26. Memilih

5.4K 400 25
                                        

Helaan nafas terdengar oleh Rasya.

Prilly menjawab sapanya dengan berat hati.

"Gue, baik.."

Prilly memalingkan wajahnya lalu berkomat-kamit dalam hati. "Sebelum lo datang!" Ia meneruskan perkataannya yang tadi.

Dari awal Prilly memang tidak menyukai pria ini. Jika di ingat-ingat, Ali pernah berusaha membuat Prilly menyukai Rassya. Tapi, itu mustahil.

Apalagi Prilly tau sifat sok dia, yang berharap di anggap pahlawan pada saat Ali celaka dulu. Ya, Prilly akan ingat itu sampai kapan pun.

Apa dia gak ikhlas ya pas bantu Ali waktu itu?' Batin Prilly

"Udah mau pulang ya? Mau gue antar?"

"Emm.. gue mau ke suatu tempat dulu. Kayaknya lama juga, jadi makasih. Gue gak mau ngerepotin lo, Sya."

"Kalo lo gak keberatan, gue malah seneng bisa antar lo kemana aja."

Prilly memanyunkan bibirnya dalam diam. "Batu emang, kalo Ali tau. Bisa abis gue!"batinnya.

"Gimana?"tanya Rasya kekeuh sambil memiringkan wajahnya.

"Sebentar, gue harus hubungi seseorang dulu."

"Oke.."

Prilly berjalan beberapa langkah untuk menjauhi Rasya. Ia segera menghubungi Ali meminta pendapat.

Itu salah satu aturan yang sudah Ali ucapkan semalam. Prilly harus meminta ijin padanya bila hendak berpergian ke mana atau bersama siapa.

Entah kenapa Ali berubah jadi protektif seperti ini.

Tutt..

Tutt..

"Angkat Ali!"

Nomor yang anda tu...

Bipp..

Tak gentar Prilly terus mencoba ulang hingga melebihi sepuluh panggilan, tapi tetap saja hasilnya nihil.

"Sok sibuk banget sih!" Prilly melirik Rasya yang masih setia di tempatnya. Tangannya mengetik pesan pada Ali. Setelah itu ia kembali mendekati Rasya.

Prilly tersenyum membuat Rasya diam sejenak karena terpesona olehnya. "Ayok.."ujar Prilly yang segera di angguki Rasya.

~♡ ~

"Jadi sekarang gimana?"

Ali menatap dua sahabatnya yang duduk di kursi studio milik Kevin ini.

Keduanya diam saling melirik dalam keadaan berpikir.

"Apa lo mau balas dia dengan kekerasan juga?"tanya Tejay.

Ali menahan gejolak amarahnya, ia menghembuskan nafas secara gusar. "Gue gak seberengsek itu Jay. Gue gak mau kalo nanti Prilly yang bakal kena incar si anak kecebong itu"

Verel mengangguk mengerti. "Gimana kalo kita libatin Prilly di sini?"

"Maksud lo?"pekik Ali dengan tatapan tajam. "Lo mau Prilly dalam bahaya?"

"Gak, bukan gitu. Coba lo pikir deh Li, Rasya mau berbuat apa aja demi dapetin Prilly. Otomatis dia udah terobsesi kan, sama cewek lo itu. Gue rasa mainin batin dia lebih pas dari pada fisik."

"Benar. Fisik bisa sembuh secepat obat dokter, tapi kalo hati? Mainannya mental bro.."tambah Tejay.

Ali menggelengkan kepalanya. "Gak! Gue gak akan biarin dia sentuh milik gue secuil pun. Mau itu kulit atau ujung rambut sekalipun."

First LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang