Aku melangkahkan kakiku memasuki rumah. Begitu berat langkahku. Dimanapun aku berada semua terasa begitu menyakitkan.
Sesak di dada. Lemas pada raga. Semuanya seakan hanya bisa disenyumi dengan begitu miris. Namun bahkan untuk tersenyum pun terasa begitu berat.
Aku berjalan mendekati Mama yang tengah sibuk melayani Velicia. Hendak mencium punggung tangannya.
"Mama lagi ribet. Kamu harusnya bantu Mama! Ngapain jam segini baru pulang, hah? Cepet ganti baju. Ke sini lagi buat beres-beres."
Tanganku yang awalnya sudah terulur kembali aku tarik. Aku menunduk lalu melirik Velicia. Sangat nyamannya hidup menjadi gadis kecil itu. Segala sesuatu dilayani, diusahakan dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang.
Bolehkah aku bertanya pada Mama? Aku hanya ingin menanyakan.
"Ma, adakah rasa sayang untukku sedikit saja? Adakah rasa peduli untukku? Aku juga anakmu."
Namun pertanyaan itu hanya mampu bersembunyi dalam hatiku. Mendesak untuk keluar namun aku terus menahannya hingga terasa sesak di dada.
Aku berbalik menuju kamarku. Meletakkan tasku di atas meja belajar lalu melangkah menuju kamar mandi. Aku harus mandi. Untuk menyegarkan badan dan fikiran. Juga hatiku yang terasa begitu berkecamuk.
***
Aku terlalu sensitif soal keluarga. Rasanya air mata ini berada di pelupuk mata. Haruskah aku tetap kuat dengan segala yang terjadi.
Padahal aku harap, keluarga adalah tempatku merasa nyaman saat dunia begitu kejam. Namun tidak. Bahkan keluargaku adalah bagian dari dunia yang kejam dan begitu menyiksa.
Aku mohon, bawa aku pergi dari sini.
Aku tersiksa.
Aku lelah.
Ingin menutup mata pada segala kebaikan yang tidak juga aku dapatkan.
Aku iri?
Tidak bolehkah aku iri pada mereka?
Aku sama sekali tidak mendapatkan segala kasih sayang padahal dunia memiliki beribu cinta.
Kenapa?
Bolehkah aku bertanya?
Bisakah aku dapatkan?
Siapa yang akan memberikan?
Apa aku tidak patut mendapatkan kasih sayang?
Aku mengusap keringat di keningku. Cukup lelah menyapu, mengepel, dan membersihkan rumah meskipun rumahku tidak begitu besar.
Ya, semuanya bertambah lelah saat aku belum makan. Bekerja dengan lelah saat melihat adikku yang berbaring begitu nyaman di atas sofa menonton tv dengan cemilan di tangannya.
Aku tersenyum tipis.
Tak apalah.
Aku harus terima.
Mungkin ini memang takdirku.
Jadi apa aku benar?
Dunia ini begitu jahat dan hanya berpihak pada sang durjana.
Tapi siapakah sang durjana di kehidupanku?
Bahkan aku tak berhak memiliki penjahat di sini.
Aku tak berhak memiliki apapun.
Silahkan pergi dariku.
"Ma, aku laper."
Aku menahan sesak di dada dan air mata yang hendak jatuh.
Aku berusaha agar suaraku tidak bergetar.
"Yaudah, Mama masak dulu yah."
Aku boleh bernafas lega?
Ya, aku tau sekarang. Ibu pasti mempunyai rasa keibuan, kan?
Jadi aku benar. Tak ada sang durjana di kehidupanku. Aku tak berhak memiliki siapapun.
Tapi aku ingin menangis sekarang? Aku harus apa?
Tangis apa ini? Bahagia karena Mama mau memasak untukku?
Atau sedih karena aku tak berhak memiliki siapapun?
"Selamat untuk dunia yang terasa begitu jahat. Aku tak berhak memiliki apapun. Maafkan kerapuhanku," bisikku dalam hati.
***
Aku membuka lembaran buku catatan pribadi milikku. Beberapa hari terakhir, rasanya aku lebih suka menulis.
Aku berpikir sejenak. Jika dipikir-pikir, selama ini bukankah aku sudah terlalu jahat? Jahat karena berpikir dunia ini jahat padaku.
Kamu tau kenapa alasannya dunia jahat?
Sekarang aku menemukan jawabannya. Dunia jahat karena sudut pandangmu. Sudut pandang yang engkau ciptakan atas dasar kebencian pada semua hal.
Ada banyak cara agar dunia tak lagi terlihat jahat. Kamu bisa menutup pandanganmu yang itu dulu. Lalu kembali melihat dari berbagai sisi.
Ternyata beginilah dunia tercipta. Aku adalah tokoh utama dalam hidupku. Masing-masing diri kita adalah tokoh utama di hidup kita masing-masing.
Semua orang pasti tau, tak ada pemeran utama yang jahat. Sekalipun jahat, dia adalah orang baik di hidupnya sendiri. Seseorang akan menjadi baik di hidupnya sendiri.
Kini aku berpikir, bisa jadi aku adalah pemeran antagonis dalam cerita kehidupan orang lain.
Karena hidup ini saling berkeseimbangan. Kanan dengan kiri, depan dengan belakang, atas dengan bawah, baik dengan buruk. Maka itu ada antagonis dan protagonis.
Kupikir, pandanganku pada dunia sudah berubah.
Mama tidak jahat, ayah tidak jahat, adikku pun tidak jahat, begitupun semua orang lain di hidupku.
Karena pada kenyataannya, inilah hidup.
Kamu hidup, berarti kamu harus menerima semua kenyataannya.
Namun bukan berarti saat kamu tak bisa menerima kenyataan kamu harus mati.
Ini hidupmu. Lakukan semua yang kamu mau, yang kamu suka, dan yang kamu inginkan.
Jika begitu, itu semua pasti benar.
Jika kamu lakukan yang tidak benar, itu salahnya di dirimu. Tanya pada hati kecilmu, masa iya kamu ingin menjadi orang jahat.
Sudahlah cukup sampai sini.
Aku rasa, begitu banyak pandangan dan pendapat. Pernah sekali aku berpikir untuk menanyakan arti hidup pada setiap orang.
Apa ada gunanya?
Tentu saja ada.
Kamu bisa memiliki banyak stok sudut pandang pada dunia. Bukan hanya dari satu sisi pandanganmu, namun juga dari sisi lain.
Maaf untuk cuat-cuat yang tak begitu berfaedah ini.
Aku menutup bukuku. Lalu melangkah menuju luar kamar. Sudut mataku menangkap sosok Mama, Ayah dan adikku yang tengah berkumpul bersama.
Aku berjalan menuju dapur lalu menuangkan air ke gelas bening. Duduk sebentar lalu meneguknya hingga habis.
Tanpa berniat melakukan hal lain, aku kembali masuk ke kamar lalu menutup pintu dan kembali tidur.
Namanya pun hari libur, saatnya aku tidur.
Aku sempat marah pada kesibukan. Aku ingin melakukan apa yang aku inginkan. Bukan terus dipaksa oleh peraturan.
Kini saatnya aku membalas dendam. Dendam paling melegakan.
Selamat tidur.
•~•
KAMU SEDANG MEMBACA
LONELY
Teen FictionKetika seluruh dunia tidak peduli pada lukaku dan ketika dunia berpihak pada sang durjana, aku terdiam. "Kenapa?" tanyanya. Karena itu hanya khayalanku. Aku yang merasa terlalu baik. Saat semua hal adalah kejahatan dimataku. Saat aku menjadi memb...
