21 - Sebatas Fatamorgana Bahagia

7.7K 959 20
                                        

Hembusan napas Gani keluar berat dan perlahan. Laki-laki berkaus lengan panjang itu merasakan hatinya mencelos sampai ke perut melihat bagaimana Sena buru-buru membereskan buku dan alat sekolah dari meja ruang tamu ketika dirinya masuk ke dalam rumah. Tamparan itu sudah berlalu. Sakitnya pun jelas sudah hilang rasa. Tapi dinding tebal nan tinggi yang Sena bangun sangat sulit Gani runtuhkan. Kata maaf sebatas senjata yang sia-sia.

Tidak ingin Sena keburu mengunci diri ke dalam kamar, Gani cepat-cepat duduk di atas kursi. Posisinya sekarang mencekal jalan kabur terdekat bagi Sena. Sebungkus permen kapas ia sodorkan. Makanan manis yang satu itu adalah kesukaan adik cantiknya sewaktu kecil dulu. Dan tadi, kebetulan Gani bertemu dengan seorang kakek tua yang menjual permen kapas di tepi jalan dekat area kampus, jadi Gani tidak berpikir dua kali untuk langsung membeli. Berharap Sena akan memekik girang dengan mata berbinar senang seperti sepuluh tahun lalu saat menerimanya. Lalu, melahap permen kapas itu dengan bersemangat sampai rasa manis membuat Sena lupa dengan marahnya. Demi menebus rasa bersalah, Gani memang benar-benar tidak ingin menyerah.

Tapi banyak yang berubah setelah sepuluh tahun. Sena bukanlah si kecil lagi. Sena sudah gadis saat ini. Gadis yang sulit. Gani terhantam kenyataan itu setelah permen kapas yang ia sodorkan terhempas ke lantai karena di tepis kasar oleh tangan Sena. Serangkai kalimat yang sudah tertata di ujung lidah, sekarang sudah tertelan kembali bersama air ludah.

“Ini kwitansi pelunasan tunggakan uang sekolah selama tiga bulan.” Kertas berbentuk persegi panjang itu Sena letakkan di atas meja. Ia lantas berdiri tanpa mau menoleh sama sekali. “Semoga itu bisa bikin Kakak lega. Lain kali, nggak perlu buang-buang tenaga buat bersikap kasar ke Sena cuma karena masalah ‘uang’. Toh Sena bisa bertanggung jawab, kan?” gadis itu berjalan memutari meja. Mengambil satu-satunya jalan keluar yang tersisa.

Bibir Gani terkatup rapat ketika pandangannya terkunci pada kertas kwitansi. Pikiran-pikiran buruk datang satu per satu membuatnya langsung menggeleng sendiri. Buru-buru ia mencekal tangan Sena agar langkahnya terhenti. “Dapat uang darimana kamu?” tanya Gani mengintrograsi. Sudah dalam posisi berdiri.

“Yang penting tunggakannya sudah lunas, kan?” jawab Sena tanpa menghiraukan pertanyaan tadi.

Cengkaraman tangan Gani menguat. Gigi-giginya tampak merapat. Menggambarkan emosinya yang mulai merangkak. “Kakak serius, Sen! Dapat darimana kamu uang sebanyak itu?”

Bentakan itu memancing Sena untuk berbalik cepat. Ia paham kearah mana Gani berpikir saat ini. Kearah yang salah. Yang menjatuhkan harga diri Sena. Bisa terbaca dari cara sang Kakak memandangi dirinya dari atas ke bawah.  “Jangan sembarangan anggap Sena serendah itu, ya!” tangan Sena yang baru berhasil lolos dari cengkraman langsung terpakai untuk menunjuk wajah Gani—cara gadis itu menegaskan.

“Aku jual ponsel, sama pakai semua sisa tabunganku sendiri buat lunasin tunggakan!” lanjut Sena. Sedikit berbohong soal uang tabungan sebab nyatanya uang itu sudah lama habis untuk kepentingan mentraktir Eva, Sarah, dan Tika. Yah, soal uang bantuan dari Bu Ani memang sengaja Sena tutupi demi menjaga pekerjaan sampingannya tetap menjadi rahasia.

Tidak ingin percakapan tegang ini menjadi lebih jauh, Sena melangkah cepat masuk ke dalam kamar. Terdengar bunyi berdebum ketika Sena membanting pintu keras-keras.

Sedangkan Gani melangkah lemas kembali ke kursi. Ia meraup seluruh rambutnya ke depan. Menghakimi diri sendiri.
Gani tahu soal adiknya yang sudah berpacaran dengan laki-laki bernama Senja Kalamandanu, sejak SMP kelas satu. Gani sendiri memang baru tiga kali bertemu dengan Senja.

Dan walaupun sejak pindah ke Jogjakarta—sejak Sena mengenal dunia SMA—hubungannya dengan Sena betul-betul merenggang sehingga gadis itu tidak lagi berbagi cerita seperti dulu, Gani masih sering mendengar cerita tentang kisah cinta sang adik dari telepon-telepon malam bersama Mamanya, juga saat pulang ke Jakarta enam bulan sekali. Dan yang belakangan Gani tahu adalah hubungan Sena dan Senja sedang bermasalah. Entah masalahnya sejauh apa, yang jelas waktu membangunkan Sena di pagi hari, Gani sering mendapati Sena tidur sambil menggenggam fotonya bersama Senja. Lalu, wajah Sena yang sembab ketika bangun, cukup untuk membuat Gani mengerti kalau adiknya pasti menangis panjang sebelum tidur.

LovakartaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang