Yogyakarta, 2005
Banyak orang bilang cinta pertama tak akan pernah berhasil.
Ah, kalau kata saya, mereka hanya mudah patah karena kesempatan kecil.
Sebenarnya, gagal itu bukan kutukan. Tapi hasil dari terlalu membiarkan takut ikut andil.
Nana, saya menulis ini sambil membayangkan kamu tersenyum kecil.
Senyum yang selalu mengingatkan kalau di dunia ini, tak satu hal pun terkurung mustahil.
Sena lupa, kertas di tangannya itu surat pengagum yang keberapa. Tapi Sena tahu pengirimnya. Tidak mungkin tidak tahu karena selalu sama. Pasti karya si Alien nyasar yang kadang bahasanya sulit untuk dipahami manusia. Entah berasal dari planet mana tapi tahu-tahu saja sudah jadi teman sebangku Sena. Dika.
“Hhhhh...” Gadis itu menghela berat. Ini baru hari pertama semester genap dimulai, tapi hal menyebalkan sudah merecoki Sena sepagi ini. Hal menyebalkan apa? Apalagi kalau bukan harus terjebak lagi disamping Dika sebagai teman sebangku, karena sampai detik ini aturan duduk urut absen masih dipertahankan. Sena benar-benar tidak tahu punya dendam apa sang kepala sekolah pada dirinya sampai pria itu sebegini kejam.
Ekspresi Sena yang mulai kelihatan tidak enak jelas disadari Dika. Jadi ia buru-buru menyiapkan telinga, bersiap-siap diberondong kalimat-kalimat—atau lebih tepatnya bentakan-bentakan—bernada super galak seperti biasa.
Plok!
Kali ini perkiraan Dika tak menjadi kenyataan. Suratnya dikembalikan tanpa omelan. Sena hanya membanting kertas tersebut ke atas meja Dika kemudian meluruskan kepala sambil menopang kedua pipi dengan dua kepalan tangan. Tapi bukannya senang karena tidak ada bentakan, Dika justru tampak heran. Ia membuka bibir cepat merasa ada yang harus segera ia tanyakan. “Na, kamu—“
“Apa?! Aku cuma lagi malas ngomel saja!” Sena memotong cepat. Tak lupa ia melirik galak pada lawan bicara. “Walaupun sudah dapat izin, kamu jangan terlalu banyak berharap ya! Soalnya aku ini masih penikmat senja yang setia!” sambungnya kemudian. Tujuannya satu, jangan sampai Dika keburu salah paham soal cara mengembalikan yang terbilang halus barusan.
“Iya, iya... saya tahu kok, walaupun waktu itu kita sudah berduaan sambil hujan-hujanan, kamu seribu persen masih Nana yang sama, yang nggak mudah dilanda cinta-cintaan.” Respon Dika seraya mengangguk-angguk pelan. “Tadi saya juga bukan mau bahas soal itu, kok...” sambungnya.
“Terus mau bahas apa?” dengan gerakan angkuh Sena mengangkat dagu.
“Kamu sakit ya, Na? Lagi nggak fit ya? Malam tadi kurang tidur juga ya?” tanya Dika langsung. Tidak mau satu-satu.
Kelopak mata Sena mengedip cepat. Terkejut tentang semua tebakan Dika yang tepat. Kok dia tahu sih? meskipun membenarkan dalam batin, tapi bibir Sena justru melontarkan elakan. “Nggak! Jangan sok tahu!” sentaknya lalu memalingkan wajah.
Dika membawa badannya lebih condong ke depan, sepertinya sedang berusaha mencari celah untuk tetap bisa mengamati wajah Sena. “Bukan sok tahu, tapi mata saya bisa lihat kalau wajah kamu pucat.”
“Biasa aja kok! Nggak usah berle—“
“Kamu itu bukan tipe orang yang ngomelnya bisa libur sekedar karena alasan malas, Na. Kamu pasti sedang nggak enak badan. Iya, kan?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Lovakarta
Teen Fiction[COMPLETED] Lovakarta #1 Julukannya Hujan istimewa. Soalnya, Hujan yang satu ini selalu di damba-damba. 999 dari 1000 hati menyatakan ketertarikan padanya. Seharusnya, cerita ini mudah. Hujan tinggal pilih saja salah satu dari 999 hati yang ada. Te...
