1 • Twenty-one | Return

3.4K 131 2
                                        

Aku menatap miris sebuah rumah yang sudah terlihat tua dan tidak terawat serta cat birunya yang sudah mulai pudar.

Rasanya hatiku sakit sekali melihatnya. Menyesali diri sendiri. Kenapa tidak sejak lama aku menginjakkan kaki kembali ke rumah ini. Tempat di mana aku mulai tumbuh.

Rumah ini menyaksikan semua kisah hidupku bersama keluargaku hingga dua tahun yang lalu. Sebelum akhirnya semua penghuni rumah ini pergi.

Angin berhembus membuat suhu menjadi lebih terasa dingin. Aku mengeratkan jaketku.

Langit terlihat semakin gelap. Bukan, bukan menandakan malam. Melainkan menandakan rintikan air yang akan segera turun dari langit membasahi bumi.

Seorang lelaki merangkulku kemudian mengusap punggungku dengan lembut. Ia tersenyum padaku. Senyum yang sampai sekarang masih membuat jantungku berdebar-debar.

"Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan. Bukankah lebih baik kalau kita segera masuk?" ujarnya.

Aku kembali menatap rumah di hadapanku. Aku lalu mengangguk.

Kembali melangkah memasuki rumah, membuat aku kembali bernostalgia. Setiap sisi rumah ini, mempunyai kenangan untukku. Kenangan yang kadang membuatku menyesalinya.

Sebenarnya butuh keberanian untuk kembali datang ke sini. Setelah satu tahun aku berpikir, akhirnya hari ini aku benar-benar kembali menapaki rumah ini.

Kembali ke sini, tentu akan membuat segala kenangan menyakitkan akan teringat kembali. Membuat diriku berpikir keras. Aku tidak suka kembali banyak berpikir. Setiap aku lakukan itu, kepalaku terasa berdenyut.

"Kamu baik-baik aja?" tanya kembali lelaki itu.

Aku menoleh. Merasa lebih tenang ketika menyadari bahwa dia masih di sebelahku. Menemaniku dan menjagaku. Aku merasa lega memilikinya.

Aku segera mengangguk. Aku akan baik-baik saja di sini jika bersamanya, aku mencoba menenangkan diriku.

Aku menatap knop pintu dengan ragu. Lelaki itu mengusap bahuku, meyakinkan aku.

Klek!

Aku membuka lebar-lebar pintu itu. Tidak terlihat begitu jelas bagaimana isi rumahku yang sekarang karena hanya di terangi cahaya remang-remang.

Aku melangkahkan kakiku memasuki rumahku diikuti olehnya.

Sementara aku terus masuk ke dalam, lelaki itu menekan tombol lampu.

Aku memejamkan mata sebentar. Mencoba beradaptasi dengan cahayanya. Ketika kembali membuka mata, barulah terlihat lebih jelas semuanya.

Terlihat meja, kursi, lemari dan beberapa benda lainnya yang berdebu. Namun ternyata rumah ini tidak seberantakan yang aku pikir. Semua masih pada tempatnya.

Terdengar suara rintik hujan di luar yang mulai turun membasahi bumi. Begitu nyaring.

Setelah menutup pintu, lelaki itu berjalan menghampiriku.

"Apa kamu yakin ingin tinggal di sini dalam beberapa hari? Kamu bisa tinggal di rumahku saja," ucapnya.

"Tidak. Tujuan aku ke sini bukan hanya untuk tinggal di sini. Tapi lebih dari itu," jawabku.

Aku tau lelaki itu sedang mencemaskan keadaanku.

Lelaki itu tersenyum manis. Kemudian berkata, "Oke, jika itu mau kamu, aku akan membantumu."

Aku ikut mengulum senyum.

Lelaki itu kembali menelusuri sekitar rumahku. Mungkin memastikan bahwa bangunan rumah ini tidak akan segera runtuh setelah ditinggal penghuninya dua tahun tanpa dirawat sama sekali.

Hai,

Jangan tanyakan aku menyapa siapa. Aku menyapa kalian.

Aku, Keisya Catisha.

Seorang gadis yang ingin mengungkapkan penyesalannya dan ungkapan terima kasih yang tidak sempat diucapkan.

Umurku sekarang sudah dua puluh satu tahun.

Begitu banyak hal yang terjadi empat tahun yang lalu. Tepat saat diriku sweet seventeen. Saat aku masih belum menghargai keberadaan orang lain di sisiku.

-•-

*Cerita ini fiktif belaka. Bila ada kesamaan nama, tempat, maupun peristiwa semua murni imajinasi penulis.

*Penulis memutuskan memulai cerita ini dari awal agar lebih teruntut dan terencana. Doakan penulis semoga bisa konsisten dalam menulis.

Terakhir,
Pesan untuk reader's,
Jaga kesehatan, dekatkan diri pada Tuhan, dan selalu ingat kebahagiaan.

Terima kasih :')

Selamat menyambut bulan suci Ramadhan bagi yang menjalaninya :')

LONELYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang