Pinggir jalan alun-alun jakarta, lihatlah! senja yang indah kian menambah keromantisan bagi setiap pasangan yg kini tengah memadu kasih dan menikmati masa remajanya di alun-alun kota.
Tapi itu tak berarti bagi pasangan yg satu ini.
Ralat! Lebih tepatnya pasangan gulet beradu argumen bukan pasangan kekasih.
"Lo jangan kegeeran ya pil! Gue ngajak lo makan cuma karna gue bosen makan sendiri. Jadi lo jangan mikir kalo gue ngajak lo ngedate!"seloroh ali dengan mulut yang penuh dengan bakso.
"Bukannya lo yang anggep ini ngedate ya ngil? Lagian ya. Mana ada ngedate di pinggir jalan" ledek prilly
"Kalo ngedate tuh enaknya di pinggir danau li, di hiasin lampion cantik, banyak kunang-kunangnya apalagi kalo di tambah petasan. Ahh romantisnya! oh iya satu lagi gak usah pake kursi, jadi habis ngedate kita bisa tiduran sambil mandang langit yg penuh bintang-bintang. Emmm indahnya kaya drama korea, apalagi kalo cwonya itu lee minhoo atau engga si cute Luhan Xi, eh yook sungjae juga gakpapa gue ikhlas"tutur prilly panjang lebar, bahkan bakso yg sudah ia tusuk pun tak jadi ia masukan kemulutnya ia membayangkan betapa indahnya masa pacaran, meski ia belum pernah pacaran tapi ia sering menonton drama korea jd halusinasinya tinggi.
TUK
"Dasar bodoh! Makanya jangan kebanyakan nonton drama korea, kalo lo tuh pantesnya nontoin film bisikan alam gaib. Biar otak lo gak terlalu halusinasi yg ketinggian. Oh ya satu lagi apa bagusnya ngedate di danau? Lo mau makan atau nyari kecebong sih! Yg namanya ngedate tuh di kafe mahal! Bukan di danau apalagi hutan!"ucap ali yg sukses menggetok jidat prilly menggunakan sendok
"Isshh rese, tapi sayangnya gue lebih suka ngedate yg sederhana tapi berkesan di banding glamor tapi hamburin duit gak jelas, eh tunggu? Perasaan tanpa nonton pun gw selalu kena bisikan gaib di sini"cetus prilly dan melanjutkan memakan baksonya.
Sedangkan ali? Ia malah geram namun ia kembali melanjutkan makannya, bagi ali, percuma meneruskan debat dgn prilly.
Tapi satu yg ali tau, ternyata prilly anak yg asik, ia berbeda dengan wanita yg pada umumnya sangat suka pada hal yg berbau glamor.
"Oh iya, kemarin gue udah bayar hutang lo di bik santi"
Glek
Prilly menelan bakso yg ia kunyah namun belum sepenuhnya ia kunyah. Bagaimana ini? Prilly kira ali tidak akan membayarnya, jika sudah begini pasti ali tau kalau ia memang memiliki niat untuk memberi ali air minum.
"Lo.. u..udah bayarin?"
"Hemm satu botol aqua sama dua mangkuk bakso kan?.. kenapa? Gak usah gugup kali, kunyah yg bener baksonya pil entar keselek"ledek ali tapi ia fokus dengan makanannya.
"Sial, bi santi pake pelet apa sih ampe dapet bayaran dua kali lipat"gumam prilly pelan merutuki kebodohannya. Ia pikir ali beneran membayarnya, tapi kenyataannya? Tidak.
"Pelet upil"celtuk ali yang mendengar perkataan prilly.
"Iishhh, mana ada"decak prilly
"Balik yuk udah malem, lo mau balik bareng gue apa sendiri?"tanya ali yang kemudian membayar bakso keduanya.
"Lo tega li? Ikut aja yaa?"prilly memelas, ia mengekori ali di belakang.
"Gak usah di jelek-jelekin juga mukanya, lo udah jelek dari lahir, ayo buruan naik!"
Prilly langsung menaiki motor ali lalu ali segera melajukan motornya.
Canggung? sepanjang perjalanan hanya diam.
"Li.. grimis?"pekik prilly tepat di telinga ali yg mengenakan helm
"Gue tau, gak usah teriak juga! Jam berapa sekarang?"
Prilly melirik arloji nya.
"Jam setengah sembilan"
"Om rijal ada di rumah?"tanya ali lagi namun tetap fokus melajukan kendaraannya
"Engga! Dia masih di jepang"jawab prilly lirih
Hujan semakin deras, ali langsung menepikan motornya di depan ruko kosong. Prilly turun lalu mendongkakan kepalanya menatap hujan.
Tangan prilly terangkat menadah air hujan.
Prilly suka hujan!.
Ali membuka jok motornya dan memberikan tas kecil pada prilly.
"Pake,"
Prilly membukanya, matanya menatap ali yang sedang menggosokkan telapak tangannya. Ia tak suka rasa dingin seperti ini.
Ali benci hujan!
"Jaket hujannya cuma satu?"tanya prilly, ali menoleh padanya
"Kenapa?"
"Lo nanti pake apa?"prilly tidak tega melihat ali yang sudah kedinginan akibat terkena cipratan air hujan.
"Pake aja, gue tau lo pasti butuh itu. Buruan! mau sampe kapan kita di sini"
"Tap.."
Ali meraih jaket yang ada di tangan prilly, ia mendekatkan dirinya pada prilly lalu memakaikan jaket itu yang kebesaran di tubuh mungil prilly.
Prilly terpaku di tempatnya. Wanita mana yg tidak berbunga-bunga jika di perlakukan sespesial ini?
Srett
Ali menarik resleting jaket itu hingga ujungnya tepat di bawah dagu prilly.
"Jangan baper, jangan baper, jangan baper!"batin prilly merutuki kegugupannya.
"Maa..makasih"ucap prilly terbata-bata
Ali tersenyum sinis.
"Gue tau lo lagi ngarep di pakein kaya di drama korea kan?"celetuk ali
Gadis itu langsung mengangakan mulutnya, sulit di percaya! Ia pikir ali tulus melakukannya, ia pikir ali takut prilly sakit tapi ternyata?
Prilly geram bukan main. Ia langsung naik dan menggetok helm yg ali kenakan dengan keras.
"Aws.. lo kenapa si?"
"Buruan!"cetus prilly
"Pegangan!"printah ali namun tak di dengar oleh prilly
Prilly pegangan tepat pada kaos ali yg sudah basah.
Ali tersenyum sinis lagi dan langsung menarik gas dengan sekali hentakan.
"Kyaaaaaa.."prilly menjerit dan refleks memeluk ali dengan eratnya
"Bhahahahaha.."tawa ali pecah seketika
"ALIIIII...."jerit prilly
Ali malah semakin menaikan kecepatan laju motornya bersamaan dengan pelukan prilly yang semakin erat.
Perlahan senyum ali melebar,
Jujur ia merasa nyaman dalam pelukan prilly. Begitu juga dengan prilly, bibirnya bisa menyangkal namun hatinya tetap bertolak belaka.
Prilly merasa nyaman!
Lagi, rasa nyaman itu mulai menghantui ali dan prilly.
Biarlah mereka tau jika keduanya tengah merasakan dampak dari benih cinta, meski mereka masih belum menyadari itu.
Namun,
waktu akan menjawab.
Betapa kuat rasa itu kian menerka.
🍃🍃🌹🍃🍃
Bekasi, 09 Desember 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love
Humor-Bila bibirku terus bungkam, bila langkahku terhenti, dan bila nafasku terkunci, percayalah mata ini tak pernah lepas untuk mencari kemana pun kamu pergi- ~♡~ "Hahaha gak usah makan lo mah pil! Badan udah segede upil nga...
