2 • Sweet Seventeen | As Usual

2.4K 88 2
                                        

Senin, 09 Januari 2016

~•~

Hai.

Aku benar-benar canggung.

Khm..

Hai.

Namaku Keisya Catisha.

Kehidupanku mungkin tak sebaik kehidupanmu. Aku selalu beranggapan begitu pada setiap orang yang aku temui. Salahkah?

Aku selalu menduga bahwa semua orang berpihak pada sang durjana. Salahkah?

Aku selalu merasa dingin setiap hari.

Kamu ingin tau alasannya?

Atau justru tak perduli?

Karena aku yang memang terlalu tak peduli pada dunia. Hingga juga tak perduli pada hatiku yang hampir mati.

Aku kedinginan.

Tak ada kehangatan dalam diriku. Bahkan pada sifat dalam diriku. Kamu percaya itu?

Mungkin pagi sudah kembali. Namun tak ada panggilan seseorang membangunkanku. Ahh, tidak mungkin. Hidupku akan baik-baik saja jika itu terjadi.

Aku terduduk di atas kasur. Membiarkan rambutku tergerai berantakan. Aku berusaha mengumpulkan kesadaranku. Sepertinya kegiatan begadangku semalam mengganggu pagiku.

Pagi yang dingin, sapaku pada dunia.

Perlahan, aku melangkah menuruni kasur. Meraih sisir di meja belajarku.

Aku bukan tipe gadis yang suka berdandan. Jadi jangan harap ada meja rias di kamarku.

Setelah menyisir, aku melangkah menuju kamar mandi. Ah, kalian tidak boleh mendengar kegiatanku selanjutnya. Aku tutup dulu pintunya.

Buk!

•••

Aku telah selesai bersiap-siap. Langkah kakiku berjalan keluar dari kamar. Rumah sederhanaku terlalu simple. Tidak rumit.

Hanya ada 3 kamar di rumahku beserta satu dapur, satu ruang keluarga yang bersebelahan dengan dapur dan satu ruang tamu. Hal yang harusnya aku syukuri adalah di setiap kamar memiliki kamar mandi.

Tapi aku tak perduli itu.

Aku duduk di kursi ruang makan. Melirik si bungsu yang sejak tadi dilayani Mama dan Ayah layaknya seorang putri. Velicia Catisha. Anak kesayangan Mama dan Ayah.

Dasar manja!

Lihatlah di hadapanku. Tak ada apapun. Hahaha, itu patut di tertawakan? Untuk apa aku menyuruh kalian melihat jika tak ada apa-apa?

Aku bangkit dari dudukku. Melangkah menuju dapur dan meraih piring serta sendok. Lalu kembali duduk.

"Aku sarapan pake apa?" tanyaku. Melihat si bungsu yang sudah melahap nasi gorengnya sedangkan aku sama sekali tak menemukan makanan.

Mama mendecak. "Anak gadis baru bangun jam segini. Seharusnya kamu tuh bantuin Mama. Harusnya kamu yang masak sarapan kamu sendiri, Kei."

Argh, apa aku sudah sedewasa itu? Aku rasa tidak. Bukannya memasak itu juga tugas seorang ibu?

LONELYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang