12 - Matahari Malam Hari

6.5K 903 52
                                        

Sisa-sisa udara hujan dini hari tadi membuat pagi ini terasa lebih dingin dari biasa. Tapi hari Senin yang menuntut para pelajar datang ke sekolah jelas tidak bisa ditunda. Untung Sena punya jaket di pinggang yang bisa dilepas lalu dieratkan membalut badan. Setidaknya, dengan pakaian tambahan itu, Sena tidak akan terlalu dibuat menggigil oleh tusukan angin di sepanjang perjalanan berangkat sekolahnya dengan naik becak.

Ingat kalau ada jadwal upacara, Sena yang baru sampai mampir dulu ke kantin buat beli sebungkus roti dan teh hangat manis. Penting untuk sarapan supaya tidak sampai pingsan di tengah lapangan nanti. Yah, mengingatkan kepala sekolah kalau menyampaikan amanat suka kelewat lama.

"Mbak, ini tehnya mau pakai wadah gelas atau cup plastik?"

Sena tidak langsung menjawab pertanyaan ibu kantin. Beberapa saat, ia tengok sekeliling. Tadinya mau sekalian duduk di kantin saja sembari menunggu bel upacara, tapi berhubung semua tempat sudah penuh diisi siswa-siswi lain yang kelihatannya juga lupa sarapan dari rumah, terpaksa Sena ubah rencana. "Pakai cup plastik saja, biar bisa dibawa ke kelas." Putusnya.

Ibu kantin mengangguk paham, lantas mengambil wadah yang Sena pilih untuk diisi gula pasir dan seduhan daun teh kering. Tangan ibu kantin kemudian bergerak mengaduk cekatan, seolah menari lincah bersama sendok yang ia pegang. Aroma khas menguar memanjakan indera penciuman Sena yang sedang sibuk mengamati.

Kurang lebih hanya dua menit, dan sekarang satu cup teh sudah Sena dapat. Habis membayar, gadis ayu itu langsung beranjak ke kelas sambil sesekali menyeruput minuman hangatnya tanpa mengurangi perhatian dari arah depan. Jangan sampai keasyikan dan malah menabrak orang.

Sena baru meletakkan roti juga tehnya ke meja ketika di saat bersamaan Dika berdiri dari kursi. Beberapa detik pandangan mata kedua remaja itu bertubrukan. Sebelum kemudian, Dika mengakhiri duluan lantas berlalu dengan membawa surat-surat penggemar yang hendak ia buang. Hanya senyum tipis yang sempat Dika tunjukkan, minus sapa antusias yang biasa.

Sena duduk sembari menghela, ia jelas tahu kenapa kali ini Dika berbeda. Laki-laki itu pasti memikirkan sikapnya yang seenak hati merobek kartu SIM saat di taman rumah sakit, juga permintaannya yang bernada perintah. "Tolong buang perasaanmu. Dan mulai sekarang, aku minta kamu menjauh!" Mengingatkan saja siapa tahu ada yang terlupa.

Dan mungkin, tidak akan terasa secanggung ini kalau saja setelah Pram tunjukkan soal kerja sukarela yang Dika lakukan setiap malam, Sena menghampiri laki-laki itu lalu mengucapkan maaf atau terima kasih seperti seharusnya. Bukan malah pulang begitu saja. Lari menghindar karena alasan yang bahkan tak seberapa ia mengerti.

Yah, mengaku atau tidak, sejujurnya Sena memang sadar kalau ia sudah keliru bersikap. Saking sadarnya, sekedar untuk menatap mata Dika seperti barusan saja, rongga dada Sena seketika dirongrong rasa bersalah.

Susah untuk terlalu merinci. Tapi yang jelas, memang harusnya, Kasturi tidak langsung terbang acuh sehabis melihat kenyataan tentang Hujan yang selalu ia benci. Hanya saja, menjadi 'tahu diri', mengakui kesalahan, apalagi mencoba memperbaiki, tiga hal itu benar-benar tidak mudah buat sebuah hati yang punya satu sisi keras yang selalu diperbudak gengsi.

Kembali, si ayu berambut sebahu membuang napas panjang. Seakan lelah dengan diri sendiri.
Menoleh sekilas, tanpa sengaja Sena lihat sebuah amplop kecil tergeletak di atas meja Dika. Sudah kentara kalau amplop merah muda tersebut berisi surat penggemar juga. Refleks, alis Sena saling bertautan. Yang lain dibuang kok yang satu itu dilewatkan? Begitu heran Sena. Aneh saja mengingat sebelum-sebelumnya Dika pasti membuang karangan puisi atau ungkapan hati dari gadis-gadis tanpa kecuali. (Akan ada kecuali sih kalau Sena yang kirim. Tapi mana pernah?)

Kepalang penasaran, Sena ambil amplop tersebut tidak pakai permisi. Dikeluarkannya selembar kertas berwarna sama. Masa bodoh dengan empat bait puisi menye-menye yang tertulis di sana. Sena hanya fokus mencari nama pengirimnya.

LovakartaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang