26 - Wedhang Manis Yang Romantis

8K 1K 71
                                        

“Sena?”

Panggilan Gani tak Sena tanggapi. Gadis itu yakin kakaknya yang tiba-tiba muncul di ambang pintu pasti cuma mau mengajak sarapan. Seperti pagi-pagi biasanya.

“Sen, ada temanmu yang nunggu di depan.”

Kali ini Sena langsung bereaksi. Ditatapnya Gani dengan kening mengernyit, “Siapa?”

“Kakak nggak kenal. Yang jelas, dia laki-laki.” Jelas Gani santai, tapi seulas senyum tipis yang penuh arti tidak dapat ia sembunyikan.

Berbeda dengan Gani yang tampak berseri-seri tentang teman sekolah adiknya di depan, Sena malah melotot dengan wajah yang seketika berubah tidak enak. Dengan tas sekolah tergendong di punggung, Sena cepat-cepat ke depan untuk membuktikan dugaannya—dugaan yang ia semogakan tidak betul.

“Selamat pagi!” sapaan ramah dari si pemilik Yamaha Alfa justru membuat Sena mendengus. Gadis itu merasa kesal karena dugaanya harus betul.

“Ngapain kamu disini pagi-pagi?!” tanya Sena langsung tanpa berniat membalas sapaan Dika. Diangkatnya dagu dengan ketus.

“Mau ambil punya saya yang kamu bawa.” Balas Dika.

Cara bicara yang seperti sedang mengajak main teka-teki itu membuat otak Sena otomatis berputar memikirkan maksud Dika. Tiga puluh detik kemudian, ia ingat soal janjinya di rumah sakit tiga hari lalu yang memang sudah bisa Dika tagih waktu dia keluar dari rumah sakit dan mulai masuk sekolah lagi. Tapi janjinya kan diantar pulang sekolah? Bukan berangkat sekolah bareng?

Oke. Karena Sena malah makin jadi bingung, ia putuskan untuk meminta Dika menjelaskan langsung, “Nggak usah bertele-tele, deh! aku nggak ngerti kamu ngomong apa!”

Laki-laki yang masih duduk di atas motor itu tersenyum. “Saya mau ambil pensil gambar yang kamu bawa.” Melihat Sena sudah siap membela diri dan mengatakan ia tidak pernah pinjam apapun, Dika cepat-cepat mendahului bicara lagi. “Coba lihat di tas kamu.”

Mata Sena dipenuhi sorot menyelidik. Ia juga enggan menuruti Dika karena merasa benar-benar tidak pernah membawa pensil yang dimaksud teman sebangkunya. Lagian, waktu semalam Sena mengganti buku pelajaran kemarin dengan buku sesuai jadwal hari ini, ia ingat betul kalau sama sekali tidak menemukan apapun di dalam tas.

“Kalau nggak ada di tas besar, coba periksa dulu di bagian depan tas yang kecil itu.” seolah bisa membaca isi pikiran Sena, Dika meralat instruksinya. Alhasil, Sena langsung bergerak. Sekarang ia curiga kalau ada unsur kesengajaan disini, toh bagian depan tas yang kecil tidak pernah ia pakai untuk menyimpan apapun sebelumnya.

Mata Sena mendelik ketika sebuah pensil kayu polos tanpa warna atau corak terambil oleh tangannya. “Hei! Kamu pasti sengaja taruh pensil jelek ini ke tasku ya?!” omelnya lalu melangkah cepat mendekati Dika untuk melempar—membuang—pensil tersebut ke tanah. Tepat di hadapan pemiliknya.

Tanpa sedikit pun rasa kesal, Dika membungkuk dan mengambil pensilnya yang menggeliding di samping ban depan si Jowi. “Seminggu yang lalu, pensil ini ngambek sama saya. Jadi dia mungkin ngumpet di tas kamu?”

“Nggak masuk akal!” sergah Sena. Gadis itu tampak tidak terpancing sama sekali untuk tertawa. “Awas ya kalau kamu berani-berani taruh sesuatu sembarangan ke tasku lagi!” ancamnnya sambil mengacungkan jari telunjuk pada Dika yang sedang memasukkan pensil ke dalam tasnya sendiri. Walaupun Dika manggut-manggut, Sena yakin teman sebangkunya tidak benar-benar berniat untuk menurut.

“Yuk, berangkat! Sudah siang, nanti kita telat...” tanpa menunggu jawaban, Dika langsung saja pasangkan helm ke kepala Sena dan tanpa izin menarik gadis itu untuk duduk menyamping diboncengannya. Sena yang tidak siap dengan tindakan tiba-tiba itu tidak sempat melawan. Tapi teriakan Sena seketika membahana waktu kedua tangannya ditarik untuk melingkari perut Dika.

LovakartaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang