Aku menatap pemandangan hamparan rumput hijau di hadapanku. Begitu menyejukkan mata. Begitupun udara segar yang memasuki paru-paruku. Sungguh melegakan.
Aku menoleh pada lelaki di sebelahku. Membiarkan kalian terus bertanya-tanya sebenarnya siapa dia.
Aku sangat mengenalinya. Dia pun mengenaliku bahkan lebih dari diriku sendiri.
Hari ini, ia kembali membuatku bersyukur karena keberadaannya di sampingku. Ia membawa semua kebahagiaan datang dengan sederhana.
"Aku bahagia," ucapku pelan.
Ia tersenyum. "Kalau begitu, aku pun bahagia."
Aku kembali menatap ke depan hamparan rumput. Membiarkan hembusan angin menerbangkan rambutku. Menerpa wajahku yang menjadi terasa dingin.
"Aku senang kali ini kamu tidak berbohong dengan apa yang kamu rasakan," katanya.
Aku menoleh kemudian terkekeh. Kembali teringat dengan masa lalu. Ketika semua perasaan yang aku rasa, selalu aku anggap tidak ada. Ketika aku tidak pernah jujur dengan yang aku rasakan pada siapapun termasuk dia. Termasuk diriku sendiri pula.
Ia kemudian merangkulku. "Sebenarnya aku selalu tau apa yang kamu sembunyikan."
Aku mendongak menatap wajahnya yang juga tengah menatapku.
"Benarkah?" tanyaku, memastikan.
"Aku tau setiap kebohongan kecil dan besar yang kamu ciptakan ketika bersamaku. Rasanya ingin membongkar saat itu juga bahwa aku mengetahuinya. Namun aku pikir, jika kamu tidak mengatakannya, itu berarti kamu tidak ingin aku tau."
Aku menatap hamparan rumput di depan dengan tidak fokus. Mata dan ingatanku menerawang ke setiap kejadian di masa lalu ketika aku berbohong padanya.
Aku merutuki diriku.
Bahkan saat aku berbohong, aku justru merutuki lelaki di sebelahku. Menuduhnya jahat karena ketidaktahuannya. Padahal itu semua salah diriku sendiri yang tidak jujur.
Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.
Aku masih ingat apa yang aku pikirkan dulu.
Aku menyebut mereka bukan kebohongan. Melainkan sebuah rahasia. Karena menurutku, rahasia dan kebohongan itu hampir sama. Sama-sama tersimpan.
"Aku khawatir padamu setiap saat. Aku selalu berharap kelak kamu akan mengatakannya kepadaku apa yang kamu rasakan," ujarnya lagi.
Ia menatapku lekat. Aku ikut menoleh.
"Karena aku ingin sekali membantumu."
Aku kembali menatap ke depan. Tidak berani lagi menatap lelaki di sebelahku. Mungkin selama dua puluh satu tahun aku telah melukainya dengan segala kebohonganku.
"Tapi semuanya terbalas oleh kejujuran mu sekarang," katanya.
Aku mengulum senyum. Dia memang selalu baik. Selalu menerima setiap perlakuan kekanak-kanakan ku dengan begitu dewasa. Padahal umur kami tidak terpaut jauh.
"Kamu tau semua tentang aku," kataku.
Ia kemudian mengangguk. "Tentu saja."
"Kamu tentu kenal siapa Alice, kan?" tanyaku padanya.
Tidak ada jawaban dari bibirnya.
Aku menoleh kepadanya. Ia terlihat terkejut mendengar ucapan ku.
Aku memeluk tubuhku sendiri. Angin baru saja berhembus kencang membuat udara semakin dingin.
Aku tidak berkata-kata lagi sebelum dia merespon.
"Kamu yakin ingin membahas hal ini?" Ia bertanya dengan pelan.
Aku tau dia sedang mencoba menjaga perasaanku yang bisa saja sewaktu-waktu kembali rapuh.
Aku menoleh padanya. "Jawab saja kamu mengenalinya atau tidak," ujarku.
Ia menelan ludahnya, gugup.
"Tentu saja aku mengenalnya. Tidak jauh berbeda dari aku mengenalmu." Lelaki itu menjawab dengan hati-hati.
Aku terdiam. Kedua sudut bibirku tertarik.
Sebenarnya aku tidak ingin membahasnya lebih jauh. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk meledeknya.
"Tidak jauh berbeda ya?" Aku menatap lelaki itu dengan datar. Pura-pura marah.
"Eh? Maksudnya bukan begitu ... em, maksudnya itu ...." Dia berkata dengan gugup.
Aku tertawa lepas. Lucu sekali wajahnya yang kebingungan itu. Maafkan aku.
Dia ikut terkekeh namun terdengar kaku.
"Tidak perlu dipikirkan. Aku mengerti maksud kamu. Tentu saja pertanyaan tadi seharusnya tidak perlu ditanyakan," kataku.
Dia menghela nafas, lega.
Aku kembali menikmati hamparan rumput hijau di depan mataku. Sungguh tidak ingin menyia-nyiakannya.
Disudut mataku aku masih bisa menangkap lengkungan senyum manis dari wajah lelaki di sebelahku. Diiringi dengan lesung pipinya yang indah.
Ah, aku bersyukur memilikinya.
•~•
KAMU SEDANG MEMBACA
LONELY
Genç KurguKetika seluruh dunia tidak peduli pada lukaku dan ketika dunia berpihak pada sang durjana, aku terdiam. "Kenapa?" tanyanya. Karena itu hanya khayalanku. Aku yang merasa terlalu baik. Saat semua hal adalah kejahatan dimataku. Saat aku menjadi memb...
