25 • Twenty-one | Realize

127 8 0
                                        

Aku menggenggam tas selempang kecil yang ku pakai dengan erat sambil menggigit bibir bawahku.

Hatiku merasakan cemas yang berlebihan membuat kakiku tertahan untuk melangkah.

"Kei? Kenapa diam di situ? Ayo masuk," ajak Ally.

Aku balas menatapnya. Haruskah aku benar-benar masuk?

Ally yang sudah melangkah lebih dulu di depanku kembali menghampiriku.

"Ada apa, Kei?" tanyanya.

"Um, Aku tiba-tiba ada urusan mendadak. Aku harus pulang," jawabku.

Ally menatapku dengan tatapan yang lagi-lagi sulit aku artikan.

"Kei," panggilnya sambil meraih tanganku.

"Apa ini semua karena Saki?"

Aku tidak mampu menjawab. Kata-kata Ally benar-benar tepat sasaran. Bagaimana lelaki itu bisa tau?

"Sebenarnya ada apa antara kamu dengan Saki?" tanyanya lagi.

Sungguh aku benar-benar tidak mampu menjelaskannya di sini.

"Bukankah awalnya kalian akur? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya sekali lagi.

Aku menghela nafas. Sebenarnya jika dipikir-pikir, semua ini bukan salah Saki. Kenapa juga aku menghindar sampai segitunya pada Saki?

Tetapi aku benar-benar tidak ingin menjelaskan apapun pada Saki.

Aku menatap Ally tanpa berbicara satu katapun.

"Jika ada masalah, kenapa tidak diselesaikan? Untuk apa terus lari, Kei?"

Ally benar. Apa salah lelaki itu jika ia ingin tau?

Apa salahnya jika Saki ingin meminta penjelasan hubungan antara aku dengan kakaknya? Sekalipun sebenarnya bukan aku kekasih kakaknya.

Tidak ada gunanya juga aku terus berlari. Aku justru semakin merasa tidak tenang.

Hal ini justru membuat pikiranku kalut hingga tidak mampu menjelaskan apapun.

Semuanya butuh penjelasan.

"Aku akan membantu jika kamu ingin menjelaskannya padaku, Kei." Ally menggenggam tanganku sambil menatapku penuh harap.

Aku terdiam.

Haruskah aku menjelaskan semuanya lagi?

Katanya, masa lalu patut dilupakan. Tetapi kenapa aku justru harus mengingat kembali masa lalu yang aku ingin lupakan.

"Masa lalu yang tidak selesai memang harus diselesaikan, Kei. Supaya tidak terus menghantui pikiranmu di masa depan," tutur Ally.

Baiklah.

Aku harus menjelaskan semuanya. Supaya selesai.

Agar semuanya selesai.

"Kamu ingin membicarakannya?" tanya Ally lagi.

Aku mengangguk pelan.

"Oke, kita ke kafe lain dulu. Setelah itu, kita kembali ke sini."

Aku kembali mengangguk, mengiyakannya.

***

"Kakaknya Saki adalah kekasih Alice. Namanya Saka," ucapku pada Ally mengawali pembicaraan kami.

Kedua alis Ally nampak terangkat sedikit. Ia sepertinya terkejut mendengarnya. Tetapi kemudian dia kembali mendengarkan ucapanku dengan baik-baik.

LONELYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang