Aku memperhatikan lelaki di sebelahku. Ia tengah sibuk mengurus keran air kamar mandiku yang rusak.
Aku mengulum senyum. Dia memang selalu bisa diandalkan.
Keringat terlihat mengucur di dahinya.
"Aku rasa ini akan melelahkan. Lebih baik kita memanggil ahlinya," kataku.
Dia menoleh. Ia kemudian terkekeh dan berucap, "ah, tidak-tidak. Aku bisa mengurus ini. Kamu tenang aja."
Senyumku makin melebar. Dasar lelaki ini. Gengsinya tinggi sekali.
"Aku akan membuat minuman untuk kamu. Kamu pasti haus ketika selesai nanti."
Dia mengangguk.
Aku berjalan meninggalkan dia yang terus berusaha membenarkan keran airku.
Aku melangkah menuju dapur. Membuatkannya minuman sebentar lalu hal selanjutnya yang aku lakukan itu ....
Melamun.
"Sudah aku duga ini akan terjadi. Kamu tidak kembali lagi itu berarti kamu sedang melamun di sini," kata lelaki itu, mengagetkan aku.
Aku mengerjapkan mataku. Kemudian membalas perkataannya hanya dengan tersenyum.
Dia mengacak pelan rambutku. Kemudian meraih gelas minuman dihadapan ku.
"Sudah selesai?" tanyaku.
Dia kemudian mengangguk.
"Hebat!" seruku.
Setelah meneguk habis minuman di dalam gelas itu, ia baru menjawab.
"Kan sudah aku bilang. Aku bisa menanganinya," ucapnya dengan bangga.
Aku menanggapinya dengan anggukan kepala. Yang dia bilang itu benar kok. Tidak salah. Aku mengakuinya.
"Kamu hari ini ada kesibukan?" tanyaku padanya.
Dia nampak berpikir sejenak, kemudian menggeleng. "Ada apa memangnya?"
"Aku ingin berkunjung ke suatu tempat. Mau pergi bersamaku?" ajakku
Dia langsung menganggukkan kepalanya. Lalu berkata, "tentu saja."
Aku tersenyum bahagia.
"Kalau begitu, aku harus siap-siap," ujarku.
"Aku akan menunggu di sini. Setelah kamu siap, kita langsung berangkat."
Aku mengerutkan kening. "Kamu tidak berniat mandi atau mengganti baju dulu? Kamu basah karena keringat sejak tadi."
Dia nampak baru menyadari itu. Ia terkekeh.
"Oh iya. Kalau begitu aku pulang sebentar lalu kembali ke sini."
Aku mengangguk mengiyakan.
Lelaki itu bangkit dari duduknya. Mengacak rambutku sebentar.
"Aku akan kembali," pamitnya. Ia lalu pergi meninggalkanku.
Aku terkekeh menatap punggungnya yang kian menjauh. Rumahnya tidak jauh dari sini. Jika dia tidak kembali pun, aku akan langsung menghampirinya ke rumahnya.
Aku harus bersiap-siap. Tidak lama lagi aku akan bertemu seseorang yang ingin sekali aku temui.
***
Aku menatap dengan kagum sekelilingku. Sudah lama sekali tidak kembali ke sini. Semuanya berubah. Setiap inci, setiap sisi. Semuanya menjadi berkali lipat lebih bagus.
"Kamu kenapa senyum-senyum gitu?" tanya lelaki dihadapan ku itu.
Aku beralih menatapnya. Masih dengan senyum kagum.
"Sudah lama sekali aku tidak kembali ke sini. Semuanya berubah. Aku pikir semuanya masih akan sama," tuturku.
Dia terkekeh. Kemudian bertanya, "jadi ini tempat kamu bekerja ketika dulu masih sekolah?"
Aku mengangguk. "Dulu sih sudah bagus. Tetapi sekarang berkali lipat lebih bagus," kataku.
Lelaki itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kei?" panggil seseorang.
Aku menoleh. Senyum di wajahku menjadi semakin lebar ketika menemukan Kak Junhan berjalan menghampiriku dengan senyum di wajahnya.
"Jadi Kak Junhan dan Kak Minsoo udah nikah? Lalu Kak Minsoo sudah punya anak?" tanyaku lagi setelah mendengar cerita dari Kak Junhan.
Kak Junhan mengangguk.
"Kakak enggak nyangka bisa ketemu kamu lagi. Kakak kira kamu benar-benar menghilang gitu aja bagai ditelan bumi," ucap Kak Junhan.
Aku tersenyum.
Dalam hati, rasanya benar-benar menyesal berhenti begitu saja tanpa memberitahu. Pasti ketiga putra Adiyasha itu mencari aku.
"Maaf yah, Kak Junhan. Aku enggak sempat mengabari."
Kak Junhan mengangguk. "Kakak tau, itu pasti berat banget buat kamu kehilangan dua orang tersayang sekaligus," katanya.
Aku tertegun. "Dari mana Kakak tau?" tanyaku.
"Kamu kira kami bertiga enggak bakal nyari kamu. Pergi gitu aja tanpa bicara apa-apa."
Bukan, itu bukan jawaban dari Kak Junhan. Aku menoleh ke arah pemilik suara.
"Kak Minsoo?"
Lelaki itu terlihat berjalan menghampiri kami.
"Kami semua mencari kamu, Kei. Tapi syukurlah ternyata hari ini kita bisa bertemu lagi," ujarnya.
Aku tersenyum bahagia. Bersyukur karena Kak Junhan maupun Kak Minsoo tidak marah padaku.
"Kamu bersyukur bisa mendapatkan, Kei. Dia sebenarnya anak yang baik dan pekerja keras," kata Kak Minsoo pada lelaki dihadapan ku.
Lelaki itu tersenyum. "Aku tau, Kak."
Lelaki itu menoleh padaku.
Mendengar obrolan mereka, pipiku bersemu.
"Aku senang kamu bisa kembali ke sini dan tersenyum seperti ini," kata Kak Junhan.
"Aku juga senang bisa kembali ke tempat ini," ucapku.
"Kalau begitu kami kembali bekerja yah?" pamit Kak Minsoo. Kak Junhan ikut bangkit dari duduknya.
Kami berdua mengangguk. Mereka kemudian berjalan meninggalkan kami.
"Jadi?" tanya lelaki di hadapanku itu.
"Jadi?" Aku bertanya balik.
"Jadi apa?" desaknya.
Aku terkekeh. "Jadi, aku senang ada di sini. Terlebih bersamamu," kataku.
Dia tersenyum. "Aku masih belum terbiasa dengan ucapan manis kamu meski berusaha dibiasakan," ujarnya.
Aku kembali terkekeh. "Tentu saja. Ini tidak mudah."
Lelaki itu mengacak rambutku. "Aku ikut senang," ucapnya.
~•~
KAMU SEDANG MEMBACA
LONELY
Ficção AdolescenteKetika seluruh dunia tidak peduli pada lukaku dan ketika dunia berpihak pada sang durjana, aku terdiam. "Kenapa?" tanyanya. Karena itu hanya khayalanku. Aku yang merasa terlalu baik. Saat semua hal adalah kejahatan dimataku. Saat aku menjadi memb...
