8 - Hati Yang Terombang-ambing

14.6K 1.7K 46
                                        

Suara televisi mengisi seluruh ruang tamu. Volume suara memang tidak terlalu keras, tapi setidaknya berhasil membunuh sepi di ruangan kecil itu. Menemani Sena yang sedang fokus mengerjakan tugas sekolah yang akan dikumpulkan di hari Sabtu. Masih lama, tapi dari pada menganggur, Sena putuskan untuk mengerjakannya malam ini, malam Rabu.

Pintu depan di ketuk. Sena melirik jam dinding. Ia tidak jadi beranjak, sudah tahu siapa yang ada di luar, “Nggak dikunci.” Teriaknya.

Beberapa saat kemudian Gani masuk dengan wajah lelah seperti biasa—baru pulang kuliah. Sena hanya meliriknya. Gadis itu mendumel di dalam hati tentang kenapa Kakaknya selalu mengetuk pintu sementara ia jelas bukan tamu? Seharusnya dia bisa langsung masuk saja, kan?! Kalau-kalau pintu dikunci pun, dia kan selalu pegang kuncinya!

Gani meletakkan kantung plastik hitam di meja. Laki-laki itu ikut duduk bersama adiknya di sofa rumah yang tampak lama, “Gimana sekolah?”

Sena tahu Gani berbasa-basi, “Lumayan... Semakin hari semakin buruk.” wajah menjengkelkan Dika terproyeksi begitu saja.

“Biasakan diri kamu, Sen. Kalau sudah nyaman, perasaan suka akan mengikuti.” Ujar Gani. Sangat bijak, jika yang mendengar bukan telinga Sena tentunya.

“Itu sangat membantu. Terimakasih, Kakak...” jawab Sena sarkastis. Kalimatnya menunjukkan seolah-olah nasihat Gani sangat bermanfaat. Sementara nada bicaranya, mengisyaratkan ia benar-benar tidak butuh dinasihati. Yah, setidaknya Gani menyadari itu. Hingga membuatnya berhenti membahas tentang sekolah Sena.

Sekali lagi suara televisi mendominasi saat penghuni rumah sama-sama terdiam. Sena berkonsentrasi menulis. Seluruh fokusnya berpusat pada buku dan pena. Sementara Gani, matanya menatap layar televisi. Tidak, Gani bukan sedang menonton acara berita yang tayang. Pandangan kosongnya itu menunjukkan kalau ada yang mengganggu pikirannya. Memang ada, dan berhubungan dengan televisi. Sebetulnya masalah ini sudah memenuhi kepala Gani sejak seminggu lalu.

“Apa kita... maksud Kakak, apa kamu... sangat butuh televisi itu, Sen?” tiba-tiba Gani mengeluarkan suaranya.

Pertanyaan itu menganggu Sena. Ia menoleh untuk membaca pikiran Gani dari matanya. Ternyata benar, perkiraan Sena benar soal maksud pertanyaan tadi, “Dua minggu lalu, komputer sudah dijual. Sekarang televisi juga? Ide yang bagus buat bikin rumah ini lebih luas. Dan... membosankan!”

“Kakak sangat butuh uang untuk bayar kuliah...” Gani menelan ludah, ia jelas tahu kalau Sena keberatan, sebagai seorang kakak, ia juga tidak ingin mengabaikan apa yang Sena pikirkan. Tapi masalahnya, situasi Gani sangat terdesak sekarang. Satu-satunya cara yang Gani anggap bisa jadi solusi adalah dengan menjual barang-barang. Ia pikir solusi ini jauh lebih bijak ketimbang harus hutang pada orang.

“Separah itu ya hidup kita sekarang...?” celetuk Sena setelah sempat bungkam cukup lama. Selang beberapa detik, gadis itu malah tertawa. Tawa yang hambar, “Aih, seharusnya nggak perlu ditanya. Jawabannya sudah jelas juga.”

“Secepatnya Kakak pasti dapat kerjaan. Kakak lagi berusaha.” Gani coba menenangkan emosi Sena.

Rongga dada Sena bergejolak, terasa penuh dengan berbagai perasaan tak terdefinisi. Kejadian saat Ratih ditindas oleh Eva waktu itu berputar cepat di kepalanya. Semua ini membuat tekanan untuknya, tidak bisa dipungkiri. Cepat-cepat gadis itu membereskan buku-buku dan alat tulisnya. Tempat menangis favoritnya bukan di ruangan ini, dan bukan di harapan Gani.

LovakartaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang