Melihat ali dan prilly terus saling tatap, pria itu lebih memilih pergi meninggalkan sekolah ini..
"Jay, si rasya kenapa cuma ngeliatin di kaca? Kenapa gak masuk aja? Heran gue, eh tapi dia baik ya mau nolongin ali, salut loh gue padahal mereka baru kenal beberapa hari, itupun kenal karna pertandingan basket"verel mengoceh melihat tingkah rasya yang sedari tadi hanya diam menatap ruangan ali dari luar,
Sebenarnya verel dan tejay ingin menjenguk ali tapi ia baru bisa keluar kelas sekarang, untung saja kelasnya saat ini free dari guru.
Tejay dan verel lebih memilih masuk ke ruangan ali.
Cklek
"Li tadi.. upss"
Verel langsung mingkem ketika melihat prilly masih dalam posisi memeluk ali yg tengah berbaring di blangkar. Tejay menyikut verel, menyebalkan bukan jika mereka mengganggu momen itu.
"Emm gue harus ke kelas! Permisi"
Prilly menjauhkan tubuhnya dari tubuh ali. Jujur ia sangat malu, pipinya memerah bahkan ali melihatnya.
Pasti dua sahabat ali itu akan salah paham. Bagaimana tidak? Dua musuh bebuyutan sekarang malah saling peluk?
Lucu bukan?
Ali hanya diam menatap prilly yang kini merapihkan rambutnya. Ia tak peduli dengan ledekan dua cunguknya itu. Yang jelas ali sangat bahagia dengan semua perlakuan musuhnya -prilly.
"Pril"ali menahan tangan prilly yang hendak pergi
"I..iya? Kenapa li?"prilly menatap tangannya yg tengah di genggam ali. Kenapa ali selalu bisa membuat desir darahnya semakin melaju kencang.
"Thanks ya, lo udah bantuin gue dan udah ngobatin luka gue tadi" ali tersenyum tulus pada prilly. Apa ali tau? Prilly di buat melambung tinggi oleh senyuman manisnya.
"Yes it's oke,"
Prilly hendak berjalan namun ia berbalik dan,
"oh iya ngil! Cepetan pake baju lo, Biar gak ada guguk yg ngiler pas liat lo lewat. Bye!"ledek prilly dgn menahan tawanya. Lumayan sedikit menghilangkan kegugupannya. Ia pergi meninggalkan ruang rawat ali.
Verel & tejay saling tatap. Keduanya menahan tawa mendengar ledekan prilly. Saat prilly benar-benar pergi keduanya lagsung tertawa terpingkal.
"BHAHAHAHA.."
"Heyyy! perut gue kan lagi luka. Jadi hak gue dong kalo gak pake baju! Bilang aja kalo lo gak tahan liat tubuh sispek gue! Gue tau itu, lo lagi ngiler karena otot gue menggoda iman lo kan? ughh dasar Upiilll.. awss awss sakit"pekik ali kesal ia langsung merintih kesakitan gara-gara ia lupa akan bangun dari tidurnya. Ia lupa pada luka di perutnya.
Masih terdengar jelas oleh prilly, ya karna prilly diam di depan pintu. Sungguh ali sangat lucu pikir prilly.
"Bhahahahahaha, tiati lo li di kejar-kejar anjing. Lagian badan tulang mulu malah telanjang dada bahahaha! So cool dah.. haha"tawa verel pecah seketika. Ia tertawa membahana memegangi perutnya.
"Bhahaha, itu berati lo menggiurkan li. Bagi anjing hahahaha.."tambah tejay tak kalah geli.
Ali hanya memanyunkan bibirnya, baru saja ia bahagia di perhatikan prilly. Tapi kenapa prilly berani meledeknya? Di depan dua sahabat gilanya pula. Tengsinkan?😆
"Dasar upil, liatin aja! Gue bales nanti. Eh jangan deh, kasian dianya. Dia kan udah baik sama gue"pikir ali. Ia tersenyum membayangkan mata prilly lagi.
Bayangan prilly tadi sungguh membuat ali terhipnotis. Apalagi saat mengingat prilly telaten mengobati lukanya,
"calon istri idaman!"batin ali ia tersenyum lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love
Humor-Bila bibirku terus bungkam, bila langkahku terhenti, dan bila nafasku terkunci, percayalah mata ini tak pernah lepas untuk mencari kemana pun kamu pergi- ~♡~ "Hahaha gak usah makan lo mah pil! Badan udah segede upil nga...
