21. Tantangan

4.5K 332 11
                                        

Perlakuan rasya kini jadi pusat perhatian, kebanyakan itu dari sekolah ali. Mereka langsung membenci rasya. Lagipula mereka juga merasa aneh, bukankah dulu ali dan rasya sangat akrab?

Teman-teman rasya pun langsung menghampiri rasya dan membela rasya.

Priittt..

"Heyy.. kita mau tanding basket bukan tauran! Mau di lanjut atau censel aja hah?"sentak wasit yg memisahkan semuanya

Rasya menatap ali dengan tatapan sinis, ia yakin ali masih sakit. ada kesempatan luas untuk memenangkan permainan ini. Jika dulu ia kalah, kali ini ia tak akan kalah untuk yang ke dua kalinya.

Rasya mendekati ali lagi, tejay & verel akan menghalangi namun ali mengerti ingin rasya. Rasya diam di samping ali,

"gue tantang lo kali ini, kalo lo menang, lo boleh ambil prilly. TAPI! Kalo gue yang menang, jangan harap lo bisa deketin dia"remeh rasya kemudian melangkah pada barisannya.

Ali diam, ia memejamkan matanya sembari menarik nafas. Sesak yang ia rasa, ali sendiri tak yakin jika ia bisa memenangkan pertandingan ini dengan kondisinya yang masih belum stabil.

"Maafin gue pril! gue sayang sama lo"batin ali

-♡-

Disisi lain, mila dan gritte berlari menghampiri prilly yang sedang mengerjakan tugas di taman belakang sekolah.

"Pril.. prill.. lo harus liat pertandingan itu, lo pasti bakal syok kalo liat, sekolah kita ketinggalan banyak poin pril.. dan tadi pas pertandingan belum di mulai, ali sama si.. ah siapa si itu ketua team basket dari SMK rembulan.. mereka ribut di lapangan"tutur itte tergesa-gesa.

"Rasya?"prilly mendelik menatap dua sahabatnya. Keduanya langsung mengangguk mendengar nama itu.

"Kenapa bisa ribut?"
Alis prilly bertaut, sebenarnya ada apa?

"Mana gue tau, mending lo liat langsung sekarang!"

"Gue lagi nanggung!"elak prilly

"Ah lama, ayoooo"mila menarik prilly kasar, mau tak mau prilly pun ikut berlari menuju lapangan.

-♡-

"Li, lo kalo gak kuat istirahat aja. Biar si boby yang gantiin lo. Perut lo masih sakit, jangan di paksain"verel ngeri melihat ali yang memegangi perutnya. Sesekali verel melirik tejay yang menghadang permainan rasya.

"Gue baik-baik aja, jangan sampe poin kita makin ketinggalan. Gue masih bisa main kok rel. Lo tenang aja! Bentar lagi juga kan istirahat jadi gue bisa kalahin dia di sesi ke dua"sahut ali dengan nada meringis.

Ali kembali melihat ke bangku penonton, dimana pujaannya?

"Yaudah oke, lo tenang aja. Kita pasti menang lagi"yakin verel menepuk bahu ali.

Ali mengangguk lalu bermain kembali. Ya meski harus menahan rasa sakitnya.

"Aliiiiiiii, lo pastiii bisaaaaaaaa!!!"pekik seorang gadis dari kloter SMA Bintang 26. Bahkan suaranya lebih ali tunggu dari pada support dari chiliders di pinggir lapangan ini.

"Prilly?"gumam ali yang yakin kalau itu adalah suara prilly. Ali memusatkan pandangannya pada asal suara, terlihat jelas! Senyuman manis yang mampu meredakan sakit ali.

Ali membalas senyuman tulus itu. Bahkan milik ali lebih tulus dan, hangat.

Bhukkk..

"Awwss"ringis ali ketika seseorang yang sengaja menghantam bahunya

First LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang