Dua minggu kemudian..
Tepat setelah malam itu, semuanya berubah. Benar apa yang di ucapkan Ali, keduanya benar-benar membuka lembaran baru.
Hanya saja, lembaran ini berbeda.
Tak sama seperti dulu.
Keduanya seperti merangkai cerita sendiri. Bukan merangkai alur yang sama di setiap paragrafnya.
Lembaran baru di buku yang terpisah.
Prilly berjalan menelusuri koridor sekolah, tatapannya kosong. Ia memikirkan semua keganjalan Ali di hari ini.
"Ali kenapa ya?"
"Tumben dia pergi duluan."
Tak ada senyum manis Ali yang menyapanya di depan rumah, tak ada Ali yang mengajaknya sarapan bersama ataupun berangkat bersama. Kemarin mereka masih bermain, bercanda, lalu kenapa sekarang Ali seolah menghindarinya?
Prilly mengedarkan pandangannya melihat seluruh lapangan. Keadaan di sini masih sama, setelah absen selama kelas meeting dan libur kenaikan kelas selama dua minggu, Prilly seolah menghindar dari keramaian.
Hari ini adalah gelar baru untuknya. Gelar sebagai senior di sekolah, kelas baru hingga status yang baru pula. Apa lagi kalo bukan single?.
Ali memang meminta maaf bahkan mengungkapkan perasaannya, tapi Ali tidak memintanya untuk balikan. jadi mereka resmi putus, seperti apa yang terjadi di studio itu.
Mila dan Grite berlari dari arah parkiran, mengejar Prilly yang terus mengabaikan panggilan keduanya.
Saat sudah beriringan keduanya langsung mengoceh, siap merusak pendengaran Prilly.
"Pril, tadi gue liat si Alibaba di parkiran. Lo harus denger ini, Dia ngangkut biji cabe di mobilnya!. Heran gue, waktu kalian pacaran aja dia selalu pake motor! Sedangkan si Manda? Sial!."adu Gritte dengan tangan terkepal.
"Jadi, siaran di televisi itu real ya. Bukan hoaks? Ali beneran mutusin lo demi si anak ayam itu?"tanya Mila
Prilly diam, terus berjalan. Gritte melirik setiap siswa siswi yang menatap ketiganya secara terang-terangan.
"Lo tau? Semua adek kelas mandang lo dengan tatapan iba. Rasanya pengen gue colokin mata mereka pake garpu sekarang juga."terang Gritte dengan suara lantang hingga membuat mereka menunduk takut.
"Andai aja ya, gue ada di sana waktu itu. Udah gue cakar mukanya Ali yang sok kegantengan."geram Mila.
"Jangan! Mending kita mutilasi aja biar puas."usul Grite
Prilly terus diam, ia menghentikan langkahnya sejenak. Menatap Mila dan Grite bergantian.
"Pril? Lo gak apa-apa kan?" Tangan Mila mengusap pipi Prilly.
"Sorry ya, selama liburan gue gak nginep ataupun main ke rumah lo. Gue pulkam sama nyokap."lirih Mila
"Gue juga sibuk ngurusin nenek yang lagi sakit."sendu Grite
"Gue baik-baik aja." Prilly tersenyum sendu "Ayo kita lihat daftar pembagian kelas dua belas."ajaknya mengabaikan semua perihal menyakitkan tentang Ali.
***
"Nanti pulangnya temenin gue ke mall ya? Gue pengen beli makeup. Soalnya krim muka sama lipblam gue abis."
"Sekalian kita ngedate dulu di resto langanan aunty."
"Disana ada menu baru. Gue udah gak sabar pengen nyobain makanan ala jepang. Terakhir gue makan di sana itu sebulan lalu. Rasanya pasti lebih enak."
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love
Humor-Bila bibirku terus bungkam, bila langkahku terhenti, dan bila nafasku terkunci, percayalah mata ini tak pernah lepas untuk mencari kemana pun kamu pergi- ~♡~ "Hahaha gak usah makan lo mah pil! Badan udah segede upil nga...
