Pram meneliti kertas undangan yang baru di dapatnya, sedetik kemudian, beralih menatap Mawar dan Dahlia sambil mengerutkan dahi. “Ulang tahunnya masih sepuluh hari lagi, kenapa undangannya sudah dibagi?”
“Nggak ada alasan khusus sih, karena undangannya memang sudah siap dibagi saja...” jawab Dahlia, Mawar mengangguk membenarkan.
Epeng yang sedang menempati kursi Sena—mumpung orangnya sedang tidak ada—cengar-cengir kuda. Dihirupnya kertas undangan ditangan sambil memejamkan mata. Aroma makanan-makanan lezat yang tersaji cuma-cuma seakan sudah bisa tercium oleh hidungnya. Pesta oh pesta... andai setiap hari ada...
Sementara laki-laki yang tengah menyunyah permen karet itu terlebih dahulu menyelipkan permennya ke pipi kanan dalam sebelum ikut bicara. “Kenapa cuma kalian yang sebar undangannya? Bunga kemana?” tanya Dika, heran karena Dahlia dan Mawar hanya datang berdua.
Mawar dan Dahlia saling berpandangan—sedang bertengkar melalui tatapan, satu sama lain saling memberi perintah untuk jadi relawan. Sebetulnya sama-sama sudah menduga kalau ketidakhadiran Bunga akan Dika pertanyakan. Tapi tetap saja bingung untuk memberi jawaban.
“Bunga... sudah tiga hari dia nggak sekolah.” Akhirnya Dahlia menjawab—setelah Mawar menghadiahkan satu injakan.
“Loh kenapa?” Dika menyambung pertanyaan.
“Mmm... sakit...” wajah Mawar tampak tidak yakin.
“Sakit apa?"
Sekarang giliran Mawar yang menginjak kaki Dahlia. “Ucapan itu doa. Aku nggak mau sebut penyakit macam-macam! Takutknya nanti Bunga sakit betulan!” bisiknya dengan suara sekecil mungkin supaya tidak bisa di dengar Dika tentunya. Dahlia sendiri hanya bisa menggigit bibir dengan bingung. Sumpah demi apapun, kepala Dahlia jadi terasa pening!
“Huh! Sok nggak tahu! Sudah jelas banget kan kalau Bunga sakit hati gara-gara kamu!” sergah Pram. Mawar dan Dahlia bisa bernapas lega sekarang, untuk memaki Dika mereka jelas tidak tega, untunglah sudah diwakilkan oleh sinisnya cara Pram bicara.
Dika menghela napas serba salah. “Saya benar-benar nggak berniat menyakiti Bunga...” ujarnya penuh sesal.
“Sudah kejadian! Kamu harus tetap tanggung jawab buat ngobatin sakit hatinya Bunga!”
“Iya. Saya tahu.”
“Kamu tahu?”
“Ya, karena buat sekarang Bunga mungkin masih butuh waktu sendiri, pas pesta ulang tahun nanti, saya akan minta maaf sama Bunga soal saya yang nggak akan pernah bisa balas perasaanya, sekalian sama... pelan-pelan mau kasih tahu Bunga supaya berhenti mengharapkan saya, biar sakit hatinya nggak semakin parah.”
Kalimat panjang itu sukses membuat Pram berdecak. Dalam hati laki-laki itu merutuki diri sendiri yang sudah sempat berharap banyak pada kalimat ‘iya. Saya tahu’ dari bibir sahabatnya tadi. Prandika Jawahari! Kamu itu harusnya bilang ‘saya akan lupakan Sena dan buka hati buat Bunga’! andai saja tidak ada Dahlia dan Mawar disini, Pram tidak akan sungkan untuk meneriaki Dika sekeras yang ia bisa.
Senggolan dan gerakan mata Mawar yang melirik undangan-undangan di tangan—undangan yang belum dibagikan--menyadarkan Dahlia untuk buru-buru pamit. “Eh, ya udah, kita masih harus sebar undangan ke kelas-kelas lain sebelum istirahatnya selesai.” Gadis itu sempat melempar senyum lebar sebelum meraih lengan Mawar untuk diajak berlalu.
“Eh! Sebentar!” tapi teriakan Epeng menahan langkah dua sahabat Bunga itu. “Ada undangan buat Ratih nggak?” tanya si gembul.
Mawar berbaik hati mengecek undangan-undangan yang masih ia bawa. Ternyata memang ada undangan untuk Ratih, terselip di tengah-tengah. “Nih...” Mawar menunjukkan kertas warna-warni tersebut pada Epeng.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lovakarta
Jugendliteratur[COMPLETED] Lovakarta #1 Julukannya Hujan istimewa. Soalnya, Hujan yang satu ini selalu di damba-damba. 999 dari 1000 hati menyatakan ketertarikan padanya. Seharusnya, cerita ini mudah. Hujan tinggal pilih saja salah satu dari 999 hati yang ada. Te...
