17 • Twenty-one | Allyson

304 17 0
                                        

Aku tersenyum bahagia melihat pesan yang dikirim Kak Daehyun kepadaku. Aku dengan segera membalas pesannya. Tidak lupa kembali menyemangati lelaki itu.

Dia pasti bekerja keras sekali.

Aku yakin setelah ini dia akan sangat sibuk. Sangat kecil kemungkinan lelaki itu keesokan harinya membalas pesanku.

"Kei?"

Aku mendongakkan kepalaku, menatap wajah lelaki pemilik lesung pipi yang begitu manis itu.

Lelaki itu kemudian duduk di tempatnya. Tentu saja dihadapanku.

"Dari mana?" tanyaku padanya sambil menaruh ponselku ke dalam tas.

Dia sangat tidak suka jika ketika kami bicara, aku memainkan ponselku.

Cukup lama lelaki itu pergi hingga lelaki lain duduk di kursinya. Padahal aku mengobrol lumayan banyak dengan Kak Daehyun namun ia tidak kunjung kembali. Aku sebenarnya sangat ingin memperkenalkannya pada Kak Daehyun.

Mungkin saja jika aku perkenalkan mereka akan akrab. Jika itu terjadi, aku akan bahagia sekali. Terlebih keduanya sama-sama tertarik dengan dunia musik.

"Memesan makanan lalu mengangkat telepon," jawabnya. Ia kemudian menyeruput kopi Americano miliknya.

"Telepon dari siapa?" tanyaku.

Sebenarnya aku merasa agak canggung bertanya seperti itu. Tetapi sepertinya aku memang harus mencoba menanyakannya.

Lelaki itu tertawa. "Tidak biasanya kamu bertanya begini."

"Bu..bukan begitu." Aku mencoba mengelak sembari menyelipkan rambutku ke belakang telinga.

"Tidak usah gugup begitu," katanya.

Aku menjadi semakin salah tingkah. "Gugup? Siapa yang gugup?"

Lelaki itu tersenyum, "aku tau kamu sedang gugup."

Aku memaksakan senyumku. Entah bagaimana sekarang wajahku. Aku merasa malu sekali.

"Telepon dari Bunda." Pada akhirnya, ia tetap menjawab.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku sembari mulutku membentuk huruf o.

"Kata Bunda, setelah ini kita ke rumahku saja. Dia ingin sekali menemuimu," ucapnya.

"Ah, baiklah."

"Tidak usah khawatir. Kamu tau Bunda baik sekali dan sangat menyayangimu."

Aku tersenyum. Rasanya mendengar ucapan lelaki itu seperti seakan-akan aku masih memiliki Ibu.

"Mama, Keisya rindu." Aku berbisik di dalam hati.

"Bagaimana kondisimu? Sudah lebih baik?" tanya lelaki itu.

Aku menoleh padanya. Lalu mengangguk pelan.

"Sudah aku bilang, kita seharusnya pindah tempat saja. Kamu terus saja keras kepala," katanya.

Aku tersenyum. Aku merasakan hatiku hangat ketika dia mengkhawatirkan aku. Hanya dia satu-satunya yang memperhatikan aku sampai seperti ini.

"Maafkan aku. Tapi aku baik-baik saja. Jangan khawatir," ujarku.

Dia menghela nafasnya. "Baiklah."

Aku masih memperhatikan wajahnya. Setiap sudut wajahnya yang begitu tegas. Aku baru menyadari kini wajahnya menjadi terkesan lebih dewasa sekalipun di dagunya tidak ada rambut satupun.

Wajah lelaki itu selalu terlihat bersih. Begitu cerah. Tidak pernah sekalipun aku melihatnya muram ataupun berantakan.

"Kenapa menatapku begitu? Aku tampan bukan?" Dia berkata lalu mengerlingkan sebelah matanya padaku.

LONELYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang