21 • Twenty-one | Love And Affection

144 13 0
                                        

Aku memalingkan wajahku dari lelaki di hadapanku sembari mengatupkan bibirku kuat-kuat.

"Kenapa kamu mau bahas ini lagi?" Dia kembali bertanya padaku untuk kesekian kalinya.

"Kamu tau, Ly. Semua orang tidak pernah membahasnya lagi. Semuanya terlalu membingungkan dan menyakitkan," kataku.

"Lalu kamu maunya memang bagaimana? Keluargamu sengaja tidak membahasnya karena tidak ingin kamu semakin merasa bersalah," cetus Ally.

Aku menoleh pada lelaki itu.

"Akan lebih baik jika mereka membahasnya. Aku bahkan berpikir lebih baik jika mereka membenciku seumur hidup dibandingkan aku yang harus terus merasa didiamkan setiap hari."

Ally terdiam. Dia tidak bisa menyanggah ucapanku lagi.

"Kenapa harus aku yang merasa ditinggalkan berkali-kali? Kenapa harus aku, Ly?" ucapku dengan putus asa.

Ya, aku memang sudah putus asa.

"Karena Tuhan tau kamu mampu, Kei." Ally memberi jeda ucapannya.

"Juga agar kamu bisa lebih menghargai keberadaan seseorang di hidupmu, Kei," lanjut Ally.

Dia memegang kedua tanganku dengan erat, seperti ingin menguatkan aku.

"Kamu sudah sangat hebat bisa bertahan sendirian sampai sekarang, Kei. Untuk hari-hari selanjutnya, aku tidak akan membiarkan kamu berjuang sendirian lagi," ujar Ally.

Kata-katanya memang membuatku lebih tenang dari sebelumnya. Namun belum sampai membuat aku melupakan masalah-masalah ku.

"Kei, ingat. Bukan hanya kamu satu-satunya manusia yang punya masalah. Semua orang punya masalah hidupnya masing-masing," kata Ally. Dia menatapku dengan serius.

"Jangan pula merasa masalah yang kamu hadapi adalah masalah terberat dari setiap masalah yang dijalani manusia di dunia ini." Ally melanjutkan perkataannya.

"Aku tau, semua ini berat. Kehilangan orang terdekat secara berturut-turut." Ally menjeda kalimatnya.

"Tapi di sini ada aku. Aku siap untuk mendengarkan semua rasa yang kamu rasakan. Ada kalanya segala sesuatu lebih baik dibicarakan dibandingkan dipendam sendirian," lanjut Ally.

Aku menunduk. Menatap kedua tanganku yang digenggamnya dengan erat.

Benarkah ini nyata? Sekarang aku memiliki seseorang yang mencintaiku dengan tulus.

Aku beralih menatap wajah lelaki itu.

"Apa sebenarnya yang masih belum bisa kamu relakan, Kei?" tanyanya.

Aku mengambil nafas lalu menghembuskannya pelan-pelan.

Kali ini, aku tidak ingin sendirian lagi. Setelah beberapa tahun terakhir aku mencoba menyelesaikan semua ini sendirian. Namun tidak juga menjumpai titik temu.

Mungkin ini saatnya aku membagi masalahku pada orang lain. Pada lelaki di hadapanku sekarang yang tulus ingin mendengarkan aku.

Seperti dulu.

"Kamu tau bagaimana kejadian sebenarnya kematian Alice?" tanyaku padanya.

Ally menggeleng. "Tidak pernah aku mendengar kejadian sebenarnya."

Aku menggigit bibirku. Merasa gugup. Ini ternyata tidak mudah.

"Sebentar." Ally menjeda.

"Aku hanya ingin mengingatkan kalau setiap yang terjadi pada Alice, itu semua bukan kesalahan kamu. Itu semua murni kecelakaan," ujarnya.

LONELYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang