26 • Sweet Seventeen | Inability

125 14 0
                                        

Aku kembali membaca pesan yang baru saja Mama kirimkan padaku. Masih merasa tidak percaya dengan kalimat yang aku cerna.

Jemput Cia. Mama pulang agak malam.

Aku menyerah untuk membaca pesan itu ke-lima kalinya. Seberapa banyak pun aku membacanya, isi pesan itu tetap sama.

Tadi pagi aku mendengar obrolan Mama dengan Cia bahwa Mama harus membantu Tante Sarah menyiapkan ulang tahun untuk anaknya di rumahnya. Aku tidak tau jika hal itu harus dilakukan sampai malam.

Aku menoleh ke sekolah Cia yang nampak masih sepi. Seharusnya beberapa menit lagi kelas tambahan yang diikuti Cia akan berakhir.

Aku menghela nafasku. Padahal sejam yang lalu aku sedang berbaring di kasur sembari mendengarkan suara merdu kak Daehyun.

Ini sungguh pertama kalinya. Aku jadi gugup. Perutku yang belum terisi sebutir nasi pun mendadak bergejolak. Membuat aku merasakan nyeri tepat di uluh hatiku.

Tepat saat aku mulai melihat anak-anak dengan seragam sekolah putih-biru, kedua mataku menemukan gadis yang wajahnya sangat aku kenali.

Gadis dengan postur tubuh tidak jauh berbeda dari anak seumurannya dengan rambut dibiarkan tergerai. Matanya terlihat mencari-cari seseorang.

Itu Cia.

Semakin dewasa, dia semakin mirip dengan Alice.

Kedua mata gadis itu akhirnya menemukan aku yang sejak tadi berdiri menatapnya. Tidak berani menyapanya sama sekali.

Dia terlihat berjalan ke arahku. Entah hanya aku yang salah mengartikan atau bagaimana, tetapi dia tidak terlihat antusias ketika melihatku.

Ya, walaupun aku sebenarnya tidak mengharapkan itu.

Aku mencoba mengulum senyum saat Cia tiba di hadapanku.

"Dimana Mama?" tanyanya.

"Kakak kira kamu udah tau Mama di rumah Tante Sarah," jawabku.

Dia tidak lagi bertanya ataupun berbicara. Gadis itu nampak mengalihkan kedua matanya ke sekelilingnya, terkecuali aku.

Aku benar-benar merasa canggung sekarang. Semakin dewasa, aku semakin jarang mengobrol dengan Cia. Ya, walaupun sejak dia masih kecil juga seperti itu.

Tetapi bahkan aku bisa menghitung obrolanku dengan Cia dalam seminggu. Saking jarangnya interaksi kami sekalipun kami satu rumah.

Aku mengikuti arah pandang Cia yang tepat ke arah balakang punggungku. Gadis itu terlihat serius memperhatikan sesuatu.

Es krim.

Aku melihat beberapa siswi yang tengah membeli es krim. Jadi sejak tadi Cia memperhatikan itu.

Aku menggigit ujung bibirku. Tanganku bergerak meraih beberapa lembar uang kertas di tasku.

"Nih," ujarku sembari memberikan uang itu padanya.

Cia mengerutkan dahinya, "untuk apa?"

"Beli es krim," jawabku seadanya.

Dia kembali melirik pedagang es krim tadi. Lalu kembali bertanya, "siapa yang mau beli es krim?"

"Kamu." Aku kembali memberikan jawaban.

"Enggak mau!" tolaknya.

Aku terdiam. Jika seperti ini, apa yang harus aku lakukan? Kenapa dia menolaknya?

"Kenapa enggak mau?" tanyaku.

Dia melipat kedua tangannya di depan dada sembari mengangkat kedua bahunya, tidak menjawab.

LONELYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang