolah SMK rembulan. temennya ali yg ketemu di koridor tadi"jelasnya lalu menyalurkan tangan pada prilly.

"Oh"sahut prilly malas. Gadis ini malah memilih mengayunkan tangannya untuk memainkan air. 

Rasya tersenyum kecut dan menarik uluran tanganya lagi, apa prilly tidak mau mengenalkan namanya? Apa prilly sejutek ini?

"Emm, kayaknya lo belum jawab pertanyaan gw yang tadi deh?"rasya melirik prilly bahkan menatapnya dengan tatapan kagum akan kecantikan natural prilly.

"Yang mana?"sahut prilly tak mengalihkan pandangannya dari air danau

"Emm bunda lo?"tanyanya penuh ragu

"Bunda.. bunda udah meninggal, lo kenapa bisa ada di sini?"

"Sory gw gak maksud bikin lo sedih"gumam rasya tak enak hati

"Lo kenapa bisa ada di sini?"tanya prilly lagi. Entahlah saat ini prilly sangat sensian

"eee itu, gw.. gw ngikutin lo tadi. Iya ngikutin lo"gugupnya menggaruk tengkuk

"Gw harus pulang, permisi"prilly berdiri lalu berjalan cepat menuju mobilnya, prilly memang seperti ini. Ia tak mau ada seseorang yg tau jika ia tengah bersedih, bukan kah itu aneh?

Rasya terus menatap kepergian prilly, matanya tak berkedip sedikit pun.

"cantik"gumam rasya

Puk
"udah jauh kali, gak usah serius gitu ngeliatinnya"seseorang menepuk bahu rasya dari belakang.

First LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang